Sukses

Sigi: Berburu Celeng di Tanah Priangan

Liputan6.com, Bandung - Berburu celeng alias babi hutan, dilakukan masyarakat di salah satu desa di Jawa Barat. Untuk mengendus pergerakan celeng mereka menggerakkan anjing-anjing.

Saat bergerak menuju kawasan yang kerap dijumpai babi hutan, jerat perangkap disiapkan. Lilitan tali tambang yang menyerupai bentuk kerucut dipasang di setiap ruas antarpohon.

Tujuannya agar gerombolan babi hutan masuk perangkap. Perburuan babi hutan dimulai. Puluhan anjing pemburu dilepas untuk melacak gerombolan babi hutan.

Tanda-tanda kehadiran babi hutan mulai terendus. Tak hanya satu, jejak lainnya pun bermunculan. Dari kejauhan suara jerit babi hutan terdengar, mendorong kami bergerak.

Namun ternyata perangkap yang telah disiapkan gagal untuk bisa menjerat babi hutan. Setelah pindah ke lokasi lain dan perangkap kembali digelar, kali ini kawanan babi hutan tidak bisa berkutik.

Babi hutan berhasil ditangkap, tapi ternyata babi hutan itu telah dipesan.

Perburuan babi hutan bukan hal baru bagi masyarakat setempat. Selain membasmi hama yang merusak hasil perkebunan warga, kegiatan ini juga mendatangkan pundi-pundi yang lumayan menggiurkan.

Ternyata babi hutan hidup dibawa ke kota untuk melawan jenis anjing petarung dan pemburu.

Dari hasil berbincang dengan pelaku tarung bagong ada yang memanfaatkan matinya babi hutan, yaitu pengepul babi mati. Babi mati ini dibeli sang pengepul.

Sang pengepul lalu pergi ke salah satu rumah pelanggannya, kemudian terjadilah transaksi jual beli. Pasar tradisional menjadi lapak terakhir perjalanan daging babi hutan ini.

Mengantisipasi peredaran daging celeng, Dinas Perindustrian dan Perdagangan rutin memonitor ke pasar-pasar.

Simak penelusuran selengkapnya dalam tayangan Sigi SCTV edisi Sabtu (30/7/2016) di bawah ini:

 

 

Artikel Selanjutnya
Petani Vs Babi Hutan Tak Mempan Diracun Bertarung di Ladang
Artikel Selanjutnya
Jelajah Pagi dan Pesona Hutan Alam Tersisa di Pulau Jawa