Sukses

Bermacet-macet Dahulu (Semoga) Lancar Kemudian

Liputan6.com, Jakarta Arius Dewo (36), warga Petukangan, Jakarta Selatan, memutuskan pindah ke kontrakan di daerah Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Dia mengaku sudah tak kuat melintasi jalur 'neraka' jalanan Petukangan - Kebayoran, Jakarta Selatan setiiap pagi berangkat kerja.

Beberapa bulan terakhir ruas itu memang macet parah cenderung mampet nyaris setiap saat. Selain jalurnya memang padat, trafik jalanan kian tersendat karena sedang dilaksanakan proyek pembangunan jalan layang Bus TransJakarta Koridor XIII Ciledug-Tendean.

Jika jalanan lancar, kata Arius, dari rumahnya sampai daerah Blok M mungkin hanya butuh waktu 5-10 menit. Tapi seiring kemacetan parah sekarang minimal butuh waktu satu jam. "Paling lancar kalau tengah malam," katanya kepada Liputan6.com, Sabtu (26/9/2015).

Tak hanya Arius yang mengalami macetnya jalanan ruas itu. Pengguna jalan lain yang 'terpaksa' melintas pun mengaku kepayahan. Bahkan beberapa angkutan umum di jalur itu kadang pilih ambil jalan memutar.

"Kalau maksa lewat sini, habis waktu sama bensin, mending muter," kata seorang sopir Metro Mini yang melintasi jalanan itu.

Proyek jalan layang Ciledug-Tendean sendiri sejauh ini juga 'on the right track'. Dari catatan Dinas Bina Marga DKI Jakarta, pembangunan jalan layang terus dikebut delapan paket. Sampai September ini progres pembangunan itu sendiri sudah mencapai 22,27% dari rencana hanya 18,39%.

Sejumlah ruas jalan Jakarta belakangan ini memang ekstra macet. Pemicunya adalah proyek perbaikan dan pengembangan infrastruktur jalan di Jakarta.

Melintasi jalanan lokasi proyek seperti mengayuh di arung jeram, harus berkelok-kelok menghindari pekerjaan konstruksi. Jalanan menyempit, kamacetan pun tak terhindarkan.

Jalan Sudirman arah Blok M mengalami penyempitan arus lalu lintas, Jakarta, Selasa (17/6/14). (Liputan6.com/Faizal Fanani)


Masalahnya, proyek infrastruktur serupa di Jakarta dikerjakan nyaris bersamaan. Titik-titik macet seperti di ruas Ciledug-Tendean juga dijumpai di beberapa titik lain. Sebut saja misal pembangunan jembatan layang dari arah Permata Hijau-Senayan, dan yang pasti proyek sarana transportasi massal di ruas jalan protokol.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama aias Ahok pun mengakui ikhwal kemacetan yang dipicu proyek-proyek perbaikan jalan tersebut. Harapannya ada peningkatan infrastruktur itu berbuah terurainya kemacetan di masa mendatang.

"Saya kan sudah bilang, Jakarta di masa saya akan tambah macet," katanya dalam berbagai kesempatan.

Menurut Ahok, banyak faktor yang membuat Jakarta di eranya akan sangat macet. Berbagai pembangunan moda transportasi massal akan dibangun sekaligus.

"16 tol dalam kota, 3 koridor layang busway, LRT, semua saya timpa sekaligus. Macet-macet sekalian deh, yang penting nanti ada satu jalur busway, yang steril," kata Ahok.

1 dari 2 halaman

Dari Semanggi Sampai Becakayu

Jika semua proyek sekarang rampung, agenda pembangunan ini juga belum akan segera berakhir. Di luar proyek-proyek yang sekarang tengah berjalan, proyek lain sudah direncanakan.

Satu contoh misalnya proyek jalan untuk mengurai kemacetan di salah satu daerah langanan macet: Bundaran Semanggi, Jakarta Selatan. Kawasan itu juga nyaris macet setiap saat karena menjadi titik perrtemuan dari berbagai arah.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun berencana membangun jalan layang di kawasan tersebut. Ahok bahkan optimistis proyek tersebut bisa mulai dilaksanakan tahun depan.

"Kalau hitungan cepat, bisa mulai tahun depan," kata dia awal bulan lalu.

Dia mengatakan jalan layang Semanggi dapat membantu mengurai kemacetan yang kerap terjadi di sana. Rencananya, Pemprov DKI menggandeng swasta untuk membiayai proyek tersebut.

Pihak swasta yang terlibat akan diberikan kompensasi berupa keistimewaan bisa membangun bangunan melebihi ambang batas yang telah ditentukan oleh pemerintah. "Semanggi  itu cuma bikin layangnya di atas jalan tol yang sekarang," jelas Ahok.

