Sukses

Journal: Jakarta dalam Lautan Sampah

Liputan6.com, Jakarta - Sitompul tak habis pikir atas kelakuan tetangganya di Kelurahan Pegangsaan, Jakarta Pusat. Setiap malam, pria berdarah Batak yang menetap di Pegangsaan sejak 1988 itu mendengar suara benda-benda jatuh ke sungai "Gedebak-gedebuk".

Menurut dia, bunyi tersebut berasal dari sampah-sampah yang dibuang warga ke Kali Ciliwung yang membatasi Kelurahan Pegangsaan dan Kelurahan Cikini. Suara itu, semakin sering terdengar ketika hujan datang. Hujan membuat debit air sungai meningkat sehingga benda yang mengapung di permukaannya akan melaju lebih cepat.

Kelurahan Pegangsaan merupakan salah satu potret permasalahan sampah di Jakarta. Di kawasan berpenduduk 21 ribu jiwa ini hanya terdapat dua tempat pembuangan sampah sementara. Keduanya terletak hampir 500 meter dari pemukiman padat. Untuk mengantarkan sampah ke daerah tersebut, warga harus berjalan menembus gang-gang sempit.

Tumpukan sampah di aliran Kali Ciliwung di bawah fly over Kalibata, Jakarta, (16/11/2015). (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Sitompul mengatakan warga menjadikan Kali Ciliwung sebagai tempat pembuangan sampah lantaran permasalahan akses terhadap sarana kebersihan. Pria yang menjabat sebagai anggota Dewan Kelurahan Pegangsaan itu bertutur petugas kebersihan tak bisa masuk ke gang-gang sempit untuk menjemput sampah. Akibatnya, 40 petugas kebersihan yang dialokasikan Pemerintah DKI untuk setiap kelurahan tak pernah menjemput sampah ke rumah warga.

Kali Ciliwung, berada tepat di belakang rumah warga. Sungai terbesar di Jakarta ini menjadi jalan pintas bagi warga untuk segera terbebas dari sampah. Jenis sampah yang dibuang biasanya sampah dapur, sampah rumah tangga, pakaian bekas, hingga furnitur. Sampah ini mengalir mengikuti jalur Kali Ciliwung yaitu Senen, Mesjid Istiqlal, Istana Negara, Jalan Gajah Mada, Kota Tua, hingga Pluit.

Sejumlah pemulung mengais sampah-sampah yang hanyut terbawa arus Kali Ciliwung yang melintas di jembatan Jalan KH Abdullah Syafei, Jakarta Timur, Rabu 22/01/2014. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah).

Kepala Dinas Kebersihan Isnawa Adji menuturkan, 13 sungai di Jakarta menampung 300 ton sampah setiap harinya. Jumlah sampah di sungai bisa meningkat hingga 1.000 ton saat musim hujan datang. Adapun TPST Bantargebang, setiap harinya mengumpulkan 6.700 ton sampah. "Sampah yang ada di sungai kami ambil terus," ujar Isnawa. Dinas Kebersihan Jakarta memiliki 4 ribu pekerja harian lepas yang bertugas membersihkan sungai.

Isnawa membenarkan kurangnya lahan untuk penampungan sampah warga. Menurut dia, warga memang enggan menjual lahan untuk dijadikan tempat sampah kepada pemerintah. Warga beralasan penyediaan tempat sampah akan membuat lingkungan di sekitar mereka menjadi kumuh dan bau. Karena itu Pemerintah DKI menggalakkan bank sampah. Di bank sampah, barang-barang tak terpakai dipilah berdasarkan jenis sampah lalu dikonversi menjadi tabungan uang. Sayangnya, belum semua warga memahami manfaat bank sampah ini sehingga warga tetap membuang sampah ke sungai.

Petugas Dinas Kebersihan DKI Jakarta membersihkan sampah di pesisir Muara Angke, Jakarta, Kamis (29/10). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Meski sudah membendung sampah agar tak mengalir jauh, Isnawa membenarkan masih ada kawasan muara dan pesisir yang kotor oleh timbunan sampah. Sampah-sampah ini bisa berasal dari warga di sekitar muara atau sampah lama yang terbawa gelombang ke pinggir pantai. Penyelesaian permasalahan sampah di Teluk Jakarta ini merupakan program pemerintah pusat dan DKI. Dia berharap dalam waktu dekat mulai ada kegiatan pembersihan di kawasan ini.

Sebagian kecil sampah masih mengalir ke Teluk Jakarta.

1 dari 2 halaman

Sampah Sungai Diangkut ke Bantargebang

Tim Liputan6.com menelusuri aliran sampah yang dibuang warga Pegangsaan ke Kali Ciliwung. Sampah yang mengalir dari Pegangsaan tersebut bergerak menuju kawasan Senen. Di Senen, para petugas kebersihan berjaga menggunakan batang-batang bambu yang disambung dan dibentangkan di permukaan air. Sekat di permukaan air itu membuat sampah warga Pegangsaan berhenti di Senen. Setiap hari, petugas memungut sampah yang tersangkut sekat lalu dikumpulkan ke tepian sungai.

Selain sekat, saringan besi digunakan untuk menghambat sampah di pintu-pintu air. Di seluruh Jakarta, terdapat 25 saringan. Prinsip kerja saringan ini adalah menghambat aliran sampah ukuran besar di pintu air. Karena terbuat dari besi, saringan seperti ini bisa menahan beban besar seperti batang bambu, balok kayu, mebel. Ada pun sampah plastik dan kain tetap bisa ditahan saringan ini. Kelebihan lainnya, saringan ini dilengkapi garpu hidrolik yang mengangkat tumpukan sampah ke atas pintu air. Sebuah conveyor belt menghantarkan sampah ke pinggir sungai.

Kondisi sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. (Liputan6.com)

Kepala Unit Pelaksana Kebersihan Badan Air Dinas Kebersihan Jakarta Junjungan Sihombing mengatakan, kendaraan pengangkut sampah mengunjungi titik-titik pengumpulan sampah di pinggir kali setiap pagi. Selanjutnya sampah yang dikumpulkan dikirim ke emplacement untuk dikeringkan.

Sebuah truk mini dengan kapasitas angkut 7 ton mengumpulkan sampah-sampah tersebut. Selanjutnya, sampah sungai dikirimkan ke tempat penampungan sementara atau emplacement. Di Jakarta, terdapat dua tempat penampungan sampah sungai seperti ini yaitu di Jalan Perintis Kemerdekaan dan Pluit. "Sampah dikeringkan di emplacement sebelum dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang," katanya.

Sampah di emplacement kemudian dimuat ke truk sampah berkapasitas 10 ton. Truk-truk ini memuat sampah air dari siang hingga sore hari. Sampah biasanya sampai di Bantargebang setelah menempuh perjalanan selama 2-3 jam. Namun, truk harus mengantre selama 6-10 jam untuk sampai ke dalam Bantargebang. Sopir truk selalu tidur di dalam kendaraannya demi mengantarkan sampah sungai warga Jakarta. "Paginya harus kembali lagi ke emplacement," ujar Sijunjung.