Sukses

Nyanyian KTP Bodong Mantan TemanAhok

Liputan6.com, Jakarta - Baru saja menghela napas karena berhasil memenuhi syarat pengajuan calon independen, TemanAhok kembali menghadapi ujian. Tes kali ini berasal dari perkumpulan mantan TemanAhok.

Mereka menuduh TemanAhok membuat kebohongan publik. Seorang mantan TemanAhok, Paulus Romindo yang merupakan penanggung jawab (PJ) KTP di Kelurahan Kamal itu mengaku bukan relawan, melainkan bekerja untuk TemanAhok dari Juni 2015 hingga Mei 2016.

Dengan berapi-api, Paulus menunjukkan surat tugas atau surat kontrak kerjanya. Sejak dikontrak, Paulus dan 152 PJ lain wajib menyetor 140 KTP tiap Minggu. Bila terpenuhi, mereka mendapatkan bayaran Rp 500 ribu per minggu.

Lima mantan TemanAhok itu juga membawa kwitansi pembayaran, surat kontrak, dan fasilitas yang diberikan TemanAhok.

"Kami bukan relawan, kami dikontrak, ada SK dan dibayar. Dapat seragam, per minggu 140 KTP honor Rp 500 ribu sampai minggu ketiga. Minggu keempat ditambah Rp 500 ribu. Sebulan Rp 2,5 juta," ujar Paulus dalam jumpa pers di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (22/6/2016).

Dia mengaku bergabung ke TemanAhok seperti bekerja di perusahaan. Selama hampir setahun bekerja harus ada target yang dipenuhi.

Karena tak ingin Rp 500 ribu hilang apabila target 140 KTP tak terpenuhi, sebagian besar dari 152 PJ di Jakarta itu memanipulasi KTP dengan cara barter dengan kelurahan lain. Ia bahkan menyebut tidak ada data KTP yang benar.

"Ada barter KTP misal, Pinang Ranti sudah setor 140. Nah abis itu, dibarter bulan depan dengan kelurahan lain misal Sukabumi Selatan. Verifikasi tidak maksimal. Mereka random telepon, cuma 10-15. Itu yang ngajarin atasan kita. Kita susah karena ada," jelas Paulus.

Sekumpulan eks TemanAhok yang menyebut bahwa raihan 1 juta KTP sebagai kebohongan mengklaim kelompok mereka bukan barisan sakit hati karena dipecat oleh pengurus pusat TemanAhok.

"Kami bukan sakit hati, kami hanya tak ingin TemanAhok terus melakukan pembohongan publik," ujar salah satu mantan TemanAhok Richard Soekarno.

Lima mantan TemanAhok yang memberi keterangan pers terkait hal tersebut masih terdaftar sebagai penanggung jawab di situs resmi TemanAhok. Mereka baru saja dipecat dari TemanAhok pada Mei 2016. Richard mengakui jika dipecat karena ketahuan mengumpulkan KTP bodong.

"Kenapa baru sekarang kami bongkar karena kami baru tahu bahwa permainan ini sudah dari atasan kami, para korpos (koordinator pos). Kami melakukan konferensi pers ini tak ada dukungan dari siapa pun, kami patungan," ujar Richard.

Richard menjelaskan terdapat empat alasan yang mendorong mereka bersuara. Pertama, mereka menganggap TemanAhok tidak transparan dalam keuangan. Kedua, TemanAhok dianggap menyampaikan kebohongan terkait 1 juta KTP.

Ketiga, para mantan TemanAhok takut tersangkut korupsi dengan adanya tudingan uang TemanAhok berasal dari pengembang.

"Alasan keempat hati nurani kami menyampaikan kebenaran ini sebagai wujud permintaan maaf kepada masyarakat Jakarta," ucap dia.

Alasan lain, lanjut Richard, adalah karena mereka tak ingin citra Ahok yang bersih ternoda dengan ulah TemanAhok. "Menurut saya, kasihan Pak Ahok. Pak Ahok nggak tahu kebohongan publik ini," ujar Richard.

1 dari 3 halaman

Tudingan Dongeng

Pada Minggu, 19 Juni 2016, relawan TemanAhok menyatakan berhasil mengumpulkan 1.024.632 Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk memberi jalan Ahok maju dalam Pilkada DKI 2017 lewat jalur independen.

TemanAhok menyatakan tetap akan mendukung meski nantinya Ahok maju melalui partai politik di Pilkada DKI Jakarta tahun 2017. Salah satu pendiri TemanAhok, Amalia Ayuningtyas, mengatakan hal tersebut karena TemanAhok merupakan gerakan sosial, bukan politik.

"TemanAhok tidak akan pernah meninggalkan Ahok, untuk alasan apa pun. Tidak ada TemanAhok, tanpa Ahok. TemanAhok bergerak atas nama gerakan sosial, bukan gerakan politik," kata Amalia saat membacakan deklarasi dukungan untuk Ahok di Markas TemanAhok, Pejaten, Jakarta Selatan, Minggu 19 Juni 2016.

Amalia mengatakan, selama ini TemanAhok berjuang atas dasar kepercayaan terhadap mantan Bupati Belitung Timur itu untuk memimpin kembali Ibu Kota pada periode 2017-2022. Amalia juga menyatakan jumlah pemasukan perkumpulan pendukung Ahok itu mencapai Rp 5 miliar. Dana itu merupakan hasil penjualan merchandise hingga Desember 2015.

