Sukses

Tragedi Mina, di Antara Kepanikan Jemaah dan Ribuan Jenazah

Liputan6.com, Jakarta - Abdullah Lotfy, 44 tahun, bakal selalu mengingat hari itu, Kamis, 24 September 2015. Saat itu ia tinggal berjarak selangkah dari maut. Niat menjalankan salah satu rangkaian ibadah haji, bersama ribuan jemaah lain ia terjebak di Mina, dan harus berusaha keras menyelamatkan hidupnya.

Mereka nyaris tak punya jalan keluar, terombang ambing oleh desakan ribuan jemaaah. "Orang-orang saling memanjat demi bisa bernapas," kata jemaah haji dari Mesir itu seperti dikutip dari situs Sun News Online. "Seperti terjebak di tengah ombak. Tiap melangkah maju, tiba-tiba terdorong ke belakang."

Insiden desak-desakan itu memicu tragedi yang menjadi catatan kelam pelaksanaan ibadah haji tahun ini. Tragedi di Mina terjadi pada pukul 07.30 waktu Arab Saudi. Insiden di Jalan Arab 204 itu terjadi ketika jemaah hendak melakukan lempar Jumrah Aqabah.

Kecelakaan ini terjadi di Jalan 204 (Street 204), bersimpangan dengan Jalan 223. Jalan 204 merupakan jalur utama untuk berjalan melakukan lempar jumrah. Melempar jumrah adalah salah satu wajib haji. Jemaah yang tidak melontar wajib membayar denda berupa seekor kambing.

Pagi hari menjadi waktu yang banyak dipilih para jemaah haji seluruh dunia untuk menuju Mina, lokasi Jamarat, tempat pelemparan jumrah. Pagi hari dipilih demi menghindari cuaca panas yang terik saat siang hari.

Saat itu, aksi saling desak dan dorong berawal ketika jemaah terhenti di Jalur 204. Aksi saling dorong pun tak terhindarkan. Orang-orang panik dan kerusuhan pun pecah seiring cuaca yang memanas.

Saat mendekati Jamara, gerbang dalam kondisi tertutup namun jemaah tak mengetahui. Akibatnya massa kian menumpuk. Orang-orang yang berbalik dari gerbang yang tertutup kemudian bertemu rombongan yang datang. "Di tengah cuaca panas, situasi tak terkendali," ujar Abdullah Lotfy.

Jalan yang membelah perkampungan tenda di Mina relatif sempit. Lebar jalan tempat terjadinya musibah hanya selebar 12 meter yang diapit gerbang-gerbang tinggi di kanan dan kirinya.

Saksi lain, Mohamed Awad,  butuh waktu setengah jam untuk melepaskan diri dari impitan ribuan manusia. Ia memanjat gerbang tinggi  agar bisa bernapas dan lanjut mencari ayahnya yang terpisah.

Setelah kondisi mereda sejam kemudian, Awad berhasil menemukan ayahnya di bawah tumpukan manusia, dan untungnya masih hidup. "Tumpukan manusia tak terhitung banyaknya. Menumpuk tinggi," kata Awad.

Radhi Hassan juga tak menyangka bisa melintasi masa kritis itu. Jemaah dari Irak ini berupaya keras keluar dari kerumunan manusia. Dia mendorong orang-orang dan berhasil keluar.

"Ribuan orang mencoba mendorong dan terjatuh ke tanah seperti domino. Para jemaah menginjak jemaah lainnya dan banyak orang kehabisan nafas," kata dia seperti dikutip dari The Guardian.

1 dari 3 halaman

Korban Tembus 2 Ribu Jiwa

Dengan kericuhan seperti itu banyak jemaah yang tak bisa menyelamatkan diri. Terinjak-injak dan kehabisan napas, korban-korban berjatuhan. Sejauh ini angka final korban belum dipastikan.

Para jemaah yang wafat di Mina selanjutnya disimpan dalam beberapa kontainer berpendingin udara. Kontainer itu kemudian dimasukkan ke ruang identifikasi saat pemeriksaan akan dimulai.

"Kontainer masuk, jenazah turun. Diidentifikasi apakah ada barang yang ditemukan, lalu dimasukkan ke file. Setelah itu kontainer keluar dan masuk lagi kontainer selanjutnya," jelas anggota tim pencari jenazah dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Fadil Ahmad .

Setelah diturunkan, jenazah akan difoto untuk dirilis dan diberi nomor jenazah. Sedangkan benda atau dokumen apa pun yang melekat pada jenazah akan diambil untuk kemudian dimasukkan dalam satu file tersendiri yang juga diberi nomor jenazah.

Proses awal identifikasi jenazah dilakukan berdasarkan dari foto-foto yang telah dirilis. Jika ternyata ada kemiripan dengan jemaah Indonesia, maka dilakukan proses cek lanjutan dengan mencocokkan file yang tersimpan di gedung yang berbeda

Sejauh ini 2.000 foto sudah diidentifikasi pemerintah Arab Saudi. Dengan demikian, jumlah korban tragedi Mina di Jalan 204 diduga kuat mencapai sekitar 2.000 jiwa.

