Sukses

Kelola Sampah dengan Baik agar Tak Ganggu Kesehatan

Liputan6.com, Jakarta Tingkat pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi di kota besar rupanya berbanding lurus dengan volume sampah yang dihasilkan dari tahun ke tahun. Aktivitas dan pola konsumsi masyarakat perkotaan memengaruhi jumlah sampah yang dihasilkan.

Sampah jelas bukan suatu hal yang kita perlukan, karenanya ingin dibuang atau disingkirkan. Sebagian besar individu akan membuang sampah di tempat pembuangan sampah, pembuangan akhir, atau membakarnya.

Segera setelah sampah tersebut tak terlihat lagi kita cenderung berpikir bahwa sampah tak lagi memiliki dampak yang membahayakan bagi kita. Sesungguhnya tidak demikian. Sampah yang tidak dibuang dengan baik bisa memberi beragam dampak buruk bagi tanah, udara, air, dan juga manusia. Sampah bisa menjadi berbahaya jika tak dibakar dengan baik atau dibuang ke tempat yang keliru di alam terbuka.

1 dari 4 halaman

Dampak sampah pada kesehatan dan lingkungan

Kontaminasi tanah

Penting untuk memiliki pengetahuan dasar daur ulang sehingga sampah yang dibuang ke tempat sampah bisa diolah dengan benar. Plastik, metal, kertas, dan jenis kaca tertentu umumnya bisa didaur ulang. Jika dibawa ke lokasi daur ulang, barang-barang tersebut bisa diolah untuk digunakan kembali. Tak akan berakhir menjadi sampah atau mencelakai lingkungan.

Benda-benda yang bisa didaur ulang jika dibuang ke tanah bisa berpotensi mengontaminasi kesuburan tanah tersebut. The Western Courier menjelaskan bahwa botol air minum plastik yang rusak mampu melepaskan DEHA, sejenis karsinogen yang bisa menyebabkan masalah reproduksi, gangguan lever, dan penurunan berat badan. Senyawa kimia ini juga bisa bertahan di tanah dan menyebabkan kontaminasi pada tumbuhan dan hewan serta sumber air. Koran atau kertas yang mengandung tinta bisa jadi sangat beracun pada tanah itu juga. Maka itu sampah yang dibuang atau tidak diolah dengan baik di tempat pembuangan sampah bisa mengontaminasi lingkungan sekitarnya.

Kontaminasi Udara

Saat membuang sampah yang mengandung bahan kimia berbahaya seperti pemutih, asam, atau minyak, penting untuk dicermati apakah kita sudah mengemasnya dalam wadah yang disarankan atau diberi label dengan benar. Kertas, plastik, dan material lainnya bisa mengontaminasi udara jika dibakar. Seiring waktu, zat-zat kimia tersebut bisa semakin menumpuk dalam lapisan ozon.

Jika asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah tersebut mengandung kimia berbahaya seperti dioxin dan berbaur dengan udara yang dihirup manusia maka dapat menimbulkan risiko kesehatan.

Sampah yang tak dibuang dengan cara yang benar juga akan mulai melepaskan gas metan. Menurut Energy Information Administration, gas-gas tersebut merupakan gas-gas rumah kaca yang bisa menghancurkan lapisan ozon dan berkontribusi dalam perubahan iklim dan global warming.

Pencemaran Sumber Air dan Lingkungan

Pembusukan sampah organik menghasilkan cairan beracun, bau, dan berwarna kehitaman yang juga disebut leachate. Jika sampah terlambat diangkut dari sumber sampah semisal rumah, pasar, dan lainnya ke tempat pembuangan sementara atau tempat pembuangan akhir, akan menumpuk, berubah menjadi leachate, berbau tak sedap, serta menjadi tempak berkembang biak lalat, tikus, dan belatung.
Aliran leachate di bawah timbunan sampah berpotensi mencemari air tanah. Kualitas air pada sumber air di sekitar timbunan sampah itu menjadi kurang baik dan tak memenuhi peryasaratan untuk dijadikan air baku air minum karena relatif tinggi kandungan zat polutan seperti nitrat, nitrit, mangan, kalsium, natrium, magnesium, klorida. 

Dampak sampah pada kesehatan

Dampak langsung sampah pada kesehatan antara lain disebabkan oleh kontak langsung dengan sampah yang bersifat beracun, korosif, karsinogenik, dan lainnya. Sampah juga mengandung kuman patogen sehingga bisa menimbulkan penyakit.

Sementara dampak tidak langsung dari sampah bisa akibat proses pembusukan, pembakaran dan pembuangan sampah. Efek tidak langsung lain berupa penyakit bawaan vektor yang berkembangbiak di dalam sampah. Timbunan sampah beresiko dapat menjadi sarang lalat dan tikus. Lalat bisa menjadi vektor bermacam penyakit perut. Sedangkan tikus bisa menyebarkan pes.

Penyakit yang disebabkan oleh sampah sangat luas dan bisa berupa penyakit menular dan tidak menular. Penyakit tersebut berupa gangguan pernapasan, pencernaan, atau pun penyakit kulit. Gangguan pernapasan bisa terjadi karena adanya pembusukan sampah oleh mikroorganisme yang menghasilkan gas hidrogen sulfide dan gas metan yang beracun bagi tubuh.

Sedangkan gangguan pencernaan seperti diare disebabkan oleh adanya vektor yang membawa kuman penyakit. Selain itu, sampah juga bisa menyebabkan penyakit kulit karena munculnya jenis jamur mikroorganisme patogen yang hidup dan berkembang biak di dalam sampah.

2 dari 4 halaman

Pengelolaan sampah

Sampah di sekitar kita beragam jenisnya. Ada yang berasal dari rumah tangga, pasar, industri, rumah sakit, kantor, dan lainnya. 

Berdasarkan komposisinya, sampah dibagi menjadi dua: organik dan anorganik. Sampah organik dihasilkan dari bahan-bahan hayati yang bersifat biodegradable atau mudah diurai dengan proses alami. Sebagian besar sampah rumah tangga merupakan sampah organik. Sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan nonhayati yang bersifat tak mudah diurai oleh alam seperti plastik, logam, kertas, kaca, dan lainnya. Dengan mencermati jenis sampah tersebut, masyarakat yang tinggal di kota besar bisa memilah untuk selanjutnya mengolah sampah dengan berbagai alternatif cara.

Sampah bisa menjadi sumber daya yang bermanfaat dan mempunyai nilai ekonomi karena bisa diolah menjadi bahan bakar atau pupuk. Ada beberapa cara yang digunakan dalam pengolahan sampah, misalnya dengan TPA (landfilling), pembakaran atau insinerasi (incineration), dan daur ulang (recycling), atau mengubah sampah menjadi energi.

Sejauh ini cara pengolahan sampah yang umum digunakan di Indonesia adalah dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Masih sedikit sampah yang didaur ulang. Cara pengolahan sampah dengan membawanya ke TPA menjadi kurang efektif jika lahan semakin terbatas. Selain itu, pengolahan sampah dengan jenis ini menghasilkan gas metan yang menyebabkan efek rumah kaca, sumber penyakit, dan pada umumnya ditentang oleh masyarakat setempat.

Cara pengolahan sampah lainnya adalah dengan insenerasi. Melalui cara ini, sampah dapat diolah dalam volume besar. Tetapi cara pengolahan sampah ini masih menimbulkan masalah lingkungan, yaitu adanya dioxin yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan seperti kerusakan sistem kekebalan tubuh, kanker, gangguan reproduksi, dan lainnya. Selain itu juga diperlukan investasi yang sangat besar untuk mengolah sampah dengan cara ini.

