Sukses

Pelampung, Perahu, dan Persabungan Nyawa dari Suriah ke Eropa

Liputan6.com, Alexandria - Tangannya memain-mainkan pulpen. Itu bukan alat tulis biasa. Itu adalah laser pen berpijar hijau.

"Ini adalah alat yang akan aku selipkan di tubuh dan jaket pelampungku. Kalau saja kapalku karam, aku akan menyalakan laser pen ini agar penyelamat tahu posisiku berada," kata Abu Jana, kepada The Guardian, Jumat 4 September 2015. Ia bersama 3 rekannya dari Suriah tertahan di Mesir selama hampir 3 tahun, setelah berhasil kabur dari negerinya yang porak-poranda akibat perang.

Dokumen seperti paspor dan dokumen penting lain dimasukkan ke dalam plastik kuning kedap udara dan rencananya direkatkan dengan selotip ke tubuhnya.

"Kalau nanti aku tak selamat, setidaknya jasadku akan dikenal," tuturnya lagi mempersiapkan perjalanan. Abu juga tak lupa membawa lemon seperti pesan istrinya nun jauh di Suriah agar ia tak mabuk saat menyeberang lautan ganas menuju Eropa.

Jaket Pelampung, Lemon, Plastik, Mereka Korbankan Nyawa ke Eropa (Guardian)

Nasib tak kunjung membawanya menuju Eropa. Tapi, malam ini setelah berhasil mengumpulkan uang, ia bersiap menuju Jerman.

Abu Jana bercerita betapa dia begitu putus asa. Dia meninggalkan istri, anak, serta pekerjaannya sebagai seorang perwira di tentara Suriah setelah menyaksikan pembantaian negara yang dipimpin Presiden Assad pada awal 2011. Keputusan ini membuat dia menjadi buronan di Suriah sehingga tidak bisa kembali. Dia juga tak bisa mendapatkan paspor dari kedutaan Suriah di Kairo.

Itu berarti dia tidak dapat melakukan perjalanan secara hukum, atau mencari pekerjaan di Mesir, atau mendaftar di universitas. Hal ini juga berarti dia tidak bisa mendapatkan kontrak sewa yang tepat. Banyak orang Suriah lain dalam posisi yang sama di Mesir: jika mereka telah menerima dokumen yang dikenal sebagai "kartu kuning" dari badan pengungsi PBB, maka kedutaan Suriah menolak untuk memperbaharui paspor mereka.

Nasib Abu Jana lebih parah daripada orang Suriah kebanyakan. Ia bukan saja meninggalkan tanah birokrasi tak bertuan  tapi juga meninggalkan dua anaknya. Dengan tidak ada dokumen yang valid, ia tidak bisa mendapatkan akta kelahiran untuk mereka. Secara legal, anak-anak itu tidak ada. Ketika saatnya tiba, mereka juga akan kesulitan mendaftar di sekolah.

"Untuk semua alasan tersebut, aku memutuskan untuk pergi," katanya. "Aku ingin pergi lewat laut." Dan dia menganggap banyak rakyat Suriah di Mesir mempunyai pikiran yang sama.

"Aku ceritakan sesuatu," kata Abu Jana. "Biarpun jika ada Eropa atau siapapun menenggelamkan kapal kami, aku tak peduli. Karena kami sudah mengganggap diri kami telah mati. Mungkin bukan fisik kami yang mati. Tapi, secara sosial dan psikologis, kami sudah hancur.”

Gelombang pertama pengungsi Suriah terjadi pada 2011. Abu Jana, --nama samarannya—adalah salah satu yang nekat berlayar dari Suriah menuju Eropa. Namun kapalnya karam di perairan Mesir. Bukannya mendapat perlakuan yang baik, ia malah ditahan pihak keamanan Mesir.

Kini, kebebasan telah ia raih. Berbekal keberanian, ia hanya akan membawa satu ransel kecil yang melekat di punggungnya. Menyeberangi lautan, mendarat di Jerman.

Sama halnya dengan Nizar. Saat itu, Nizar berada di perahu yang akan membawanya pergi dari Mesir ke Eropa. Tidak banyak yang ia bawa dari Suriah pada 2013. Satu-satunya 'harta karun' di tasnya adalah jaket pelampung yang telah ia miliki setahun lalu.

