Sukses

'Ekspor Asap' Hingga ke Negeri Seberang

Liputan6.com, Jakarta - Mulyani gundah gulana. Kebahagiannya sebagai calon ibu terusik oleh udara pekat penuh asap yang terpaksa dihirup paru-parunya.

"Saat ini saya khawatir dan panik luar biasa. Seharusnya saya bahagia karena 3 bulan lalu positif dinyatakan mengandung," tulis dia laman change.org. 

Sudah dua pekan kabut asap 'mencekik' jalan napas perempuan asal Riau itu. Ia khawatir, hal tersebut akan berpengaruh pada calon buah hatinya. "Sayangnya, kami tidak punya pilihan lain, kecuali tinggal dan menghirup udara beracun ini," ujar Mulyani.

Pengelola laman change.org memuat 20 petisi terkait kabut asap dan kebakaran hutan dibuat oleh warga masyarakat dalam 2 pekan terakhir. Di situs jejaring sosial Twitter, tagar #MelawanAsap juga menjadi trending topic.

Bagi warga Sumatera dan Kalimantan, datangnya asap bak keniscayaan. Terus berulang tiap musim kemarau. Ranting dan dedaunan yang mengering, lahan gambut yang kerontang, membuat api yang disulut orang-orang tak bertanggung jawab kian berkobar.

Tak hanya bikin hangus area sekitarnya, kebakaran hutan dan lahan juga memicu kabut asap yang berhembus sampai jauh.

Pemerintah bukannya lepas tangan. Pemadam kebakaran dikerahkan, helikopter diterbangkan, ribuan tentara juga disiagakan untuk mencegat api. Namun, bara tak jua padam. 

"Itu mengindikasikan bahwa pembakaran hutan dan lahan masih terus berlangsung," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.

Berdasarkan pantauan Satelit Terra dan Aqua pada Senin 14 September 2015, ada 1.143 titik api di Pulau Sumatera, yaitu di Bengkulu 13, Jambi 234, Lampung 69, Riau 78, Sumbar 25, dan Sumsel 724.

Di Kalimantan, masih terdata 266 titik kebakaran  yaitu Kalbar 26, Kalsel 74, Kalteng 164, dan Kaltim 2.

Jarak pandang pun terbatas. Secara umum di Sumsel, Jambi, dan Riau jarak pandang berkisar 80-800 m. Di Pekanbaru 200 m, Rengat 70 m, Dumai dan Pelalawan 50 m, Jambi 700 m, Palembang 800 m.

Jarak pandang di Kalimantan berada di kisaran 100-600 m. Di Pontianak 600 m, Ketapang 600 m, Sintang 300 m, Nanga Pinoh 500 m, Pangkalan Bun 500 m, Sampit 300 m, Palangkaraya 400 m, Sanggu-Buntok 100 m, Banjarmasin 220 m.

Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Pekanbaru 984 psi , Siak 467 psi, Dumai 464 psi, Palembang 550 psi. Angka tersebut berarti bahaya!

Sementara indeks polusi di Pontianak 307 psi dan Banjarbaru 449 psi. Sangat tidak sehat.

"Ini sudah mengkhawatirkan kabut asapnya, harus menjadi bencana nasional," kata Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Agus Hermanto.

Soal kabut asap, kata dia, tak bisa mengandalkan daerah untuk mengatasinya.

Pemerintah daerah memang kewalahan menghadapi bencana asap ini. Di Riau misalnya, pemerintah setempat menetapkan Status Darurat Pencemaran Udara seiring kian memburuknya kualitas udara karena kabut asap.

Status darurat ini diumumkan Plt Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Senin (14/9/2015). Keputusan ini diambil setelah melihat kondisi udara di seluruh kabupaten dan kota di Riau.

Dengan penetapan Status Darurat Pencemaran Udara ini, penanganan di Provinsi Riau akan dikoordinasikan dengan pusat dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Tak hanya di Riau, sejatinya status darurat ini berlaku di banyak tempat.

1 dari 3 halaman

Lumpuh Karena Asap

Libur sekolah 'terancam' diperpanjang di Kota Pekanbaru, Riau. Meski tak harus harus belajar di kelas, murid-murid tak bakal bisa bebas bermain di luar rumah. Pekatnya asal mengancam paru-paru mereka.

Awalnya, peserta didik diliburkan hingga Selasa 15 September 2015. Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Zulfadil mengatakan, liburan bisa diperpanjang lagi jika kabut asap masih membuat kondisi udara di Pekanbaru pada level berbahaya bagi kesehatan. "Tergantung kondisi asap," kata dia.

