Sukses

Journal: Membedah Jejaring Teror di Poso

Liputan6.com, Jakarta - Awal dekade 2000-an masih lekat di ingatan Muhammad Sambara. Memori di Kepala Dusun III Ratalemba, Desa Pasaden, Poso Pesisir, ini masih bisa menggambarkan suasana kampung ketika itu. Di awal dekade tersebut, dusun yang dikenal dengan nama Tamanjeka itu ikut bergejolak lantaran konflik antarwarga di Bumi Poso. Sambara ingat, tangis histeris dan ketakutan tampak tergambar di wajah warga. Kala itu, Poso bergeliat lantaran konflik agama membelah warga.

Lima belas tahun berlalu sejak konflik membara. Dusun Tamanjeka tak banyak berubah secara mata kasat. Tapi, kenyamanan dan keamanan sempat menjadi barang langka di kawasan kaki Gunung Biru tersebut. Sebab selepas konflik, kawasan tersebut sempat menjadi tempat persembunyian kelompok teroris paling dicari di Indonesia saat ini, yakni Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin Santoso alias Abu Wardah.

Sambara yang sudah sejak 1996 tinggal di dusun tersebut menceritakan, Kawasan Tamanjeka sebelum dekade 2000-an, adalah kawasan yang nyaman dan damai. Kondisi Tamanjeka saat Sambara pertama kali tinggal sangat aman. Penduduk wilayah tersebut kebanyakan petani yang biasa menjajakan produk pertanian mereka ke pasar yang berjarak sekitar 4,5 kilometer dari dusun.

“Dari awal saya masuk, kami turun ke Pasar, jam 2 malam, memikul bahan jualan sayuran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan itu tidak ada yang mengganggu kami,” kata Sambara kepada Liputan6.com, Selasa (5/4/2016).

Santoso, teroris Poso yang ternyata merupakan anak transmigran dari Jawa.

Kedamaian di Tamanjeka terusik untuk pertama kalinya, saat konflik. Banyak warga hidup dalam ketakutan. Mereka yang semula biasa berjualan ke pasar, harus menahan diri. Tak bisa seenaknya pergi meninggalkan rumah karena situasi bisa berubah setiap saat. Warga hidup dalam teror kekerasan selama bertahun-tahun.

Harapan hidup nyaman dan rasa lelah dengan konflik, akhirnya bisa disemai. Oase kenyamanan hadir usai konflik mereda. Lamat-lamat, warga mulai merasa aman. Kurun 2005 hingga 2010-an menjadi tahun keceriaan buat warga Tamanjeka. Warga mulai bisa beraktifitas normal seperti di akhir dekade 1990-an. Kegiatan ekonomi mereka pun kembali bergeliat.

Kini Poso aman | Via: noerdblog.wordpress.com 

Tapi, keamanan hanya menyapa sebentar. Tahun 2010, ancaman keamanan tak kasat mata, mulai hadir. Tanpa warga menyadari, wilayah perkampungan mereka disisipi kelompok militan bersenjata dengan bertameng agama.

Rabu, 25 Mei 2011, menjadi petaka. Insiden penembakan dua polisi di depan Kantor BCA di Kota Palu, Sulawesi Tengah, tak pernah disangka warga Tamanjeka berhubungan dengan mereka. Jarak 213 kilometer yang membentang dari Poso hingga Palu, rupanya bermuara dari dan ke kawasan tersebut. Aryanto Halunta, Fauzan, dan Faruq, tiga pelaku penembakkan merupakan peserta pelatihan militer yang digelar di kawasan Gunung Biru, yang berada di atas Dusun Ratalemba. Ketiga pelaku pun teridentifikasi anggota Laskar Asykari Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Cabang Poso, yang dipimpin Santoso alias Abu Wardah. “Setelah adanya kegiatan yang kami tidak memahami, dari situ lagi, kami mulai merasa tidak aman lagi,” ucap Sambara. 

1 dari 3 halaman

Menghimpun Massa dan Menebar Teror

Nama Santoso awalnya terdengar asing buat warga Tamanjeka. Maklum, Santoso memang bukan warga asli Tamanjeka. Santoso yang kini menjadi incaran nomor satu Detasemen Khusus 88 Antiteror ini awalnya hanya orang biasa di kelompok Muslim bersenjata saat konflik Poso. Andi Baso Thahir alias Ateng, salah satu rekan Santoso di kelompok tersebut, mengatakan, dirinya mengenal Santoso sebagai orang yang hanya punya kemampuan membaca peta dengan baik.

Kemampuan lain, kata Ateng, nyaris sama dengan kombatan lain dalam kelompok tersebut, yakni menembak dan merakit senjata. Kemampuan tersebut menjadi kemampuan dasar yang harus dimiliki setiap milisi saat konflik. “(Jadi) Santoso waktu itu belum menonjol,” sebut Ateng.

Pengejaran Teroris Poso (Liputan6 TV)

Insiden penembakan polisi di Palu, kata Ateng, menjadi momen yang menjadikan Santoso kembali diingat eks kombatan. Sebab, nama Santoso muncul setelah menghilang lama dari perkumpulan mereka di Tokorondo. Belakangan baru diketahui, Santoso menjadi Ketua Laskar Asykari JAT Cabang Poso sekaligus pelatih dan penanggung jawab pelatihan militer di sejumlah tempat di Poso.

Lewat JAT ini, diketahui Santoso menghimpun massa dan mempersiapkan pengikutnya. Ia mengutus anggota JAT Poso mencari peserta pelatihan dari dalam dan luar Poso. Pelatihan digelar tiga kali pada 2011 dan tiga kali pada 2012. Setelah pelatihan militer digelar dan Santoso dicari polisi, bapak lima anak itu tak menyerah. Ia bahkan punya tambahan kekuatan. Sabar Subagyo alias Abu Autad alias Daeng Koro, tokoh Darul Islam Sulawesi Selatan, bergabung dengan kelompoknya pada 2012. Tak hanya itu, alumni pelatihan Poso yang berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat, pun kembali bergabung. Kekuatan kelompok Santoso pun menjadi signifikan.

Korban tewas penembakan oleh kelompok bersenjata di Poso, Sulteng. (Liputan6.com/Dio Pratama)

Di sisi lain, polisi terus menangkap simpatisan dan anggota jaringan Santoso. Sementara warga pun tak menaruh simpati kepada kelompok Santoso. Pemicunya, warga sudah bosan hidup dalam konflik yang tak berkesudahan dan ingin hidup damai. “Sekian lama konflik berjaan di Poso, itu membuat orang semakin lama semakin dewasa dan tak mudah terprovokasi dengan label agama,” kata Ateng.

Tapi, Santoso adalah Santoso. Pengamat teroris lulusan Universitas Indonesia, Alchaidar, menyebut, Santoso punya watak keras dan membatu. Sikapnya ini yang membuat Santoso malah bertindak makin menggila lantaran kemarahannya kepada polisi yang menangkap anggota dan simpatisannya. Hal itu terbukti dengan langkah Santoso yang mencoba memprovokasi polisi dan mendeklarasikan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) sebagai kelompok militan Islam yang melawan pemerintah. 

Pasca-Baku Tembak, Polisi Buru Kelompok Bersenjata di Poso

Sejumlah aksi lain dilakukan lelaki yang bahkan tak tamat Madrasah Tsanawiah Muhammadiyah Poso ini bersama anak-anak didiknya. 8 Oktober 2012, Santoso dan kelompoknya menculik dan membunuh dua polisi. Sepekan kemudian, Santoso mendeklarasikan perang terhadap petugas kepolisian dengan mengirimkan surat terbuka atas nama MIT.

Ateng pun mengatakan, dia dan teman-teman eks kombatan sempat terenyak dengan aksi penyergapan iring-iringan Mobil Patroli Brimob yang melintas di Desa Kalora, Poso Pesisir. Aksi ini menewaskan empat Brimob dan merupakan serangan yang paling mematikan sepanjang 2012. “Di situ kejadian paling besarnya,” ujar Ateng. Selepas aksi itu, tercatat empat penculikan dan pembunuhan serta sembilan insiden baku tembak antara pihak keamanan dan kelompok Santoso terjadi. Aksi ini terjadi mulai akhir Desember 2012 hingga Februari 2016.

2 dari 3 halaman

Mencari Jaringan Santoso

Serangkaian teror yang dilakukan Santoso di Poso, tak dilakukan sendirian. Lelaki yang lahir dari keluarga transmigran dan miskin ini merekrut sejumlah orang untuk menjadi bagian kelompoknya. Kepala Badan Nasional Penggulangan Terorisme Komjen Pol Tito Karnavian mengatakan, Santoso dijadikan simbol bagi kelompok-kelompok yang selama ini melawan pemerintah. Tito yang pernah memeriksa Santoso dalam kasus perampokan mobil pada 2004, mengatakan, Santoso punya mental kuat dan petarung.

“Dia orang yang berpikiran pendek dan berani, pemukul, kira-kira begitu. Sehingga dia dijadikan simbol di Sulawesi Tengah, dan juga di luar Sulawesi Tengah,” kata Tito kepada Liputan6.com, Minggu, 3 April 2016.

Densus 88 Antiteror menggelar operasi penangkapan terhadap kelompok teroris Poso pimpinan Santoso. (Liputan6.com/Dio Pratama)

Dari 2010 hingga kini, tercatat 100-an orang pernah tergabung dalam kelompoknya. Tapi, serangkaian penangkapan dan insiden baku tembak membuat kekuatan Santoso berkurang. April 2015, anggota TNI-Polri yang tergabung dalam operasi bersandi Camar Maleo, berhasil menumpas Daeng Koro. Orang kedua terpenting dalam jaringan Santoso dan MIT.