Cerita tentang jaket pelampung yang ia beli satu tahun lalu adalah cermin keputusasaannya. Bukan pertama kalinya ia mencoba untuk pergi dengan perahu. Pada September 2014, dengan jaket pelampung yang sama, ia, istri, dan anak-anaknya ditangkap di pantai saat bersiap menyeberang. Bahkan putrinya kena tendang salah seorang polisi Mesir. Keluarga ini menghabiskan 1 minggu di penjara.

Namun, berkat ditahan inilah, mereka masih hidup. Karena, saat itu, kapal yang berhasil berangkat meninggalkan pantai Mesir ternyata karam. 500 penumpang tewas. Tak tersisa.

Meski banyaknya kapal tenggelam dan kematian di depan mata, Nizar tak putus asa. Ia nekat berangkat. Tapi, kali ini taktiknya berbeda. Hanya Nizar dan keponakan prianya yang masih remaja yang akan berangkat terlebih dulu. Istri dan anak-anaknya tetap berada di Mesir sampai ia mendapatkan status suaka.

Itulah strategi yang banyak dipakai para pencari suaka. Tak heran, banyak pengungsi pria muda dan kuat ditemui di Eropa saat mereka berhasil mendarat di sana.

"Awalnya, aku pikir aku bisa menetap di sini. Sampai saat aku bisa kembali ke Suriah. Ternyata tidak ada cara untuk tinggal di Mesir, pun tak ada stabilitas," kenang Nizar.

Mesir memang bukan Suriah, tetapi militan yang melancarkan perlawanan memperburuk keadaan dan pemerintah kekurangan uang bahkan untuk warganya sendiri. Apalagi di tengah gelombang pengungsi.

Terlebih dengan pendidikan yang anak-anaknya dapatkan. "Anak-anakku datang dari medan perang. Tapi bukan berarti mereka mendapatkan sekolah seadanya. Belum lagi, nilai-nilai kejujuran yang tak mereka dapatkan di sini," tambahnya.

Inilah yang manjadi alasan terbesarnya mengapa ia memilih risiko 'melaut' sekali lagi."Yang paling penting adalah masa depan anak-anakku," katanya. Nizar melihat di Negeri Piramida jauh lebih suram dibanding di Eropa.

"Di Eropa, aku bisa memberikan kehidupan untuk anak-anakku, pendidikan yang bagus, pekerjaan yang bagus. Aku tahu Eropa butuh orang-orang dengan kemampuan pekerjaan profesional. Aku sendiri adalah ahli listrik dan masih produktif," tutur pria 39 tahun itu.

Nizar sadar bahwa tidak semua orang Eropa mau menerima pencari suaka. Namun, ia tak punya pilihan. Dan satu-satunya jalan ada menyeberang dengan kapal. Hampir seluruh negara Arab menutup perbatasannya dengan Suriah.

"Kami punya realitas kehidupan yang memaksa kami berbuat seperti ini," kata Nizar.

Nizar dan keluarganya. Tertangkap polisi Mesir saat menunggu kapal menuju Eropa membawa keberuntungan sendiri. Keluarganya selamat dari karamnya kapal yang mengangkut lebih dari 500 pengungsi.

Nizar dan Abu Jana tidak sendiri berada di Mesir dan terombang-ambing.

Ia bersama 130 ribu orang lain tertahan di Mesir. Pengungsi Suriah diterima oleh Mesir saat Presiden Mohammad Mosi memimpin negeri itu. Namun, semenjak kejatuhan Mosi tahun 2013, polisi dan pemerintah setempat berbuat sewenang-wenang terhadap mereka, diantaranya tak ada lagi tunjangan kehidupan—meski kecil—untuk orang-orang ini

Banyak dari pencari suaka ini bekerja ilegal demi mengumpulkan uang agar mereka dapat pergi dari Mesir. Salah satunya adalah Ahmad. Ayah 3 anak berusia 37 tahun. Perjalanannya dari Suriah dan tertahan di Mesir pada 2011 membuat uang tabungannya habis. Ia tak punya uang untuk membayar rumah kontrakannya USS135 per bulan.

