Sukses

Dunia 'Batal' Kiamat, tapi Mereka Telanjur Tewas

Liputan6.com, Utah - Hari yang indah di musim gugur yang sendu pada 2014. Suara teriakan memekikkan telinga dari seorang nenek menguak kejadian mengerikan di balik sebuah pintu yang terkunci. Di sebuah kamar rumah yang terletak di Springville, Utah, Amerika Serikat, satu keluarga ditemukan tak bernyawa.

Jasad kaku ayah, ibu, dan tiga anak yang masih remaja terbaring di tempat tidur. Polisi menyelidiki kematian mereka. Tak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Namun, cangkir berisi cairan mencurigakan berada di sebelah masing-masing jenazah.

Dalam konferensi pers Selasa, 27 Januari 2015 waktu setempat, Kepala Kepolisian Springville J. Scott Finlayson mengatakan berdasarkan bukti-bukti, para penyelidik menyimpulkan para korban tewas akibat keracunan narkoba, entah itu metadone, heroin, atau campuran obat lainnya--di antaranya obat flu. Motifnya diduga bunuh diri.

Sebelum kejadian, pasangan Benjamin dan Kristi Strack dilaporkan sempat berkeluh kesah pada teman maupun keluarga. Mereka mengaku khawatir karena kiamat segera menjelang.

Pihak berwenang kemudian menyimpulkan pasangan Strack melakukbahwan bunuh diri. Dua anak termuda dinyatakan tewas dibunuh, meski Finlayson mengatakan tak ada tanda-tanda perlawanan.

Di lain pihak, kematian putra sulung, Benson Strack, belum bisa dipastikan, apakah dibunuh atau memilih mati. Polisi mengatakan Benson sempat menulis surat perpisahan, mewariskan beberapa barang untuk sahabatnya.

Finlayson mengatakan berdasarkan keterangan dari sejumlah orang, diindikasikan bahwa pasangan keluarga Stracks khawatir tentang kejahatan di dunia dan ingin lari dari "azab yang akan datang".

Keluarga Strack bukan satu-satunya yang memutuskan untuk mati menghadapi kiamat. Apalagi pada saat ramalan Suku Maya yang mengatakan bahwa dunia bakal kiamat pada 21 Desember 2012. 21-12-2012. Kombinasi unik sekaligus menyeramkan.

Tak tanggung-tanggung. Akibat ramalan ini, banyak orang melakukan kegiatan yang seakan-akan "besok kiamat". Mulai dari bercinta sepuasnya, makan enak, hingga bunuh diri massal.

Sebuah undangan bunuh diri massal sempat beredar di media sosial Facebook. Capilla del Monte, Argentina, dipilih untuk lokasi bunuh diri secara spiritual pada 21 Desember 2012 di Gunung Uritorco. Tepat pada hari "kiamat" Maya.

Undangan bertajuk Bunuh Diri Massal Magis 21/12/2012 itu berbunyi, "Untuk semua orang percaya, kepada semua makhluk, dan tentara cahaya, saya mengundang Anda untuk bunuh diri spiritual secara massal di Uritorco, Cordoba, Argentina."

"Kita akan meninggalkan daging yang tak suci ini dan memindahkan ruh melalui portal antardimensi pada pukul 21.12 pada 21/12/2012."

Pengirim undangan itu mengatasnamakan diri sebagai kelompok "Ente EBR". Undangan itu mendapat balasan (RSVP) dari sekitar 150 orang.

Mengetahui perihal undangan ini, keluarga Anchorena, pemilik gunung itu, menghubungi pengacara mereka yang menyarankan untuk menutup akses Uritorco di hari yang bertepatan dengan berakhirnya kalender hitung panjang (Long Count) Maya itu.

"Kami bertindak cepat sejak mengetahui isu itu berembus. Kami tetap khawatir meski itu hanya gurauan. Kita tak pernah tahu apa yang mungkin terjadi," kata Rafael Garcia Perez, Manajer Gunung Uritorco, kepada Clarin, seperti dimuat WorldCrunch.

Uritorco memiliki tinggi 1.979 meter. Gunung itu sontak terkenal ketika Januari 1986 lalu kilatan cahaya misterius meninggalkan bekas seluas 120x70 meter di satu sisinya. Sejak saat itu, ada banyak penampakan UFO dan alien dilaporkan terjadi di sana, sehingga menarik para turis New Age untuk datang.

Tak hanya pemiliknya yang waswas. Wali Kota Capilla del Monte, Gustavo Sez, bahkan mengadakan rapat mendadak membahas masalah itu. Kekhawatiran terbesarnya, kota berpenduduk 16.000 orang akan dibanjiri pendatang dua kali lipatnya, menimbulkan kisruh. Polisi diminta bersiaga.

Semua akses ke atas gunung ditutup, termasuk semua jalur alternatif. Namun, bar dan restoran di kaki gunung akan tetap buka. Sementara kegiatan lain yang direncanakan pada siang hari, termasuk meditasi massal, akan berlangsung sesuai jadwal.

1 dari 3 halaman

Ramalan Kiamat, Bunuh Diri, Bukan Isapan Jempol

Bahwa rumor kiamat bisa mengakibatkan konsekuensi serius, bunuh diri bukan isapan jempol.

Saat Komet Hale-Bopp terlihat pada 1997, isu merebak bahwa pesawat alien mengikutinya. Rumor yang dipublikasikan paranormal Art Bell dalam talk show Coast to Coast AM mengilhami terbentuknya sekte bernama Gerbang Surga, yang menyimpulkan dunia akan segera berakhir.

Ternyata ramalan itu benar bagi bagi 39 anggota sekte. Hidup mereka berakhir usai bunuh diri massal pada 26 Maret 1997.

Yang paling fenomenal adalah Harold Camping. Ia meramalkan Hari Penghakiman akan tiba 21 Mei 2011, lalu direvisi 21 Oktober tahun yang sama. Dua-duanya salah. Kredibilitas Camping dan pengikutnya ambrol.

Namun, tidak bagi Lyn Benedetto. Ia diduga memaksa dua putrinya, usia 11 dan 14, berbaring di tempat tidur dan mengiris leher mereka lalu bunuh diri. Beruntung polisi lekas datang dan menyelamatkan mereka. Ibu itu pun diperkarakan secara hukum, sementara dua anaknya trauma berat.

Yang lain tak cukup beruntung. Seorang pria paruh baya di Taiwan meloncat dari gedung tinggi saat mendengar isu kiamat. Nyawanya melayang.

"Kasus kegagalan Camping adalah pembelajaran berharga, sebab ramalan kiamat tak akan pernah habis. Banyak orang terutama di era New Age yakin 2012 adalah akhir dunia," kata investigator fiksi ilmiah, Benjamin Radford.

Ramalan Camping ini adalah ramalan yang diyakini telah hadir pada abad ke-18. Pada 23 Oktober 1844, sekitar 100 ribu orang berkumpul di sisi bukit, di balai pertemuan, atau menyemut di padang rumput. Wajah mereka mendongak ke langit, tersenyum, penuh harap.

Diyakini kiamat akan datang Rabu itu, 22 Oktober 1844. Namun, orang-orang tak takut. Sang Juru Selamat akan muncul menawarkan perlindungan. Itu yang mereka yakini.

Namun tak ada apa pun yang terjadi. Pagi berganti siang, lalu cahaya mentari hilang disapu gelap. Tengah malam, suka cita luntur berganti gelisah. Dengan perasaan sedih dan terguncang, orang-orang itu pulang berurai air mata. Menangis hingga fajar menjelang. Pagi harinya, mereka akhirnya sadar, "kiamat" tak jadi datang.

