Sukses

Pramono Anung: Indonesia Harus Diubah Jadi Bangsa Petarung

Liputan6.com, Jakarta - Selain deregulasi dan infrastruktur, masalah sumber daya manusia menjadi satu prioritas yang akan diperbaiki pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla atau Jokowi-JK. Masalah SDM menjadi salah satu bagian penting dari revolusi mental yang dicanangkan Jokowi, terutama menyiapkan ataupun melahirkan generasi tangguh di masa depan.

"Ini menjadi persoalan tersendiri karena kita melihat bahwa sebenarnya bangsa kita bisa tertib dan menganut sistem yang baik," ucap Sekretaris Kabinet Pramono Anung saat berbincang dengan Liputan6.com dan SCTV di kantornya, Jakarta, Kamis, 9 Juni 2016.

Pramono mencontohkan saat sebagian orang Indonesia hendak pergi ke Singapura. Ketika di Indonesia, mereka masuk di ruang terbuka masih merokok, membuang sampah sembarangan, bahkan budaya antrean tidak ada.

"Tapi begitu turun di Singapura, dia menjadi manusia yang lain. Dia menjadi tertib dan mau mengantre. Buang sampah juga cari tempatnya dan sebagainya," ujar politikus senior PDIP tersebut.

Ini berarti, menurut Pramono, ada yang salah. Yakni, kesalahan sistem yang dibangun. "Maka dari itu di awal saat pemerintahan ini dibentuk dan apa yang sudah disampaikan Jokowi-JK saat kampanye (Pilpres 2014) adalah mengubah karakter metal bangsa."

Pramono pun menjelaskan lebih gamblang. "Bangsa ini (Indonesia) harus diubah dan diciptakan menjadi bangsa petarung. Agar bisa memenangkan petarungan di kemudian hari."

Mantan Sekretaris Jenderal PDIP ini menilai, bangsa Indonesia bila tidak punya pesaing atau kompetitor, maka bakal kurang gairah. "Tapi begitu ada persaingan, bisa menciptakan suatu kompetisi. Dan kita bisa menjadi bangsa yang lebih kuat dan tangguh."

Sosok Jokowi

Adapun Jokowi di mata Pramono adalah sosok orang yang gemar bekerja. Hal itu dilihat dari hobinya blusukan dari satu provinsi ke provinsi lain untuk meninjau proyek-proyek yang dijalankan pemerintah.

Bahkan, saat kunjungan ke luar negeri sekalipun, hampir tidak ada waktu untuk sekadar pelesiran atau bersantai. Waktu Jokowi sepenuhnya untuk pertemuan dengan para petinggi atau tokoh-tokoh penting di negara tersebut.

"Kalau ke luar negeri, jangan bayangkan lihat toko atau apa. Enggak pernah. Jam 9 pagi mulai dan masuk kamar jam 10 malam," tutur Pramono Anung.

Selama hampir satu tahun menjadi pejabat pemerintah, Pramono dapat menyimpulkan jargon kerja yang sering diumbar, benar-benar dilakukan Jokowi. "Proses waktu ke waktu, saya lihat beliau adalah presiden kerja, kerja, dan kerja," ucap Pramono.

Presiden Jokowi (kedua kiri) berbincang dengan Seskab Pramono Anung sebelum rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (15/3). Rapat tersebut membahas mengenai penanggulangan aksi penyelundupan di Indonesia (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Pramono melanjutkan, usai pulang dari luar negeri, fokus Jokowi langsung ingin kembali bekerja. Sang presiden tidak mau buang waktu dengan beristirahat.

"Begitu pulang dari mana pun, dari luar negeri, begitu turun dari pesawat, yang ditanya pertama kali, besok rapat apa, besok apa yang harus diputuskan. Itu menunjukkan beliau presiden kerja," politikus berusia 53 tahun itu menegaskan.

Adapun Pramono Anung selama ini dikenal sebagai politikus partai. Walaupun mempunyai latar belakang politikus, menurut Pramono, selaku Sekretaris Kabinet ia tak ingin menimbulkan konflik kepentingan di pemerintahan.

"Dan teman-teman bisa melihat apa yang saya kerjakan, benar-benar untuk negara. Karena saya pembantu presiden, maka pemerintah diutamakan," ujar Pramono.

Pramono membandingkan saat dirinya menjadi politikus dan anggota DPR. "Ketika (dahulu) menjadi politisi, tahu sedikit tapi bisa ngomong banyak."

Namun saat ini berbeda. "Ketika sekarang di sini (pemerintahan) hampir semua tahu, tapi malah enggak ngomong, harus membatasi diri," tutur mantan Wakil Ketua DPR RI tersebut.

Filosofi Gowes Sepeda

Sementara di tengah kesibukan mendampingi kegiatan kepresidenan, Seskab Pramono Anung masih menyempatkan diri untuk berolahraga demi menjaga kebugaran tubuhnya. Satu di antara olahraga yang ia gemari adalah bersepeda.

"Kalau Minggu, jika tidak menemani Presiden, saya masih bisa gowes minimum 70 kilometer. Kurang lebih dari rumah putar SCBD 5 kali, lalu ke Pantai Indah Kapuk, terus pulang. Bolak-balik gowes," Pramono membeberkan.

"Juga pernah ke Bogor, kurang lebih 124 kilometer. Itu biasa sama teman dekat yang hobi sepeda," dia menambahkan.

Pramono Anung acungkan jempol saat pelantikan dirinya sebagai Sekretaris Kabinet di Istana Negara, Jakarta, Rabu (12/8/2015). Presiden Jokowi  me-reshuffle sejumlah menteri Kabinet Kerja sekaligus melantik menteri baru. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Berbicara tentang hobinya itu, Pramono menuturkan ada filosofi yang tersimpan dari bersepeda. "Ketika jalan naik ada ujungnya, jalan turun juga ada ujungnya. Ketika naik dinikmati, turun juga dinikmati, hidup ada life cycle-nya. Orang enggak selalu di atas, pasti bisa di bawah juga," ujar mantan Sekjen PDIP itu.

Berangkat dari filosofi itu, pria kelahiran Kediri, Jawa Timur ini menjelaskan, dirinya mendapat jabatan Sekretaris Kabinet tanpa lobi-lobi kepada siapa pun. Hal yang sama juga diterapkan selama meniti karier politik di PDIP.

"Saya tidak pernah minta jabatan. Kalau diberikan, saya akan bekerja sebaiknya. Saat jadi Wasekjen dan Sekjen, saya enggak lobi Bu Mega. Berada di tempat ini, saya juga enggak lobi Pak Jokowi," Pramono menegaskan.

Bagaimana penjabaran Pramono mengenai revolusi mental? Dan bagaimana pula kendala dan tantangannya? Simak selengkapnya wawancara khusus Liputan6.com dengan Sekretaris Kabinet Pramono Anung yang dipandu Djati Darma berikut ini.