Sukses

Sigi Investigasi: Lika Liku Bisnis Haram Aborsi

Liputan6.com, Jakarta - Sejak beberapa tahun terakhir akses informasi semakin terbuka. Tentu ada plus minus. Plusnya, kemajuan di berbagai aspek kehidupan, dan minusnya jika tanpa filter akses informasi menimbulkan ekses tak baik.

Contohnya adalah keberadaan internet ataupun media massa lainnya, yang memberikan akses terhadap pengetahuan pergaulan bebas. Walau tak dipungkiri peran keluarga dan lingkungan juga punya pengaruh.

Dampak negatif dari pergaulan bebas salah satunya adalah lahirnya anak di luar nikah. Lebih buruk lagi, ketidaksanggupan bertanggung jawab pada sebagian pasangan muda, menyebabkan mereka mengambil tindakan ekstrem yakni aborsi.

Jumlah pelaku aborsi di kalangan muda meningkat dari tahun ke tahunberdasarkan data BKKBN. Berangkat dari kenyataan itu, tim Sigi Investigasi SCTV berupaya mencari tahu mengapa aborsi yang jadi pilihan. Seorang korban aborsi menceritakan kisahnya kepada tim Sigi.

Kisah perempuan muda, korban aborsi itu, bukan tak terbaca oleh aparat penegak hukum. Aksi penggerebekan klinik yang memfasilitasi aborsi terjadi di sejumlah lokasi di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pada Februari 2016, 7 klinik yang diduga terlibat operasi aborsi digerebek polisi, 3 klinik di antaranya terkait tindak pidana. Di ruang klinik ditemukan peralatan medis yang cukup canggih seperti alat USG dan mesin vakum diduga untuk aborsi.

Polisi menangkap 9 tersangka, 1 di antaranya dokter. Berbagai peralatan medis juga obat-obatan yang diduga media aborsi turut disita.

Selain itu polisi juga menemukan janin yang masih berupa gumpalan darah di tempat pembuangan. Sebuah mobil tinja akhirnya disewa untuk menguras septic tank, yang dicurigai sebagai tempat pembuangan hasil aborsi.

Klinik itu sudah beroperasi bertahun-tahun. Namun, tak semua warga tahu jika banyak kaum hawa yang sudah menggugurkan kandungannya di sana.

Sementara dari data yang dilansir pihak BKKBN di tahun 2014, jumlah aborsi oleh remaja putri yang berstatus pelajar cukup tinggi.

Praktik aborsi tak hanya dikenal lewat klinik aborsinya. Bahkan hanya sekadar menggunakan obat saja, aborsi bisa terjadi. Petunjuk itu muncul dari seorang perempuan yang mengaku pernah menggunakan obat aborsi.

Obatnya ternyata bisa diperoleh walau dengan sembunyi-sembunyi dan tidak dari toko-toko yang ada. Kami pun dibawa bernegosiasi ke suatu tempat.

Harganya sebutir mencapai Rp 150 ribu, padahal untuk melakukan perbuatan haram itu butuh dalam jumlah banyak. Dan Seperti melihat pembeli yang kepepet, si penjual sama sekali tak mau ditawar.

Obat sudah didapat tim Sigi, tapi pertanyaan besar muncul soal efek yang didapat, jika mengonsumsi obat penggugur kandungan itu tanpa ada aturan yang jelas. Tim Sigi pun melakukan konfirmasi langsung dengan ahlinya.

Selesai dengan pembuktian obat, kami telusuri kembali klinik-klinik aborsi yang diduga masih beroperasi pascapenggerebekan. Seorang informan memberi sinyal mungkin masih ada klinik yang beroperasi.

Berbekal informasi dari korban aborsi, kami mulai mencari klinik yang berpraktik ilegal itu. Kami mulai dari suatu kawasan di Jakarta Pusat. Namun, klinik itu ternyata sudah tutup.

Ramainya kasus praktik aborsi belakangan ini merupakan kasus pelanggaran hukum. Namun, sebenarnya praktik aborsi masih mungkin dilakukan dengan beberapa syarat yang ketat.

Persoalan pengguguran kandungan secara ilegal disinyalir berangkat dari makin umumnya pasangan yang menghalalkan seks sebelum menikah. Apalagi tanpa dibekali pengetahuan seks yang memadai. Tapi, apa pun alasannya, aborsi ilegal tetap tak bisa dibenarkan.

Bagaimana praktik aborsi ilegal masih ada dan terus meningkat? Saksikan selengkapnya dalam tayangan Sigi Investigasi SCTV edisi Sabtu (5/3/2016),berikut ini.

 

*** Saksikan Live Gerhana Matahari Total, Rabu 9 Maret 2016 di Liputan6.com, SCTV dan Indosiar pukul 06.00-09.00 WIB. Klik di sini.

Artikel Selanjutnya
Kapolda Metro Imbau Rizieq Shihab Segera Kembali
Artikel Selanjutnya
Kapolda Metro: Angka Kejahatan di Jakarta Menurun 70 Persen