Sukses

Perjalanan Panjang James Bond, Agen Flamboyan 'Pemetik Bunga'

Liputan6.com, Jakarta - Guntur Soekarnoputra, putra presiden pertama RI, Soekarno, menyimpan cerita tersendiri terkait film James Bond. Kejadiannya berlangsung awal 1960-an. "Waktu itu saya baru lulus SMA dan sedang sibuk ngalor-ngidul mendaftar ke Institut Teknologi Bandung (ITB)," kata Guntur dalam wawancara dengan majalah Jakarta-Jakarta.

Kala itu Guntur ditelepon adiknya, Megawati Soekarnoputri, yang memintanya segera pulang ke Jakarta  atas permintaan sang ayah.  "Bapak cuma pesan supaya Mas pulang ke Jakarta, karena Jumat malam ini mau diputar film bagus, cerita spion," kata Megawati. 

Guntur penasaran. Ia tak habis pikir ayahnya memaksa pulang ke Jakarta hanya untuk menonton film. "Pasti ada yang istimewa di film itu," ucapnya. Ia pulang ke Jakarta keesokan harinya.

Presiden Sukarno memang punya kebiasaan menonton film di ruang film istana saban Jumat dan Sabtu malam. Dia menonton beserta keluarga dan warga istana, baik pengawal, staf rumah tangga istana, pelayan-pelayan, staf dapur istana plus anak-anak dan istri-istri mereka.

Sebelum pertunjukan dimulai tepat jam 9 malam, Guntur bertanya pada staf istana perihal filmnya. Yang ditanya menjawab,  "Wah, Mas, film ini pokoknya begini (sambil mengacungkan ibu jarinya). Tembakan sama berkelahi terus-terusan… dan perempuannya hampir-hampir telanjang, Mas!"

"Mau telanjang, mau nggak, kek, gimana nanti! Tapi filmnya apa namanya?" tanya Guntur penasaran.

"Apa ya, Mas? … Jimbon ... Jimbon gitu!"

"Huuh! Jimbon-jimbon, emangnya permen bon-bon."

Yang dimaksud Jimbon adalah James Bond. Malam itu di istana diputar film pertama kisah James Bond, Dr. No (1962). Guntur ternyata begitu menyukai filmnya. Ia tak menyesal datang jauh-jauh dari Bandung untuk menontonnya. "Pokoknya film itu bukan main, Pak," jawabnya saat ditanya sang ayah kelar menonton.

Sean Connery saat jadi James Bond. (dok. 007.com)

Bukan cuma Guntur yang terkesan begitu pertama kali menonton film James Bond. Pun demikian dengan jutaan penduduk bumi lainn. Film James Bond pertama yang rilis lebih dari 50 tahun lalu itu masih ditonton orang hingga kini.

Film itu yang mengenalkan khalayak pada sosok James Bond, agen rahasia Inggris dari MI 6, berkode 007 yang artinya ia punya izin membunuh, penyuka minuman vodka-martini (“dicampur, bukan diaduk.”), serta penakluk wanita.

Di Dr. No, agen 007 terbang ke Jamaika demi menggulung dokter jahat yang punya rencana menguasai dunia. Sejak itu Bond melakukan berbagai misi menyelamatkan dunia. Ancaman yang dihadapinya dari perang nuklir dan bom atom dengan melawan penjahat Perang Dingin dari Rusia, hingga organisasi misterius SPECTRE (Special Executive for Counter-intelligence, Terrorism, Revenge and Extortion).

Bond beraksi ke berbagai tempat di bumi dan angkasa. Selain kerap mengajak kita ke lokasi-lokasi eksotik di seluruh dunia. Di Thunderball (1965), ia melawan musuh di dasar laut, sementara di You Only Live Twice (1967), ia melawan musuh terbesarnya, Ernst Stavro Blofeld, pimpinan SPECTRE.

Lokasi pertarungannya  di dalam sebuah roket yang tersembunyi dalam gunung berapi. Sekali waktu, di Moonraker (1979), Bond beraksi di pesawat ruang angkasa.

