Tragedi Pertumpahan Darah di Timor Lorosae

  • Liputan Pilihan
  • 0
  • 30 Agu 2009 17:41
Liputan6.com, Jakarta: Kamis, 25 Mei 2006, suasana Kota Dili semakin mencekam. Aktivitas pemerintahan lumpuh selama beberapa hari. Dili bak kota mati.

Kontak senjata antara pasukan yang setia kepada pemerintah dan tentara desersi, polisi, dan warga sipil bersenjata terus berlangsung. Korban tewas berjatuhan. Selain anggota Polisi Nasional Timor Leste (PNTL), juga ada warga sipil dan warga negara asing yang menjadi korban. Tambahan pasukan keamanan asing di bumi Timor Leste tak berhasil meredam kerusuhan.

Warga mengungsi ke Gereja, Kantor PBB, dan sejumlah kedutaan asing karena keamanan mereka tak terjamin. Dengan alasan keamanan, keluarga Presiden Timor Leste, Xanana Gusmao, pun diungsikan. Dari rumah orang tua Xanana di Villaverde, istri Xanana, Kirsty Sword-Gusmao, bersama anak-anaknya diungsikan ke Istana Kepresidenan di kawasan Lahane, sekitar 8 km sebelah selatan Dili.

Krisis dalam negeri ini dipicu oleh pemecatan sekitar enam ratus dari 1.400 prajurit angkatan bersenjata Timor Leste, Forcas Defenza Timor-Leste (FDTL) atas tuduhan desersi. Pada Maret 2006, Perdana Menteri Mari Alkatiri memerintahkan Panglima FDTL Brigadir Jenderal Taur Matan Ruak untuk melakukan pemecatan massal.

Saat itu, para prajurit memprotes perlakuan diskriminatif terhadap prajurit dari Timor Leste bagian timur. Akibat pemecatan, ratusan serdadu ini marah besar. Mayor Alfredo Reinado yang merupakan tentara didikan Australia dan rekannya, Mayor Augusto Araujo, memimpin pemberontakan bersenjata. Gastao Salsinha yang merupakan pimpinan para tentara yang dipecat itu turut beraksi memicu gelombang kerusuhan.

Kerusuhan di Timor Leste kemudian meluas menjadi pertikaian antar etnis timur dan barat. Akibat kerusuhan ini puluhan orang tewas dan hilang. Ratusan bangunan dibakar dan dijarah.  Media memberitakan puluhan ribu warga yang mengungsi.

Dalam menjalankan aksinya, Reinado membangun basis di perbukitan Maubisse, 70 km di selatan Dili. Selain menuntut Alkatiri mundur, ia juga menuntut penempatan kembali rekan-rekannya yang sama-sama dipecat oleh Alkatiri. Para mantan tentara yang marah itu melakukan berbagai aksi yang membuat kota Dili porak poranda dan berdarah-darah.

Gejolak politik hebat membuat Xanana Gusmao mengambil alih kendali pemerintahan.  Ia cukup berhasil menenangkan para pemberontak, meskipun terpaksa harus mengundang pasukan asing dari Australia, Selandia Baru dan Malaysia untuk membantu meredam pasukan pemberontak.

Juni 2006, Xanana mendesak Alkatiri yang memerintahkan pemecatan supaya mengundurkan diri. Setelah bersikeras menolak, Alkatiri akhirnya menyerah dan mundur dari jabatannya pada 26 Juni pada tahun yang sama [Baca: Dinamika Politik Timor Leste di Bawah Xanana].

Sehari sebelumnya Jose Ramos Horta menyatakan tidak mau ambil bagian dalam kabinet Alkatiri serta melepaskan kedudukannya sebagai menteri luar negeri dan menteri pertahanan. Selain Ramos Horta, tujuh anggota kabinet lainnya di bawah Alkatiri pun menyatakan siap mundur.

Dari tempat persembunyiannya, Alfredo mengaku mereka hanya memperjuangkan ketidakadilan dalam tubuh FDTL. Mereka tidak bertujuan melakukan kudeta terhadap pemerintahan.

Xanana Gusmao akhirnya berhasil mengimbau Alfredo yang bertahan di atas gunung untuk menyerahkan diri. Alfredo turun ke Dili dan menyerahkan sejumlah senjata kepada pasukan Australia. Tapi pada saat itu, dengan alasan masih menyembunyikan senjata, Alfredo ditangkap dan dimasukan ke penjara. Tak sampai dua bulan kemudian, Alfredo dan anak buahnya melarikan diri.

Setelah Gusmao dan Horta saling bertukar jabatan presiden dan perdana menteri pada 2007, keduanya secara terbuka meminta pasukan keamanan Australia menangkap Mayor Alfredo hidup atau mati. Markas Alfredo di daerah Same, 50 kilometer dari Dili diserbu pasukan Australia dengan menggunakan helikopter serbu dan kendaraan lapis baja.

Empat anak buah Reinado tewas, sementara sang pemimpin yang nyaris tertangkap melarikan diri ke hutan. Alfredo sangat marah dan menyatakan telah dikhianati, khususnya oleh Xanana Gusmao yang sangat dihormatinya.

Senin, 5 Maret 2007, situasi Kota Dili kembali mencekam. Ratusan pendukung Alfredo memblokir sejumlah ruas jalan di Dili dan mebakar ban-ban mobil. Penjagaan di Kedutaan Australia dan sejumlah instansi lain diperketat.

Pendukung Alfredo memprotes keras langkah koalisi tentara internasional terhadap Alfredo dan meminta pasukan mereka ditarik dari Same. Mereka juga mengecam pimpinan Timor Leste dan menolak keras penangkapan Alfredo, hidup atau mati. (ROM)
Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler