Tak Ada Dendam di Hati Seroja

  • Liputan Pilihan
  • 0
  • 31 Agu 2009 14:17
Liputan6.com, Jakarta: Senin, 20 Mei 2002. Pagi itu, suasana di depan kantor bekas gubernuran yang menghadap ke laut tampak sibuk. Inilah satu-satunya perkantoran yang selamat dari kondisi "bumi hangus" Timtim pascareferendum. Kantor gubernuran itu telah berubah menjadi kantor urusan administrasi pemerintahan baru Timor Leste dan sekaligus jadi semacam markas International Force for East Timor (INTERFET), kantor perwakilan PBB di Dili, Timor Timur.

Terlihat sekitar 200-an tentara Timtim berbaris rapi. Mereka sedang bersiap-siap merayakan untuk yang pertama kalinya kelahiran negeri baru bernama Republik Demokratik Timor Leste. Jika diperhatikan dengan lebih cermat, ada sesuatu yang janggal untuk sebuah acara seresmi itu. Sebagian serdadu Timtim hanya berkaos oblong loreng lusuh, sepatu lars hitam tanpa tali, dan beberapa dari mereka berkumis serta berjenggot yang dibiarkan tumbuh lebat. Tentu saja bukan hanya itu, banyak pula di antara mereka yang berambut keriting panjang seolah memang dibiarkan terurai liar.

Masih ada lagi, ini yang terasa aneh. Beberapa tentara itu masih menggunakan seragam TNI lengkap dengan pangkat keprajuritannya. Ada pula yang membiarkan pita merah tetap bertengger di pundak sebelah kanan. Barangkali seragam TNI itu tetap dipakai karena rasa bangga, atau mungkin juga oleh sebab tidak ada pilihan lagi. Tapi yang tampak jelas, tentara Timor Leste itu berdiri tegak.

Itulah tentara Republik Demokratik Timor Leste, sebuah negeri baru yang masih seumur jagung. Tak ada unjuk keunggulan militer apa pun di depan puluhan kamera jurnalis dari berbagai negara. Kehadiran saya, ikut menjadi saksi sejarah peristiwa itu. Penyerahan kedaulatan Timtim dari pemerintahan sementara PBB kepada pemerintahan baru Timtim.

Selain Presiden Xanana Gusmao, terlihat PM Mari Bim Amude Alkatiri (atau yang lebih dikenal dengan Mari Alkatiri), Menlu Jose Ramos Horta, dan Uskup Dili Mgr Carlos Filipe Ximenes Belo yang sangat dihormati dan disegani umat Timtim itu. Ada pula komandan pasukan penjaga perdamaian Mayjen Peter Cosgrove dari Australia dan pejabat khusus PBB yang membantu menangani pemerintahan sementara Timtim, Sergio Vieira de Mello asal Brazil (yang telah meninggal dua tahun silam).

Presiden Xanana Gusmao berdiri di mimbar memimpin upacara. Ketika berpidato dengan bahasa Portugis dan sesekali diselingi bahasa lokal Tetun, suaranya yang lantang itu sempat tiba-tiba terbata-bata. Terutama saat bercerita tentang masa perjuangan bangsa Timor Lorosae yang panjang. Presiden Xanana yang bernama asli Jose Alexandre Gusmao itu berjanji akan mengantar rakyat Timor Leste menuju gerbang kesejahteraan. Pekerjaan yang tentu sangat berat, karena benar-benar segala sesuatunya dimulai dari awal.

---


Genangan air mata di pelupuk mata Xanana, tentu saja tak sama dengan linangan air mata veteran Seroja. Kesedihan mereka makin menggores dalam, saat Presiden Megawati Sukarnoputri tetap hadir di bumi Lorosae sehari menjelang perayaan ulang tahun pertama Timor Leste. Padahal DPR RI, Rabu (5/5/2002), sempat "melarang" Presiden Megawati pergi ke Timor Leste. Tapi tetap saja, Mega dan rombongan berangkat ke wilayah bekas jajahan Portugis itu. Arti kehadiran yang menyiratkan simbolisme pengakuan terhadap sebuah eksistensi. Meskipun ketika itu, Mega hadir bukan untuk acara serah terima, tapi langsung ke TMP Seroja.