Di laman Time, saat memperingati kelahiran James Bond yang ke-50 pada 2012 silam, kritikus film Richard Corliss menulis, sebelum film-film sekuel dijadikan andalan studio film meraup untung, film-film Bond sudah melakukan tugas itu.

Sebelum Hollywood menemukan tambang emas dari mengadaptasi cerita superhero dari komik—seperti Spider-Man, Iron Man, Superman atau Batman—Bond adalah franchise superhero pertama.

Terus dibuat hingga kini setelah lebih dari 50 tahun, ia merupakan franchise terpanjang. Dunia berubah, Perang Dingin berganti dengan Perang Melawan Teror,  pemeran James Bond pun berganti.

Seluruh kru film tengah berjibaku mencari solusi lokasi syuting disana

Namun pamor filmnya tak surut. Setiap kehadiran film barunya di bioskop dianggap sebuah “movie event”. Artinya, filmnya selalu ditunggu penonton dan tahan kritik. Film James Bond adalah perkara bisnis yang besar. Dari Dr. No sampai Spectre telah dibuat 24 film resmi James Bond. Dikatakan resmi karena lahir dari produser Albert R. Broccoli (Casino Royale versi 1967 dan Never Say Never Again rilisan 1983 tak dibuat Broccoli).

Hingga film ke-22, total pemasukan yang terkumpul mencapai USD 5 miliar. Film ke-23, Skyfall, meraih rekor pemasukan USD 1,1 miliar dari seluruh dunia saat edar 2012 lalu.

Jika dihitung dengan nilai dollar saat ini, pemasukan film-film Bond lebih besar lagi. Sebagai contoh saja, pemasukan Thunderball setara dengan USD 1,1 miliar bila dihitung dengan nilai dollar sekarang.

1 dari 3 halaman

Kelahiran James Bond

Pertanyaannya bagaimana franchise ini bisa demikian sukses? Adakah formulanya? Untuk mencari jawabnya kita harus menengok dahulu bagaimana karakter James Bond lahir dan berkembang di novel dan film.

James Bond adalah karakter ciptaan penulis Inggris bernama Ian Fleming. Mantan intelijen Angkatan Laut di masa Perang Dunia II itu menuliskan cerita aksi mata-mata berdasar pengalamannya di ketentaraan.

Fleming, misalnya, mengambil sosok M, bos James Bond, dari atasannya Laksamana Muda Henry Godrey, kepala intelijen AL Inggris. Setelah PD II usai, Fleming menjadi manajer pemberitaan perusahaan media Kemsley Newspaper, yang antara lain memiliki koran The Sunday Times. Jabatan itu memungkinkannya setiap musim dingin pergi ke daerah tropis, Jamaika.


Ian Fleming, pengarang James Bond. (dok. istimewa)

Ia pertama kali ke Jamaika saat masih berdinas di AL. Saking jatuh cinta dengan Jamaika, ia membangun rumah di sana pada 1946. Rumah pondok itu dinamainya Goldeneye, dari nama kode rahasia rencana militer Sekutu mempertahankan Gibraltar dari pihak lawan.
 
Pada 1952, Fleming menulis cerita James Bond dari mesin ketiknya di Goldeneye. Tahun berikutnya, novel pertama cerita sang agen rahasia, Casino Royale terbit di Inggris.

Selain menulis novel, Fleming sudah membayangkan kisah rekaannya diangkat ke medium lain, entah serial TV atau film layar lebar. Selama era 1950-an, ia dua kali terlibat pembicaraan mengangkat serial TV tentang agen mata-mata yang terinspirasi dari novelnya.

Pertama dengan stasiun TV NBC menggodok serial yang dinamai Commander Jamaica, lalu dengan CBS untuk mengangkat kisah Bond sebagai serial mingguan. Dua rencana itu tak pernah terwujud.

Fleming lalu menjual hak memfilmkan Casino Royale pada aktor bernama Gregory Ratoff. Sang aktor keburu meninggal sebelum novelnya difilmkan.

Hak atas Casino Royale—di luar novel-novel Bond yang lain—lalu jatuh ke agen yang mewakili Ratoff, Charles Feldman, yang setelah film-film Bond sukses besar, membuat versi film parodi sang agen rahasia dengan bintang Peter Sellers dan Woody Allen berjudul Casino Royale.

Baru pada 2000-an, hak atas Casino Royale didapat Broccoli yang lalu membuat film James Bond berjudul dari novel itu untuk dimainkan Daniel Craig pada 2006.

Gagal jadi serial TV dan filmnya tak kunjung dibuat, tak menyurutkan mimpi Fleming. Pad1959, ia berkolaborasi dengan Kevin McClory dan Jack Whittingham membuat skenario untuk sebuah proyek film yang mereka namai James Bond, Secret Agent.

Kisahnya baru, bukan dari novel Fleming. Tapi ia kemudian malah menulis novel Bond dengan cerita dari skenario Thunderball pada 1960. Kontan saja McClory dan Hittingham tak senang. Fleming dituntut ke pengadilan.

Pengadilan memutuskan, McClory turut mendapat hak cipta dari skenarionya, sedang Fleming untuk novelnya. Maka, di film Thunderball, nama McClory tercantum pula sebagai produser eksekutif. Bertahun-tahun kemudian perkara Thunderball ini belum beres.

Di luar film James Bond buatan Broccoli, lahir Never Say Never Again (1983) yang sejatinya dibuat ulang dari Thunderball, dengan Sean Connery sekali lagi menjadi James Bond. Padahal waktu itu Roger Moore yang memerankan agen 007 di film Broccoli.

Jalan Broccoli mendapatkan hak memfilmkan novel-novel Bond pun penuh liku. Pada1959, novel ke-7 kisah James Bond, Goldfinger telah terbit. Namun belum satupun filmnya dibuat. Broccoli berjanji bertemu Fleming membicarakan kemungkinan mem-filmkan Bond.

Saat film James Bond lahir, Albert R. Broccoli, Sean Connery, Ian Fleming dan Harry Saltzman. (dok. istimewa)

Tahun sebelumnya, Broccoli sudah membuat janji dengan Fleming dan perwakilannya, namun terpaksa ia batalkan karena istrinya mesti dirawat akibat kanker. Di lain pihak, mitra Broccoli kala itu, Irving Allen, tak menyukai cerita James Bond. Pada Fleming, ia pernah bilang, “Menurut saya, buku-buku ini bahkan tak cukup bagus untuk diangkat jadi serial TV.”

Pamor novel James Bond naik ketika, di majalah Life edisi Maret 1961, presiden AS yang baru diangkat waktu itu, John F. Kennedy, menyebut buku ke-5 si agen rahasia, From Russia with  Love, sebagai salah satu dari 10 buku favoritnya. Publik Amerika yang sedang gandrung dengan presiden baru mereka yang muda dan tampan jadi penasaran dengan novel Bond.                      

Pada tahun itu pula, Broccoli berpisah dari Allen. Produser keturunan imigran Italia itu menemukan mitra baru, Harry Saltzman, asal Kanada. Kedua orang ini punya ketertarikan yang sama pada novel-novel James Bond.

Saltzman ditugaskan mencari produser Hollywood yang mau memfilmkan James Bond. Dari situ takdir mempertemukannya dengan Broccoli yang akrab disapa “Cubby”. Saltzman dan Broccoli lalu mendirikan perusahaan film bersama, Eon Productions. Mereka juga sudah dapat studio film, United Artists yang bersedia membiayai produksi dan mengedarkannya kelak.

Setelah urusan hak cipta beres, berikutnya adalah menemukan sosok James Bond yang disepakati semua pihak. Tidak mudah. Ada dua kandidat jagoan sebagaimana terekam di tulisan David Kamp di majalah Vanity Fair edisi Oktober 2012: Roger Moore dan Sean Connery.