"Aku lebih baik mati dari pada melihat anak-anakku hidup di jalan," kata Ahmad kepada Reuters. Ia tak mau menyebut nama belakang demi alasan keamanan. Ia berencana pergi ke Swedia, tempat kerabatnya akan menampungnya kelak.

Namun, semenjak ia tak punya uang sebanyak US$ 2.500 untuk menyeberang, ia mengajak 10 orang Suriah lain untuk menyewa kapal yang lebih murah.

Sementara ini, Ahmed telah menjual perhiasan istrinya demi perjalanan itu.

Pengungsi lain yang terpaksa bekerja sembarangan di Alexandria adalah Abu Oday. Ayah 5 anak berusia 35 tahun ini ditangkap oleh penjaga pantai Mesir pada tahun 2013 dan ditahan selama 98 hari.

Ia bekerja sebagai pengurus pengungsi di sebuah detention center milik pemerintah. Ia dibayar--dengan upah kecil-- untuk mengirimkan makanan dan minuman.

"Tahanan itu benar-benar menyedihkan, perempuan dan anak-anak tidur beralaskan selimut. Dan kalau ingin ke toiletmereka harus menyebrangi tanah berlumpur," tuturnya.

Sementara tahanan pria, tinggal di tingkat dua yang sedang dibangun di mana hawa panas menyiksanya.

"Ada 56 pengungsi yang aku urus. Tidak semua dari Suriah, ada dari Somalia dan Sudan. Mereka ingin pergi ke Italia, namun ditahan di Rossetta saat bepergian dengan bus," jelas Oday.

Abu Jana, Nizar, Ahmed, dan Oday terkatung-katung di negara yang mereka tumpangi setelah mereka berhasil keluar dari Suriah. 'Tawaran' Jerman yang begitu menggiurkan di depan mata. Namun, apa daya, uang belum berkumpul. Mereka harus menahan diri untuk mendapatkan kehidupan lebih layak di Eropa.

Mesir menempati 'peringkat terendah' dalam menampung pengungsi Suriah. Kota terdekat dari Mesir adalah ibu kota Suriah, Damaskus. Alexandria menampung sekitar 137 ribu. Sementara itu, negara yang paling banyak menampung pencari suaka Suriah adalah Turki. Data UNCHR menyebutkan, 1,7 juta pengungsi terdampar di Turki. Urutan kedua ditempati Lebanon dengan 1,2 juta pencari suaka Suriah.

Yordania dan Irak masing-masing menempati urutan ketiga dan keempat dengan jumlah pengungsi kurang dari 1 juta

Lebih dari 4 juta orang meninggalkan Suriah setelah perang bersaudara yang dimulai pada 2011 pecah dan berlanjut dengan masuknya ISIS ke negara itu.

Konflik di Suriah dan membludaknya pencari suaka ke Eropa merupakan krisis terparah kedua sejak Perang Dunia II. Jumlah tersebut menurut UNHCR adalah angka global eksodus yang mengerikan di abad moderen ini hanya dari satu konflik satu negara saja, seperti dilaporkan Washingtonpost.

PBB melaporkan bahwa selama Perang Dunia II, 50 juta orang seluruh dunia kehilangan tempat tinggal dan mengungsi. 

1 dari 4 halaman

"Semua Orang Benci Kami."

Namun, siapa bilang ketika sesampainya di Eropa begitu mudah?

Raffi Halabi memimpin 8 orang pencari suaka sesampainya mereka tiba di Yunani dari Lebanon dengan kapal. Tujuannya satu: Jerman.

Setelah berhasil melewati Macedonia dan Serbia, ia kini berada di Hungaria. Namun, perjalanannya tertahan. Pertama, ia tak lagi bisa membeli tiket kereta api. Kedua, sudah tidak ada bus yang mau membawanya ke Austria ataupun Jerman. Satu-satunya yang ia lakukan adalah berjalan kaki, menembus pagar berkawat duri.

Namun sesampainya di perbatasan, mereka tak bisa melanjutkan perjalanan. "Semua orang benci kami, tak ada yang mau menerima kami," kata Halabi terduduk lemas.