Proses pengolahan sampah yang lebih alami adalah dengan komposting. Mengubah limbah organik yaitu sisa-sisa tanaman, sampah kebun, dan dapur untuk diubah menjadi pupuk kaya nutrisi bagi tanaman. Kompos adalah salah satu metode terbaik pengolahan limbah karena dapat mengubah produk organik yang tidak aman menjadi kompos yang aman. Namun proses ini lambat dan memakan banyak ruang.

Sampah pun bisa diolah menjadi energi, dikenal dengan metode Waste to Energy (WTE). Prosesnya melibatkan mengonversi jenis sampah yang tak bisa didaur ulang menjadi panas yang bisa digunakan, diubah menjadi listrik atau bahan bakar melalui berbagai proses. Jenis sumber energy ini bersifat renewable atau bisa diperbaharui karena sampah yang tak bisa didaur ulang bisa digunakan berkali-kali untuk menghasilkan energy. Pengolahan sampah jenis ini juga bisa membantu mengurangi emisi karbon dengan meminimalisir kebutuhan energi dari sumber tambang.

 

3 dari 4 halaman

Swedia Ubah Sampah Menjadi Energi

Negara yang telah berhasil mengolah sampah dengan baik adalah Swedia. Bahkan negara Skandinavia ini harus mengimpor sampah dari Inggris, Italia, Norwegia, dan Irlandia untuk memenuhi kuota mengubah sampah menjadi sumber energi, program yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Setiap tahunnya satu orang Swedia memproduksi 461 kilogram sampah. Jumlah di bawah rata-rata sampah yang dihasilkan orang Eropa yaitu setengah ton per tahun. Swedia menjadi berbeda karena bisa membakar sampah hingga 2 juta ton sampah per tahun.

Swedia menerapkan sistem pengelolaan sampah sebagai berikut: pencegahan (pengurangan atau reduce), penggunaan kembali, daur ulang, daur ulang alternatif (pemulihan energi melalui WTE), dan pembuangan (TPA).

Sebelum bisa diangkut ke tempat pembakaran, sampah lebih dulu dipilah oleh masing-masing rumah atau pemilik usaha. Sampah organik dipisahkan dari jenis sampah lainnya yang bisa didaur ulang dan digunakan kembali.

Undang-undang di Swedia mengharuskan produsen bertanggung jawab untuk menangani semua biaya yang berkaitan dengan pengumpulan dan daur ulang atau pembuangan produk mereka. Misalnya, jika produsen minuman menggunakan kemasan botol untuk produknya maka mereka wajib membayar setiap tindakan pengumpulan botol bekas yang didaur ulang.

Aturan ini diperkenalkan pada 1990-an dengan pemberian insentif kepada perusahaan yang patuh. Ketentuan ini menuntut perusahaan lebih proaktif dalam memantau produk mereka di pasaran. Dengan demikian Swedia tak perlu menarik pajak kebersihan.

Menurut data yang dikumpulkan dari Swedia Returpack, perusahaan daur ulang, negara ini dapat menggunakan ulang 1,5 miliar kemasan selama setahun. Kemasan itu umumnya berupa botol dan kaleng.

Pengolahan sampah WTE di Swedia dilakukan dengan membakar sisa sampah agar menghasilkan uap yang digunakan untuk menggerakkan turbin yang menghasilkan listrik. Listrik tersebut lantas dialirkan ke jalur-jalur transmisi dan didistribusikan ke seluruh negara.

Singkatnya, Swedia mampu menggabungkan pengolahan sampah dengan cara daur ulang dan pembakaran untuk menghasilkan energi dan secara dramatis mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan sampah akhir.

Proses insinerasi dalam pengolahan sampah Swedia ini memang belum sempurna karena dinilai masih menghasilkan poultan udara. Namun dengan bantuan teknologi yang semakin canggih, hal itu bisa diminimalisir, cetus Swedish Environmental Protection Agency.