Moore telah lebih punya nama waktu itu. Ia membintangi serial TV The Saint, berperan sebagai pencuri budiman Simon Templar. Di lain pihak, Connery masih kurang dikenal. Moore kelahiran London, pilihan cocok buat jadi Bond.

Ia tampan dan tampak santun selayaknya pria Inggris terhormat. Sebaliknya dengan Connery yang asli Skotlandia. Pada 1962 ada ungkapan yang pas menggambarkan sosok Conney: “rough diamond—berlian kasar.”

Sebelum jadi aktor, Connery kelahiran Edinburgh, Skotlandia, pada 1930, dari ayah seorang supir truk dan ibunya tukang sapu, melakoni banyak pekerjaan, termasuk jadi supir truk susu.

Ia pindah ke London mengejar karier sebagai binaragawan. Dalam sebuah kontes ia meraih juara ketiga. Ketika usianya 22 tahun, ia pertama kali main teater South Pacific di London.

Menurut Broccoli waktu itu Roger Moore dianggap “terlalu tampan.” Ia butuh seorang aktor yang lebih terlihat tangguh, tak sungkan membunuh, tampan sekaligus sedikit kasar pada wanita. Semua syarat itu ada pada Connery.

Untuk meyakinkan pilihannya, Broccoli mengajak istri barunya, Dana, menonton film yang dibintangi Connery yang ia tahu, Darby O’Gill and the Little People sebuah film keluarga keluaran Disney rilisan 1959.

Di situ Connery tak jadi pemeran utama. Mereka menonton di ruang screening Samuel Goldwyn Studio. Seketika, begitu melihat Connery, Dana Broccoli langsung berkata spontan: ”Itu dia Bond kita!”

2 dari 3 halaman

Formula Film James Bond

Lalu seperti yang orang Barat sering bilang, “and the rest is history.” Yang terjadi selanjutya sudah jadi sejarah. Sejarah seperti apa?

Rilis pertama di Inggris pada 5 Oktober 1962, Dr. No tak hanya mampu mengembalikan modal USD 1 juta yang digelontorkankan, tapi juga meraup untung 20 kali lipat. Di AS, pihak booker bioskop semula ragu mengedarkannya secara luas. Tapi setelah sukses di New York dan Los Angeles, filmnya beredar di banyak wilayah.

Di AS, Dr. No meraup pemasukan USD 16 juta. Dengan nilai dollar sekarang, angka itu setara USD 157 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun. Maka, berturut-turut kemudian, tiap tahun hingga 1965, rilis film James Bond teranyar. Saat itu, Bond-mania telah mendunia.

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, apa yang membuat Bond-mania mendunia?

Bila dilihat sekarang, film-film James Bond lawas memang terasa biasa saja. Tapi coba Anda pahami kondisi saat filmnya rilis. David Kamp di Vanity Fair edisi Oktober 2012 membandingkan Bond-mania di awal 1960-an selayaknya Beatlemania di dekade yang sama. Seperti lagu-lagu Beatles gubahan John Lennon-Paul McCartney yang mendahului zamannya, begitu pun film-film Bond.

Pada 1960-an, hanya 2 persen penduduk Amerika yang bepergian dengan pesawat. Maka, film Bond yang menampilkan si agen rahasia 007 bertualang ke tempat-tempat eksotis di belahan dunia lain terasa baru saat itu.

 “Ada rasa ‘Beli tiket bioskop, kami akan mengajak Anda bepergian!’” kata Guy Hamilton, sutradara Goldfinger.

Dia mengingat pesan Broccoli dan Saltzman tentang bagaimana Bond bepergian. “Jangan gunakan kereta bila memang bisa naik pesawat, dan jika naik pesawat, pastikan pesawat yang paling baru. Dan jika memberi mobil untuk Bond, jangan pakai mobil yang sudah ada—gunakan mobil yang belum keluar.”

Sean Connery saat jadi James Bond di Goldfinger. (dok. 007.com)

Itu sebabnya, jika di novel Goldfinger Bond mengendarai Aston Martin DBIII, di versi filmnya ia menggunakan DB5 yang rlis lima tahun kemudian. Itu juga sebabnya James Bond kerap dibekali senjata-senjata canggih dalam setiap petualangannya.