Dengan penambahan libur ini, sudah dua pekan aktivitas pendidikan di Kota Pekanbaru lumpuh karena asap. Peserta didik selalu dipulangkan karena kabut asap tebal yang belum kunjung beranjak.

Sepanjang hari ini, tidak ada penerbangan komersial yang mengoperasikan pesawat sebab jarak pandang di landasan pacu hanya 300 meter.


Asap juga mengganggu penerbangan. Sejak 2 September lalu, aktivitas Bandara SSK II Pekanbaru selalu mengalami gangguan. Ada saja pesawat yang batal mengudara atau terlambat.

"Jarak pandang di Bandara SSK II naik turun antara 300 hingga 500 meter," kata Manager Airport Duty SSK II Hasnan.

Gangguan penerbanganjuga terjadi di daerah lain seperti di Jambi dan Batam. Kabut asap melingkupi bandara-bandara setempat sehingga maskapai yang beroperasi tak berani nekat terbang.

Gangguan pada aktivitas pendidikan juga dijumpai di Palembang seiring kebakaran di Sumatera Selatan. Dari citra satelit, lahan terbakar di Sumatera Selatan seluas total 9.216 hektare.

Mulai dari Kamis (10/9/2015) lalu seluruh aktivitas belajar mengajar di seluruh sekolah di Palembang diliburkan. "Kita melihat sampai kondisi benar-benar aman," kata Kabid SMP dan SMA, Disdikpora Palembang, Lukman Haris.

Demikian juga di Jambi. Wali Kota Jambi, Sy Fasha, mengintruksikan seluruh kepala sekolah di semua jenjang pendidikan untuk meliburkan aktivitas belajar mengajar jika kabut asap masih pekat.

Pemerintah dan masyarakat di daerah-daerah berjuang melawan asap. Selain upaya pemadaman, langkah-langkah terobosan juga ditempuh. Di Riau, beberapa kali masyarakat Pekanbaru menggelar ibadah salat minta hujan, baik yang digagas pemerintah, polisi, atau masyarakat sendiri.  

Sebuah organisasi masyarakat di Riau, Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) Riau, bahkan meminta bantuan kepada Pemerintah Malaysia terkait bencana kebakaran hutan dan lahan. Mereka menilai Pemerintah Indonesia lamban mengatasinya.

Surat permintaan bantuan sudah disampaikan ke Konsul Malaysia di Pekanbaru. "Kami berharap Malaysia dapat membantu," kata Ketua Gerakan Ampera Riau, Hendri Marhadi, Minggu (13/9/2015).

Pemerintah Malaysia diharapkan dapat mengirimkan Pasukan Bomba (Pemadam Kebakaran Malaysia) ke Riau untuk membantu pemadaman. Selain itu juga permintaan kemudahan akses pengobatan.  

2 dari 3 halaman

Asap Mengalir Sampai Seberang

Asap ternyata tak hanya berputar-putar di Indonesia. Terbawa angin, asap melintasi Selat Malaka hingga sampai negara jiran seperti Singapura dan Malaysia.

Pada Jumat 11 September 2015, Singapura menggelar pemilu di tengah kabut asap yang dikirim dari Indonesia. Sejumlah orang terpantau mengenakan masker saat mendatangi tempat pemungutan suara.

Kabut asap kebakaran dari Indonesia berhembus hingga Malaysia dan Singapura (Reuters)



Badan Lingkungan Hidup atau National Environment Agency (NEA) memperingatkan agar membatasi aktivitas fisik di luar ruangan. Imbauan ini terutama untuk orang lanjut usia, ibu hamil, dan anak-anak.

Sementara itu di Kuala Lumpur, kualitas udara dilaporkan tidak sehat. Kabut asap yang tebal menyebabkan matahari tampak berwarna  jingga karena tidak dapat menembus ruang udara yang diliputi partikel debu

Penampakan Petronas terselubung kabut asap (Reuters)


Rencananya Pemerintah Indonesia dan Malaysia juga segera menandatangani nota kesepahaman (MoU) baru terkait penanganan kabut asap yang sudah terjadi sejak beberapa pekan lalu.

Menteri Sumber Asli dan Alam Sekitar Malaysia Datuk Seri Wan Junaidi Tuanku Jaafar menjadwalkan pertemuan dengan menteri terkait Indonesia pada 18 September 2015 untuk membicarakan isi MoU tersebut.

Sebelumnya, Indonesia menandatangani perjanjian ASEAN mengenai pencemaran kabut asap melintasi perbatasan pada 2013 pasca-dilanda kabut asap paling parah 1997. Tak hanya di kampung sendiri, asap juga merepotkan tetangga. (Hmb/Ein)