Malam itu, 19 Mei 2002, sehari menjelang hari bersejarah bagi Timor Leste, dalam suasana yang serba gelap dan kondisi sosial politik dan keamanan masih menegangkan, Megawati dan rombongan berdoa di taman makam pahlawan Seroja yang terletak di pinggiran kota Dili. Suasana gelap gulita itu sangat menyulitkan para kamerawan TV dan juga para fotografer yang dilarang menggunakan lampu kilat. Pihak keamanan presiden memang melarang wartawan menyalakan lampu apa pun demi keamanan RI-1. Setelah selesai, seperti biasa, tak ada keterangan pers apa pun dari Presiden Megawati tentang arti kehadirannya di malam buta itu. Tak ada yang bisa diinformasikan kepada masyarakat luas, apa arti kehadiran Mega di Timtim.

Tentu saja, kehadiran Presiden Megawati di Timor Leste ini menambah pedih luka para pejuang veteran Timtim. Wujud kekesalan para veteran Seroja itu, tampak jelas pada ekspresi wajah mereka. Para veteran Timtim yang tinggal di Kompleks Veteran Seroja, Bekasi Utara, Minggu (19/5/2002) malam pukul 22.15 WIB, membakar 350 piagam dan lencana setya mereka yang diperoleh sebagai penghargaan negara atas perjuangan mempertahankan integrasi Timtim. Ada acara renungan keprihatinan dan ungkapan kekecewaan mendalam di sana.

Dalam perenungan itu, masih jelas dalam ingatan para veteran Seroja, bagaimana semangat pasukan ABRI menyatukan Timor Timur di tahun 1975. Seluruh jiwa, raga, dan hidup keluarga dikorbankan. Entah berapa prajurit yang tewas. Yang pasti, ratusan pejuang mengalami cacat seumur hidup. Semua itu dilakukan demi membela negara. Tapi apa yang terjadi setelah 27 tahun kemudian? Perjuangan mereka dengan sangat telak dialpakan. Kehadiran Presiden Megawati menjelang penyerahan kedaulatan Timtim, itulah yang menjadi puncak kekecewaan mereka. Seperti ada komunikasi yang terputus. Kebijakan negara terputus di tengah jalan oleh kebijakan politik suatu rezim pemerintahan yang sedang berkuasa. Seolah-olah tidak pernah ada keterkaitan apa pun antara kebijakan di masa lalu dengan pemerintah masa kini. Yang menjadi korban adalah para abdi negara yang ketika itu berjuang demi dan atas nama negara bukan pemerintahan yang sedang berkuasa.

Terputusnya komunikasi itu juga tampak dalam penghargaan pemerintah terhadap para pejuang Seroja yang terkesan setengah hati. Di negara-negara maju dan beradab, pahlawan yang membela negara sangat dihormati. Namun di Tanah Air, para pejuang Seroja justru berdemo minta dihargai dan diakui eksistensi mereka.

"Secara de facto kami ini veteran, tetapi secara de jure belum. UU No.7/1967 hanya mengakui veteran 45, dwikora, dan trikora. Pengakuan negara melalui undang-undang sangat penting bagi kami. Apalagi setelah Timor Timur lepas dari Indonesia, ada pihak yang mencibir kami sebagai penjahat perang. Padahal dulu kami berperang demi negara," kata Ketua Umum Yayasan Veteran Seroja Timor Timur, Sukoro, seperti banyak dirilis media massa dua tahun lalu. Hingga kini, perjuangan para veteran Seroja itu pun belum menuai hasil menggembirakan. Selain pengakuan resmi dari pemerintah, kalangan pejuang Seroja juga menginginkan agar kerangka teman-teman seperjuangan mereka yang gugur di Timtim dibawa pulang ke Tanah Air. Sedikitnya terdapat 3.000 kerangka masih ada di delapan titik di Timor Leste.