Tak jauh darinya, Nasser Mohammed, mantan guru olahraga dari Homs, Suriah mengobati tangannya yang terluka akibat pagar berduri. Ia terluka karena harus mendorong temannya yang harus duduk di kursi roda, Gazi Faisal Hamed. Hamed terluka saat bom meledak di kotanya beberapa bulan lalu. Ia berharap bisa mendapatkan pengobatan yang baik di Jerman.

"Aku tak bisa meninggalkan Hamet. Perjuangan kami berangkat dari Suriah begitu keras. Kami tidak bisa menyerah," kata Mohammed tentang dirinya yang mau berkorban demi sobatnya itu.

Salah satu anggota tim Halibi bernama Khaled menghampiri rombongannya setelah ia mensurvey pagar berduri itu yang dijaga polisi Serbia.

"Tak ada jalan. Semua orang benar-benar benci Suriah. Ada saja kesusahan baru," Khaled kepada Halibi yang terduduk lemas.

Namun, mereka juga tak mungkin kembali ke Suriah. Khaled bercerita kepada The Independent, bahwa ia tak mungkin kembali ke tanah air. Ia pernah ditahan 40 hari oleh polisi karena menolak dukungan kepada Presiden Assad.

Semntara itu, di sebuah kamp yang disediakan oleh UNHCR tak jauh dari perbatasan Serbia, Juru Bicara badan pengungsi PBB mengatakan bahwa mengatakan bahwa situasi benar-benar tak menentu."Semua pengungsi di sini telah kami sediakan cukup air dan makanan. Namun tidak ada informasi. Mereka tidak tahu ke mana harus bergerak," kata Melita Sunjic, juru bicara UNHCR untuk kamp Kanjiza di Serbia.

Salah seorang pengungsi Suriah bernama Walid diketahui adalah lulusan Hubungan Internasional dari sebuah universitas di Jerman. Namun, ia tak bisa masuk Jerman secara langsung mengingat situasi. Terpaksa ia bergabung bersama pencari suaka lain.

"Jujur saja, aku tak pernah berpikir masuk Eropa dengan cara seperti ini. Kami punya dokumen lengkap, tapi mereka menutup jalan legal buat kami. Mereka paksa kami seperti ini," katanya dalam bahasa Inggris yang fasih.


2 dari 4 halaman

Eropa yang Galau

Mungkin kecurigaan Halibi dan kawan-kawan bahwa Eropa membenci pencari suaka Suriah tidak sepenuhnya benar. Menurut data yang dirilis oleh Google Trends, banyak orang Eropa biasa mencari isu ini lewat Google.

Ternyata, respons terhadap krisis pengungsi bervariasi secara signifikan antara orang-orang di Eropa.

Ada perbedaan kata kunci dalam pertanyaan pencarian teratas tentang "migran adalah..." di seluruh Eropa. Orang-orang di Inggris, Perancis dan Jerman semua bereaksi berbeda, seperti dikutip dari Telegraph.

Lima pertanyaan kepada Google tentang "migran" di setiap negara Eropa selama tujuh hari terakhir, dari 9 September hingga 16 September, mengungkapkan perbedaan yang menarik, yaitu orang-orang di Jerman, Hungaria, dan Italia tampak lebih bersedia untuk membantu daripada orang-orang Inggris, Perancis atau Yunani.

Pertanyaan orang di Inggris yaitu lebih banyak bertanya tentang krisis pengungsi mengungkapkan kecemasan dan kebingungan tentang masalah ini, dengan pertanyaan paling banyak dicari adalah "Mengapa ada krisis migran?" dan "Apa perbedaan antara migran dan pengungsi?"

Ada sedikit minat warga Inggris dalam membantu meringankan situasi, seperti "Dari mana para pengungsi yang datang?". Pertanyaan ini adalah pertanyaan terbawah dari lima pertanyaan paling banyak dicari

Tidak seperti di Jerman, di mana bagian atas dua kata kunci yang paling banyak dicari adalah "Bagaimana relawan untuk membantu para migran?"

Sementara itu, rakyat biasa Hungaria, memiliki pertanyaan teratas di Google: "Bagaimana orang Kristen harus menanggapi krisis migran?" Sementara orang-orang di Italia paling banyak mencari "Bagaimana cara untuk mengadopsi anak yatim piatu Suriah ?"