Namun, Ketua DPD Partai Gerindra DKI Jakarta Mohamad Taufik meragukannya. Dia mengaku tidak percaya dengan klaim TemanAhok tersebut. Wakil Ketua DPRD DKI itu menyebutnya sebagai dongeng.

"Sudahlah cuma cerita. Cuma dongeng itu," ujar Taufik di Gedung DPRD DKI, Jakarta, Selasa (21/6/2016).

Dia pun mempertanyakan kebenaran adanya orang-orang yang membeli merchandise itu.

"Dagang di mana? Yang beli siapa? Yang beli yang sejuta orang itu? Sudah ngumpulin KTP, dia suruh beli juga? Jauh dah yang gitu-gitu mah. Enggak usah ngibul," ujar Taufik.

Dia pun tak percaya dengan klaim 1 juta Kartu Tanda Penduduk (KTP) terkumpul untuk Ahok. Terlebih dengan pengalamannya sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta.

"Kan KTP, bukan pemilik. Saya kan dulu pernah jadi Ketua KPU. Verifikasi ratusan ribu, yang sah cuma 7.000-10.000. Makanya (saat verifikasi) harus ketemu orangnya. Tidak dikuasakan, tidak bisa diwakilkan," ujar Taufik.

Karena itu, untuk mengawal verifikasi KTP, Taufik menyebut pihaknya akan menempatkan satu petugas di tiap RW.

"Sudah bilang ke Ketua KPU, saya minta izin supaya ada pengawasan saat verifikasi KTP. Satu RW satu orang. KPU sudah setuju. Kader asli Gerindra untuk ngawasi petugas," ucap Taufik.

2 dari 3 halaman

Politisasi Sakit Hati

Relawan TemanAhok tak tinggal diam. Amalia mengakui jika kelima mantan relawan TemanAhok yang bersuara sumbang pernah bergabung dengan TemanAhok.

Tapi, tiga dari lima orang itu sudah dikeluarkan cukup lama lantaran terbukti mengumpulkan KTP bodong. Sementara, dua lainnya baru dikeluarkan dari tim TemanAhok tadi pagi.

"Yang dua lagi baru kita keluarkan tadi pagi. Mereka juga sudah pernah kami beri SP (Surat Peringatan) juga karena mengumpulkan KTP bermasalah," papar dia.

Sementara salah seorang pendiri TemanAhok, Singgih Widiyastono mengatakan, kelima orang yang melakukan konpers pagi tadi tak banyak tahu soal TemanAhok. "Mereka tidak banyak tahu di internal kami, karena bukan pengurus inti. Mereka juga ketahuan melanggar dan tidak tahu perkembangan," ucap Singgih.

Singgih mencurigai kelima mantan TemanAhok merupakan barisan sakit hati yang dipolitisasi kelompok tertentu. Hal itu terbukti dari perkataan salah seorang politikus yang menyebutkan bakal ada berita besar soal TemanAhok dalam 14 jam ke depan, pada Selasa malam 21 Juni 2016. Namun, Singgih tak menyebut siapa politisi itu.

"Semalam saya kutip pernyataan dari politisi di DPR, dia bilang bahwa dalam waktu 14 jam kedepan akan ada kabar baru dari TemanAhok," ucap Singgih.

Dan terbukti, sekitar pukul 10.00 WIB tadi pagi, sejumlah orang yang mengaku sebagai mantan relawan TemanAhok menggelar konpers dengan tema 'Satu Juta KTP Fakta atau Dusta? TemanAhok Relawan atau Karyawan? Dan Uang yang Dihabiskan Rp 2,5 Miliar atau Rp 12 Miliar?'.

Singgih curiga, pernyataan lima mantan TemanAhok itu ditunggangi kepentingan kelompok tertentu. Apalagi, ada dua relawan TemanAhok yang mengaku sempat diintimidasi sebuah ormas yang diindikasi terafiliasi salah satu partai politik. Lagi-lagi, Singgih tak menyebut identitas ormas itu.

"Tadi pagi sebelum ada konpers, dua orang koordinator posko tergopoh-gopoh ke markas ketemu saya dan Amalia. Dia mengaku terima ancaman dari ormas yang dulu jalan bareng ketika Jokowi-Ahok. Ormas itu di bawah parpol," kata dia.

Menurut relawan itu, kata Singgih, memang ada sebuah gerakan dari ormas untuk mengumpulkan orang yang tersingkir dari TemanAhok dan memfasilitasi untuk membuat keterangan pers. Para eks TemanAhok itu kemudian mengeluarkan keterangan yang sebelumnya telah dibuat pihak ormas tersebut.

"Jadi koordinator posko ditelpon dua hari lalu untuk beri keterangan, untuk menyebutkan dana anggaran yang diterima dari TemanAhok. Mereka harus datang menggunakan seragam TemanAhok. Kami akui itu seragam kami untuk rekrut KTP," jelas Singgih.

Namun, dua orang tersebut memilih kabur dari lokasi konpers yang ada di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Dua relawan itu mencari perlindungan di Markas TemanAhok yang ada di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

"Tadi dia baru saja ditelpon lagi, bahwa rumahnya sudah ditunggu dan diancam. Tindakan intimidasi ini sangat kami sayangkan," ujar Singgih.

"Jadi intinya, tadi pagi konpers itu bukan dari TemanAhok, tapi barisan sakit hati," pungkas dia.

20 Komentar

Video Populer

Foto Populer