Nantinya, Semanggi akan memiliki 'telinga' setelah pembangunan rampung. Saat ini jembatan Semanggi berbentuk angka 8. Warga dari Jalan Gatot Subroto, dari arah Kuningan menuju Jalan Sudirman ke arah Bundaran Hotel Indonesia harus melalui jembatan dulu baru berbelok ke kiri.

Jalan layang yang akan dibangun di kawasan Bundaran Semanggi akan dibuat dengan model melingkari bundaran. Dengan adanya jalan layang melingkar ini, nantinya bila dilihat dari udara, Bundaran Semanggi akan terlihat seperti dikelilingi oleh lingkaran.

Jika sudah beroperasi, pengguna jalan langsung berbelok sebelum naik ke jembatan. Hal yang sama juga berlaku pada warga dari arah Slipi menuju Senayan. Pengendara yang sebelumnya harus melalui jembatan baru berbelok ke kiri tidak perlu lagi melakukan itu.

Tak hanya prasarana jalan, pembangunan juga menyasar fasilitas penunjang. Pada lain kesempatan Ahok mengutarakan niatnya membongkar jalur lambat kendaraan bermotor di sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Hal ini dilakukan untuk menambah luas trotoar bagi pejalan kaki.

"Kalau tambah jalur lambat jadi enam jalur buat apa. Makanya nanti Semanggi dari Monas, jalur lambat akan kami buang biar dibuat trotoar. Jadi yang terpanjang," kata  dia.

Trotoar yang sudah dilebarkan itu nantinya bisa dimanfaatkan oleh para pemilik gedung di sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan MH Thamrin untuk membuka kios ataupun  restoran mini. Ide ini untuk menambah ruang terbuka bagi warga.

"Pemilik gedung boleh buat bangunan kecil kios buat jualan, bahkan bisa restoran mini. Jadi Jakarta punya tempat hang out buat anak muda. Ini akan membuat Jakarta 24  jam untuk daerah Sudirman -Thamrin. Trotoarnya dilebarkan 9 kali 10 meter, ada pohon di tengah," jelas dia.

Mantan Bupati Belitung Timur itu memastikan rencana pelebaran trotoar itu akan dilakukan setelah proyek pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) trayek Bundaran HI-Lebak Bulus rampung.  "Kamu suka nongkrong di Sarinah, kamu nongkrongnya di trotoarnya bisa, kalau enggak musim hujan," ujarnya.
 

Pekerja dibantu alat berat menyelesaikan proyek pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Lebak Bulus, Jakarta, Senin (23/3/2015). Rencananya, pembangunan koridor tersebut ditargetkan selesai pada Mei 2016. (Liputan6.com/Yoppy Renato)


Proyek di Jakarta tak hanya 'gawe' pemerintah provinsi. Proyek yang ditangani pusat sendiri pun bergulir secara bersamaan semisal pembangunan jalan layang Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu).

Proyek yang sempat terkatung-katung selama 17 tahun itu akhirnya kembali dilanjutkan. Saat ini telah berjalan pengerjaan seksi I sepanjang 21,04 km dari Kampung Melayu, Jakarta Timur, hingga Jakasampurna, Kota Bekasi.

Tol Becakayu dibangun pemerintah pusat dengan tujuan membagi beban kendaraan yang selama ini memadati Jalan Noer Alie, Kalimalang. Jalan tersebut adalah salah satu perlintasan utama warga dari Bekasi ke Jakarta.

Proyek Tol Becakayu akan berada di atas jalan sisi Kalimalang, Jakarta Timur. Pengerjaan Tol Becakayu dibagi atas dua seksi; seksi I Kampung Melayu-Jakasampurna dan seksi II Jakasampurna-Duren Jaya. Panjang seksi I adalah 11 km, dan seksi II sekitar 10,04 km. Total investasi Tol Becakayu mencapai Rp 7,2 triliun.

Sebelumnya, tampak tiang-tiang mangkrak di lokasi proyek. Tiang-tiang penyangga jalan tol itu sudah dipancangkan di sepanjang sisi Kalimalang, mulai dari Jatiwaringin hingga Duren Sawit, Jakarta Timur.

Terkait proyek itu, penyiapan lahan terus dilakukan. Lebih dari 917 pohon ditebang akibat terkena proyek tersebut; di antaranya 717 pohon besar dan 200 lebih pohon ukuran kecil.

Dinas Pertamanan dan Pemakaman Jakarta Timur menjamin pohon-pohon yang ditebang akan diganti lebih banyak. Pohon pengganti ini akan ditanam terutama di daerah gersang seputar lokasi proyek.

Terkait pengerjaan proyek ini, yang jelas kemacetan pun bertambah di jalanan yang berhubungan dengan lokasi proyek. Dari pantauan di lapangan, kondisi macet tak terhindarkan di daerah-daerah yang menjadi titik pembangunan prasarana transportasi ini.

Apapun rencananya, harapan warga dan semua pihak terkait di Jakarta sudah jelas: jalanan Jakarta tak lagi macet. (Hmb/Yus)