Hal ini kontras dengan garis keras pemerintah Hungaria dan Italia, yang menutup perbatasan mereka bagi pengungsi.

Orang di Perancis, di sisi lain, tampaknya lebih peduli tentang bagaimana krisis pengungsi akan mempengaruhi rencana perjalanan mereka, dengan pertanyaan paling atas berupa "Apa krisis migran Eropa berarti bagi wisatawan?"

Data dari Google Trends menunjukkan reaksi yang bervariasi untuk ribuan pengungsi yang mencari rumah di Eropa. Mesin pencari merilis data Google Trends hanya mencoba untuk memahami krisis.

Di antara 21 negara yang disurvei, pertanyaan paling populer adalah "apa itu migran?", "apa perbedaan antara migran dan pengungsi?" dan "apa definisi migran?"

Pencarian Google juga mengungkapkan kecemasan tentang krisis pengungsi dan apa yang dapat Eropa dapat lakukan untuk membantu.

Pertanyaan paling sering dicari di Lithuania dan Kroasia mengacu pada jumlah migran laki-laki ada.

Sementara di Belgia, kata kunci paling banyak digunakan adalah "Bagaimana menghentikan migran?" Sementara orang-orang di Luxembourg mencari "konsekuensi membiarkan migran ke Eropa" di Google.

3 dari 4 halaman

"Welcome Refugee"

Data dari Google Trends ada benarnya juga. Warga Jerman begitu hangat menyambut mereka seperti pemimpinnya Kanselir Markel. Salah satunya adalah Ursula Stellenberger, warga Munich asli berusia70 tahun. Ia layaknya orang Jerman lain menyambut Oktober dengan Festival Oktober atau pesta bir tahunan yang merupakan tradisi Negara Bavaria tersebut.

Namun, dengan masuknya pencari suaka ke Jerman dengan jumlah besar membuat ia dan bagi sebagian rakyat Jerman canggung menghadapi mereka serta kekhawatiran 'bentrok budaya.' Ursulla bangga dengan pemerintahan dan kotanya yang menyambut para pencari suaka.

"Meski begitu, aku ingin tahu kapan kedatangan mereka akan berhenti? Aku khawatir, bagaimana mereka nanti tidur, siapa yang memberi makan. Kami jelas ingin membantu, tapi banyak warga Jerman juga yang miskin. Bagaimana nanti saat Oktoberfest? Di mana wisatawan akan menghadiri acara ini dan mungkin mabuk-mabukan?" tanya Ursula kepada Reuters.

Namun, dewan kota Munich yang sejalan dengan pemikiran rakyatnya berjanji akan menerjunkan polisi dua kali lipat lebih banyak dari biasanya.

"Kami tidak bisa membiarkan Oktoberfest berhenti hanya karena kedatangan pencari suaka," kata Horst Seehofer, dewan kota Munich. Ia akan memberi jalur yang berbeda saat wisatawan datang ke Munich dengan pencari suaka.

Lebih dari 2 juta wisatawan diperkirakan akan datang ke Munich di festival pada tahun ini. Menurut Menteri Dalam Negeri Joachim Herrmann, pemerintahannya telah mengatur festival dan kedatangan para pencari suaka.

"Pokoknya, jalur kedatangan akan berbeda. Kami tidak mau terjadi apa-apa. Kami tidak ingin pencari suaka yang mayoritas Muslim melihat orang muntah dan mabuk akibat festival ini," kata Herrman.

Salah seorang wisatawan dari Australia yang sengaja datang ke Oktoberfest melihat pemandangan pencari suaka yang terdampar di Budapest. "Sangat menyedihkan, tapi aku yakin, tidak akan terjadi apa-apa. Aku siap menikmati pesta," kata Ellie Hipwell.

Ursulla menyesap birnya.  Ia berujar, "Festival tahun ini mungkin akan sedikit berbeda. Bagaimanapun, setidaknya diriku, harus bersimpati bagi mereka yang harus meninggalkan negerinya karena perang tak berkesudahan." (Rie/Yus)