"Rabu pagi itu aku masih merasa sehat. Namun, setelah pukul 12.00 aku merasa nyaris pingsan. Dan sebelum gelap, aku membutuhkan bantuan untuk mencapai kamar. Kekuatanku menguap dengan cepat. Aku terbaring tak berdaya, bukan karena penyakit, tapi kecewa," tulis salah satu dari mereka, Henry Emmons.

Peristiwa itu dikenal sebagai The Great Disappointment, kekecewaan besar yang dipicu ramalan kiamat seorang petani sekaligus pemuka agama asal New England, Amerika Serikat, William Miller.

"William Miller mungkin adalah 'nabi palsu' paling terkenal dalam sejarah," demikian artikel yang ditulis Time.

Pada 1840-an, ia berkoar tentang akhir dunia bahwa api akan membuat dunia berkobar antara 21 Maret 1843 dan 21 Maret 1844. Miller aktif berceramah di tempat orang-orang berkumpul. Menyebarkan pesannya lewat poster, surat kabar, dan selebaran.

Pesan itu mengena. Sekitar 100 ribu orang mendeklarasikan diri sebagai 'Millerites'. Semua harta benda dijual atau disumbangkan. Menurut mereka, apa gunanya, toh kiamat segera datang. Mereka kemudian menuju pegunungan untuk menanti detik-detik terakhir kehidupan di muka Bumi.

Saat ramalannya terbukti gagal total, Miller berdalih ia salah menghitung hari, tapi berkukuh metodenya benar. Kemudian menyodorkan tanggal baru, 22 Oktober 1844--yang ternyata juga keliru.

Miller meninggal dunia 5 tahun kemudian. Membawa keyakinan dunia akan segera kiamat.

Meski Miller tiada, sejumlah pengikut masih melestarikan keyakinannya itu dan menciptakan sekte baru. 

2 dari 3 halaman

Kiamat Era Milinial yang Gagal

Yang terbaru adalah ramalan kiamat yang konon terjadi pada 7 Oktober 2015. Suatu ramalan diterbitkan oleh situs web kelompok kepercayaan yang beralamat di Sharon Hills, Pennsylvania. Menurut mereka, dunia akan binasa pada tanggal tersebut.

Pendiri kelompok itu, Chris McCann, mengatakan kepada The Guardian, “Menurut apa yang kami baca, sepertinya 7 Oktober merupakan tanggal yang diungkapkan Tuhan di mana dunia akan berakhir. Tamat selamanya. Musnah.”

Pria itu mengaku sudah mempelajarinya dan merujuk kepada pengakuan-pengakuan sebelumnya yang mengatakan dunia akan berakhir pada 21 Mei 2011. Ia merujuk pada ramalan Camping.

Ramalan pria itu berdasarkan kepada peristiwa bulan darah, suatu gerhana bulan yang dikaitkan dengan fenomena super moon yang terjadi pada 27 September 2015.

“Tuhan dulu membinasakan Bumi dengan air, melalui suatu banjir di masa Nabi Nuh. Dan Ia tidak akan melakukannya lagi, maksudnya bukan dengan air lagi. Tapi Tuhan mengatakan akan melakukannya dengan api,” kata McCann lagi, “Ada kemungkinan besar ini akan terjadi.” Namun, faktanya, tak ada apa pun yang terjadi.

Bukan itu saja ramalan kiamat yang gagal total. Sejumlah orang sebelumnya meramalkan peristiwa dahsyat akan terjadi pada 23 September 2015. Lagi-lagi benda langit dituding jadi penyebabnya. Salah satunya, konon asteroid selebar 2,5 mil akan menghantam Puerto Rico.

Nurbuat itu juga dikaitkan dengan ramalan gerhana bulan merah darah atau blood moon pada 28 September 2015 yang sebagian orang anggap sebagai akhir dunia.

Namun, isu tersebut dibantah mentah-mentah oleh NASA. "Tak ada bukti sahih bahwa asteroid atau benda langit lain akan menghantam Bumi," kata Paul Chodas dari laboratorium NASA Jet Propulsion Laboratory, Pasadena, California. (Rie/Yus)**