***

Seroja. Nama bunga yang indah itu dijadikan nama sandi operasi militer Indonesia di Timtim, menggantikan operasi intelijen bersandi Umi Tuti dan Komodo yang sebelumnya berlangsung secara politis. Timor Timur, wilayah seluas 14 ribu kilometer persegi itu, menjadi perhatian dunia karena nyaris tak pernah sepi dari konflik sejak 25 April 1974. Partai besar berkuasa Frente Revolutionaria de Timor Leste Independente (Fretilin) yang berhaluan komunis, makin menarik perhatian Barat. Maka Amerika Serikat dan sekutunya pun merasa berkepentingan dengan Timtim untuk membendung laju komunisme di kawasan Asia Tenggara.

Beberapa perwakilan Barat merapat ke Indonesia. Perdana Menteri Australia Gough Whitlam pun menemui Presiden Soeharto. Dua pemimpin itu bertemu di sebuah wisma di lereng Dieng yang sejuk di Wonosobo, Jawa Tengah, (5 hingga 7 September 1974). Pertemuan itu pun berlanjut di Townsville, Australia tujuh bulan kemudian, 3 sampai 5 April 1975. Bukan hanya PM Australia saja yang bertemu dengan Presiden Soeharto. Presiden AS Gerald Ford dan Menlu Henry Kissinger pada tahun yang sama datang pula ke Istana Negara Jakarta. Kunjungan kepala negara adikuasa itu seolah menjadi pertanda dukungan untuk Indonesia melakukan infiltrasi ke Timtim.

Maka Operasi Seroja pun digelar. Operasi militer itu dimulai 7 Desember 1975 dengan dibantu para pendukung partai Uniao Democratica de Timor (UDT), Associacao Popular (APODETI), Klibur Oan Timur Aswain (KOTA), dan Partido Trabalista. Target pertama koalisi ABRI dan para pendukung dari partai-partai lokal itu, merebut dan menduduki kota-kota besar di Timtim yang dikuasai Fretilin. Operasi berhasil, meski memakan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. Ribuan orang mengungsi ke perbatasan Timor Barat. Sementara Fretilin dan para simpatisannya lari ke gunung dan hutan. Timtim akhirnya bergabung dengan Indonesia, Sabtu 17 Juli 1976 melalui UU No 7/1976, sekaligus mengukuhkan bumi Timor Lorosae menjadi wilayah provinsi ke-27 di NKRI.

Gejolak sosial politik di Timtim, rupanya tak pernah berhenti. Hingga akhirnya 23 tahun kemudian, Timtim lepas dari NKRI melalui proses referendum 1999. Sejak awal proses infiltrasi dan penggabungan Timtim 1975 hingga lepasnya Bumi Timor Lorosae 1999 yang diwarnai dengan gejolak berdarah, telah menelan korban jiwa nyaris tak terhitung lagi. Menurut buku "Timor Timur Dulu dan Sekarang", terbitan Solidamor (September, 1998), pertikaian di Timtim telah merenggut korban 200 ribu jiwa rakyat Timor Timur dan 10 ribu personil ABRI. Bukan hanya itu, sekitar 60 ribu orang menjadi pengungsi di berbagai kawasan Timor Barat, Atambua, dan sekitarnya.   

***

Sepuluh tahun sudah Timor Timur lepas dari NKRI. Bagi generasi sekarang, barangkali cerita tentang Timtim hanya seperti tuturan kilasan sejarah kelam tanpa roh dan hanya untuk sekadar dongeng sebelum tidur bagi anak cucu. Tapi bagi mereka, para pelaku sejarah dan keluarganya, cerita tentang Timtim adalah cerita besar yang memunculkan kebanggaan sekaligus mengenang kepedihan. Yang pasti, kesegaran bunga Seroja memang tak pernah layu, meski politik dan kekuasaan telah melupakannya jauh di belakang, di dalam ruang masa lalu. Hanya catatan sejarah yang tak akan pernah menghapuskan spiritual perjuangan itu. Semangat berapi-api itu selalu tampak, setiap kali kita bertemu dan ngobrol dengan para veteran Seroja. Tak ada sakit hati dan tak ada dendam pada masa lalu.(VIN/ROM)
Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler