Sukses

Sigi: Sinabung, Derita Tak Kunjung Usai

Liputan6.com, Karo - Bergembira, bermain bersama, seperti layaknya anak-anak yang lain, bocah-bocah di kawasan Korpri Berastagi tampak mengisi waktu mereka. Di balik keceriaan itu, ternyata sudah setahun bocah itu tinggal di pengungsian.

Hal ini karena desa tempat mereka tinggal, Desa Kuta Gugung dan Lau Kawar, sudah tak bisa ditempatkan pascaletusan Gunung Api Sinabung.

Suka duka mereka lewati bersama. Makan malam pun jadi ajang yang ditunggu-tunggu. Meski makan dengan menu ala kadarnya, tapi terlihat mereka sangat menikmati makan beramai-ramai. Tertib, tak ada yang saling rebutan.

Tak ada pengawasan dari orangtua. Hanya ada beberapa orang dewasa yang menemani mereka belajar hidup mandiri.

Saat anak-anak sebaya hidup mandiri bersama orangtua, mereka harus menyesuaikan diri melakukan semua aktivitas tanpa pengawasan orangtua. Anak-anak itu terpaksa berpisah dengan orangtuanya yang berladang mencari nafkah dan hanya kembali ke pengungsian satu kali dalam seminggu.

Desa Kuta Gugung termasuk zona merah atau daerah berbahaya. Letaknya hanya lima kilometer dari Gunung Sinabung. Selain Desa Kuta Gugung, ada pula Desa Tiga Pancur yang masuk dalam zona bahaya erupsi Sinabung.

Tentunya hidup di pengungsian bukanlah pilihan warga yang menjadi korban. Namun apa daya, bahaya erupsi sewaktu-waktu bisa mengancam nyawa.

Sementara itu, situasi perbedaan dan kontras ada di salah satu pengungsian yang terletak di daerah Kabanjahe. Seluruh tenda kosong ditinggal oleh para pengungsinya.

Hanya barang-barang tertentu yang ditinggalkan di tenda. Sebab, mereka sewaktu-waktu kembali lagi ke penampungan jika Gunung Sinabung meletus.

Keadaan di pengungsian yang banyak ditinggalkan pengungsi membuat Tim Sigi memutuskan datang ke desa zona merah, Desa Tiga Pancur. Di sini tak terlihat sama sekali ancaman dari Gunung Sinabung. Bahkan anak-anak dapat bermain dengan gembira tanpa rasa takut.

Kebutuhan hidup jua lah yang merenggut sebagian korban Sinabung. Cahaya Beru Tarigan misalnya, ia menghembuskan nafas terakhirnya, setelah menjadi korban awan panas erupsi Sinabung.

Saat itu, Beru sedang mengelola ladang di Desa Gamber yang masuk zona merah. Ia kemudian mengalami gagal nafas dan infeksi luka bakar di tubuhnya.

Keganasan erupsi Sinabung, berupa lahar dingin, pada Mei lalu juga menerjang Desa Kutam Baru, Kecamatan Tiga Reket. Kejadian ini menyebabkan satu warga tewas dan satu lainnya hilang.

Sementara itu, Desa Mardinding menjadi salah satu desa terdekat dari Gunung Sinabung. Desa ini layaknya desa mati dan tak lagi berpenghuni.

Sejak setahun lalu, semua warga turun gunung untuk mengungsi. Ini karena desa mereka terkepung tiga jalur lahar dingin Gunung Sinabung.

Salah satu bekas jalur lahar dingin yang mengepung Desa Mardinding terdiri dari material bebatuan yang besar, pohon-pohon tumbang dan juga banjir lahar dingin. Hal ini membuat salah satu akses jalan mereka terputus.

Bencana yang sudah berulang kali terjadi itu membuat warga Desa Mardinding yang tinggal di pengungsian berembuk dan mencari bantuan. Seorang perwakilan dari badan dunia UNDP kemudian mengajarkan warga untuk membuat peta mitigasi bencana.

Peta ini nantinya akan dilengkapi dengan titik koordinat jalur bahaya. Sehingga akan bermanfaat untuk mengetahui kawasan-kawasan yang dilalui lahar hasil erupsi.

Dengan kondisi Gunung Sinabung yang masih aktif erupsi, ini menjadi pekerjaan yang menantang bahaya. Satu niatan warga, dengan hadirnya peta mitigasi bencana itu bisa mengurangi jatuhnya korban jiwa seminimal mungkin.

Simak penelusuran selengkapnya dalam tayangan Sigi SCTV edisi Sabtu (23/7/2016) di bawah ini:

Artikel Selanjutnya
12 Wisatawan yang Tersambar Petir di Pabangbon Bogor Dirawat
Artikel Selanjutnya
Wisata Berujung Duka di Pabangbon Bogor