Selain sisi eksotika dunia baru dan teknologi canggih terbaru, ada unsur lain yang wajib hadir di film-film Bond: seks. Kelahiran James Bond mewakili revolusi bagaimana tabu soal seks dibongkar dalam produk budaya pop.

Tidak ada lagi kesantunan nan munafik era 1950-an. Saatnya seks tampil terbuka di budaya pop.

Media masa itu mencatat, penampilan cewek Bond, Ursula Andres, sebagai Honey Ryder yang berbikini nyaris telanjang bikin semua orang kaget. Kolumnis media hiburan, Erskine Johnson, ketika itu menulis, “Nama Ursula Andres, 26 tahun, seharusnya ditulis ‘Undress—tak berpakaian.’”

Intinya, setiap film James Bond dirancang untuk mendahului zamannya. Tak pelak, pengalaman menonton di bioskop jadi terasa baru bagi penonton.

Selain itu pula, Broccoli punya trik pemasaran jitu. Publik di Barat bisa dengan mudah mengidentikkan James Bond sebagai kisah mereka membekuk lawan politik Blok Timur, Uni Soviet dan kawan-kawannya.

Film Bond memang lahir di masa Perang Dingin. Bagi penduduk di Barat tentu senang melihat di bioskop mereka menang melawan Uni Soviet. Padahal, bila ditelisik lebih jauh, James Bond-nya Broccoli tak pernah menunjuk hidung secara langsung Uni Soviet sebagai dalang bagi segala kekacauan dunia.

Richard Corliss di Time menulis, insting Broccoli tajam. Ia sadar, menuding langsung Uni Soviet sebagai penjahat bakal menyulitkan filmnya diterima di negara-negara yang berhaluan Komunis. Padahal, ia ingin Bond jadi franchise yang mengglobal, ditonton mereka yang menganut kapitalisme maupun komunisme.

Itu sebabnya, alih-alih menyebut negara yang bertanggung jawab jadi penjahat, penjahat di film-film Bond kebanyakan aksi individual. Kalaupun ada kelompok penjahat, yang disuguhkan adalah organisasi macam SPECTRE.   

Roger Moore saat jadi James Bond. (dok. 007.com)

Sudah 50 tahun lewat dan USD 6 miliar kemudian, James Bond terus hidup. Sudah enam aktor berkesempatan mengucapkan kalimat “The name is Bond, James Bond.” Sean Connery (6 kali), George Lazenby (1 kali), Roger Moore (7 kali), Timothy Dalton (2 kali), Pierce Brosnan (4 kali), dan Daniel Craig (4 kali).

Setiap aktor menghidupkan karakter James Bond masing-masing sesuai tuntutan zaman masa itu. Saat tak lagi pas, si aktor bisa diganti. Pemilihan Daniel Craig sebagai Bond sempat mendatangkan penolakan lantaran ia dianggap kurang tampan dibanding pendahulunya.

Namun Craig kemudian membuktikan: dia James Bond zaman kiwari. Bond yang dingin dan tak kenal ampun di Casino Royale, sebuah reboot atau penceritaan ulang hikayat Bond bagi penonton generasi baru.

Generasi 2000-an telah tumbuh bersama Bond versi Craig. Pertanyaan besar menggayut saat nonton Spectre, film ke-4 Craig sebagai agen 007 setelah Casino Royale (2006), Quantum of Solace (2008), dan Skyfall (2012). Apakah kini saatnya Daniel Craig pensiun dan menyerahkan tongkat estafet pada pemeran baru?

Keluarga Broccoli yang kini mengepalai Eon Productions pasca Albert R.”Cubby” Broccoli tiada, namun putrinya, Barbara dan anak angkatnya, Michael G. Wilson akan selalu menemukan cara menghidupkan James Bond sesuai zaman yang tengah berubah. Selama 50 tahun lebih mereka sudah membuktikan. (Hmb/Yus)