Angka itu melebihi jumlah korban musibah Mina yang terjadi pada 2 Juli 1990. Saat itu 1.426 orang jemaah haji meninggal dunia akibat saling injak di terowongan Haratul Lisan, Mina.

Kini sekitar 1.800 jenazah yang sudah dimakamkan di pemakaman yang berada di sisi kanan tempat pemulasaran jemazah Muashim Majma' Ath-Thawari bil Mu'ashim. Korban wafat yang berasal dari Indonesia juga dimakamkan di sana. Jenazah harus segera dimakamkan karena dikhawatirkan dapat menimbulkan wabah penyakit jika dibiarkan terlalu lama.

Lokasi pemakaman korban tragedi Mina di Mekah, Arab Saudi. (Liputan6.com/Wawan Isab Rubiyanto)

Dari pengamatan Liputan6.com, kuburan Muashim berbentuk hamparan luas sekitar 3 kali lapangan sepakbola. Hamparan itu tampak dibuat blok-blok dengan ukuran sekitar 8x100 meter. Di setiap blok, dibuat liang lahat dengan ukuran panjang 2,5 m, lebar 1,5 m, dan kedalaman 2,5 m.

Lubang-lubang itu dibuat berjajar, masing-masing 5 lubang ke samping. Pada sisi kanan dan kiri tembok pembatas, tertulis nomor pemakaman dalam rentang 1-5 secara berurutan. Diperkirakan dalam setiap blok terdapat kurang lebih 200 lubang. Di atas setiap makam jenazah, ditaruh paving blok sebagai penanda adanya jenazah yang dimakamkan di bawahnya.

Pemakaman Muashim ini diperkirakan bisa menampung hingga mencapai 9.000 jenazah. Lebih dari 1.400 jenazah korban terowongan Mina yang terjadi pada 1990 juga dimakamkan di pemakaman ini pada blok yang berbeda.

2 dari 3 halaman

Keselamatan Adalah Kunci

Bagaimana nasih jemaah Indonesia? Pada awal tragedi Mina ini, besar harapan tak banyak korban dari jemaah Indonesia. Sebab Jalan Arab 204 bukan merupakan jalur yang biasa ditempuh khususnya jemaah haji. Jalan Arab 204 berada di sebelah kiri Jalan King Fadh atau lebih dari 500 meter dari Jalan King Fadh yang biasa dilalui jemaah Indonesia.

Namun setiap harinya laporan menyebutkan jumlah korban jemaah Indonesia terus bertambah. Identifikasi awal yang menunjukkan bahwa ada korban dari WNI berasal dari kain slayer, kain yang biasa dikalungkan di leher atau kepala yang dipakai jemaah haji Indonesia.

Setelah itu, pihak Kementerian Agama melakukan koordinasi dengan panitia penyelenggara ibadah haji di Mekah untuk memeriksa informasi tersebut. Kepala Daker Mekah Arsyad Hidayat mengatakan, informasi terkini perkembangan jemaah haji Indonesia yang menjadi korban wafat tragedi Mina, sampai Minggu 4 Oktober 2015 menjadi 100 orang.

Berdasarkan data awal tragedi Mina, 154 jemaah haji Indonesia dilaporkan hilang dan belum kembali ke maktab atau pemondokan. Hingga hari ke-10 pencarian jemaah haji pasca-tragedi Mina, sudah ada 126 orang atau 82 persen yang berhasil diidentifikasi -- tidak termasuk mukimin.  

Sebanyak jemaah 126 jemaah tersebut terdiri dari jemaah haji wafat 100 orang termasuk 5 mukimin atau jemaah WNI yang tinggal di Arab Saudi, jemaah yang masih dirawat di rumah sakit 6 orang, jemaah yang sudah kembali ke kloternya 25 orang.

Tragedi Mina menuai perhatian khalayak internasional dan memicu seruan untuk perbaikan penyelenggaraan ibadah haji. Tragedi ini pun dinilai menjadi momentum perbaikan.

Korban tragedi Mina. (Arab News)

Tak hanya untuk otoritas Arab Saudi dan negara asal, seruan terkait pelaksanaan haji juga ditujukan ke para calon jemaah. Seruan itu salah satunya dari Khatib Am Pengurus Besar Nahdhlatul Ulama Yahya Cholil Staquf.

"Ibadah haji itu wajib dan kalau dijamin selamat. Kalau ada risiko tidak selamat, kalau di situ kehilangan harta sedikit saja, itu sudah tidak wajib. Jangan ngoyo mau naik haji," kata dia ‎di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (2/10/2015).

Adapun Dosen UIN Syarif Hidayatullah‎ Syafiq Hasyim mencatat angka kematian jemaah Indonesia cukup tinggi. Di Iran, pada 2004 dari 100 ribu jemaah haji yang meninggal dunia hanya 5 orang. Di Indonesia sampai 2008,  200-300 orang per 100 ribu. (Hmb/Yus)