Operasi ini pun berhasil menyisir anggota lain, memutus jaringan logistik, dan mendesak Santoso Cs ke wilayah Pegunungan Napu. Operasi Camar Maleo yang dilakukan hingga empat kali, berakhir pada Desember 2015. Operasi kemudian dilanjut dengan sandi Tinombala. Operasi lanjutan ini pun dilakukan buat terus menumpas perlawanan Santoso.

Petugas kepolisian dari Densus 88 berjaga yang diduga markas teroris di Tangerang Selatan, Banten, Kamis (28/1/2016). Penggeledahan ini merupakan pengembangan dari penangkapan terduga teroris berinisial K dan M. (Liputan6.com/Faisal R Syam)

Awal pekan kedua April 2016, Mabes Polri merilis 31 nama dalam daftar pencarian orang (DPO) terkait jaringan teror Santoso. Ke-31 DPO ini adalah orang-orang yang tersisa dari sekitar 100-an anggota yang dahulu tergabung dalam jaringan Santoso. Mereka merupakan rekrutan pelatihan militer yang digelar Santoso sejak 2011. Dari ke-31 nama itu, Santoso alias Abu Wardah, Basri alias Bagong, dan Ali Ahmad alias Ali Kalora menjadi inti sel dari jaringan teror ini. Basri dan Ali menjadi orang yang menggantikan posisi Daeng Koro, eks pentolan kelompok Santoso yang tewas diterjang peluru TNI-Polri. Tiga serangkai ini menjadi pimpinan dengan pimpinan tertinggi berada di tangan Santoso.

Dari 31 nama DPO, Basri alias Bagong, menjadi orang yang punya latar belakang paling komplet selain Santoso. Narapidana kasus pemenggalan tiga siswi SMK di Poso ini berhasil kabur saat menjalani hukuman 13 tahun penjara di Lembaga Pemasyarkatan Kelas II B Ampana, pada 19 April 2013. Tak hanya itu, Basir terlibat dalam 10 aksi kekerasan dan teror dalam kurun 2003 sampai 2007. Reputasi kejahatan inilah yang menempatkan lelaki bernama lengkap Muhammad Basri bin Baco ini sebagai wakil Santoso dalam jaringannya.

Pria yang ada di foto itu merupakan anggota lama kelompok Santoso dan sudah masuk dalam DPO Polda Sulselbar sejak 2014. (Liputan6.com/Dio Pratama)

Sementara Ali Ahmad alias Ali Kalora diketahui merupakan peserta pelatihan militer pada 2011. Kalora pun diduga terlibat dalam setiap aksi kekerasan yang dilakukan kelompok ini sepanjang 2011 hingga kini. Pengelolaan keuangan kelompok ini dilakukan oleh Muhtar aliar Kahar. Kahar tergabung dengan kelompok ini melalui pelatihan militer Maret 2011. Anggota lain yang dididik lewat pelatihan militer 2011 adalah Firman, Sucipto, Kholid. Sedangkan hasil pelatihan 2012 adalah Samil, Qatar, serta Barok, sedangkan Nae adalah peserta pelatihan 2013.

DPO lainnya diduga merupakan rekrutan baru dari kelompok ini. Mereka berasal dari sejumlah daerah termasuk dari Uighur. Sejumlah nama dalam DPO bahkan tercatat tampak dalam rekaman video pelarian pada 2014. Adapun DPO perempuan merupakan istri dari Santoso, Basri, dan Ali. Ketiga perempuan ini pun kedapatan pernah dilatih menggunakan senjata M16 milik komplotan ini. Istri Ali Kalora bahkan disebut mau dinikahi Ali lantaran punya dendam terhadap polisi yang menembak mantan suaminya dalam pemberantasan teroris di Poso.

Diperkirakan kelompok Santoso memiliki beberapa pucuk senjata organik dengan amunisinya.

Ketiga puluh satu DPO ini kini berada di Pegunungan Napu. Mereka bersembunyi di wilayah tersebut lantaran kompleks pegunungan tersebut dinilai paling aman buat bersembunyi. Hutan lebat dengan kondisi pegunungan yang sambung menyambung, jadi medan yang sulit ditaklukan petugas gabungan TNI-Polri dan menguntungkan Santoso.

Taufik Andrie, Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian yang kerap mendampingi warga Poso, menerangkan, Santoso mengandalkan medan hutan tersebut buat berlindung. Sebab, jaringannya kini sudah makin terdesak. Apalagi, kata Taufik, jaringan logistik mereka sudah diputus Operasi Camar Maleo IV. Walhasil, Santoso hanya mengandalkan pengalaman hidup di alam bebas untuk melawan petugas keamanan.

“Saya kira faktor ini yang menjadi keuntungan untuk Santoso. (Dia) Tahu betul medan, dan terbiasa naik turun gunung. Kondisi ini menyulitkan petugas untuk mengejar dan menangkap mereka sejak dua tahun terakhir,” ucap Taufik.