Sukses

Ringgit Malaysia Kian Terpuruk oleh Skandal

Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi Malaysia terpuruk. Ringgit semakin melemah dan Indeks Saham Malaysia terus terjun bebas. Demonstrasi besar-besaran pada pekan lalu yang yang menuntut turunnya Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Razak karena diduga melakukan korupsi menjadi penyebabnya.

Mengutip Bloomberg, satu hari setelah usai demo besar-besaran tersebut atau pada Senin (31/8/2015) posisi ringgit berada di level 4.1960 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan hari itu, Ringgit sempat menyentuh level 4.2025.

Mata uang Ringgit Malaysia termasuk mata uang yang mengalami pelemahan tajam di kawasan Asia. Ringgit Malaysia telah melemah sekitar 20,06 persen dari posisi 3,4973 per dolar AS pada 31 Desember 2014 menjadi 4,1990 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat 28 Agustus 2015.

Ekonom Bank of America Merrill Lynch of Singapore Chua Hak Bin menuturkan, kegaduhan politik telah menganggu pemerintah dan membuat turbulensi di pasar keuangan. Hal itu ditunjukkan dari dana asing telah keluar lebih dari US$ 3 miliar dari bursa saham. Ringgit pun jatuh ke level terendah dalam 17 tahun.

Banyak analis yang menyatakan bahwa sebenarnya secara fundamental, perekonomian Malaysia cukup baik. Pertumbuhan ekonomi mereka pada kuartal II 2015 kemarin berada di level 4,9 persen, lebih baik dari perkiraan meskipun harga komoditas mengalami penurunan.

Namun dengan adanya skandal korupsi, analis melihat bahwa masalah skandal tersebut akan membuat investor gelisah dan menarik dananya dari negara tersebut. Akibatnya mata uang ringgit Malaysia bisa kembali turun ke level yang lebih dalam lagi.

Bahkan Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan bahwa ringgit bisa anjlok lagi. "Nilai tukar ringgit masih bisa melanjutkan terjun bebas kecuali 'seseorang' tidak lagi ada di sekitar kita," ungkapnya.

Sayangnya, Mahathir tidak mau menyebut siapa yang dia maksud dengan seseorang tersebut. Namun secara luas orang mengasumsikan bahwa negarawan tersebut merujuk kepada Perdana Menteri Datuk Seri Najib Razak.

Mengutip The Malaysian Insider, Mahathir menyebutkan bahwa pelemahan nilai tukar yang terjadi pada ringgit saat ini lebih dalam jika dibandingkan dengan krisis keuangan yang melanda Asia pada 1997-1997 lalu.

Dibandingkan dengan bath Thailand sebagai contoh, nilai tukar antara ringgit dengan mata uang Thailand tersebut dahulu di angka RM 1 untuk 10 bath. Namun sekarang, RM 1 hanya di level 7 bath hingga 8 bath.

"Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Hal ini karena orang tidak percaya dengan ekonomi Malaysia. Mereka membuang ringgit karena nilainya akan menurun besok," jelasnya.

1 dari 3 halaman

Bertambah Parah

Bertambah Parah

Namun sebenarnya, demonstasi yang menuntut Najib Razak tersebut bukan merupakan penyebab satu-satunya pelemahan perekonomian Malaysia. Pada awal pekan ini, Senin (7/9/2015), nilai tukar ringgit kembali terpuruk. Bahkan hampir mendekati level terendah dalam 17 tahun terakhir. Ringgit melemah 1,7 persen menjadi 4,3300 per dolar AS. Mendekati level terendah pada Januari 1998 yang berada di level 4,8850 per dolar AS.

Tak berbeda jauh, indeks saham di Bursa Malaysia pun juga melemah. Pada perdagangan Senin ini, INdeks FTSE Malaysia turun 0,40 persen ke level 1.582,85. Jika dilihat dalam satu bulan terakhir, bursa malaysia telah melemah 5,93 persen. Sedangkan dalam satu tahun terakhir, Bursa Malaysia telah terjatuh 15,29 persen.

Pelemahan ringgit dan juga bursa Malaysia ini lebih disebabkan karena sentimen dari luar. Membaiknya data ekonomi di Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu alasan yang mendasari. Angka pengangguran di AS berada di level 5,1 persen, merupakan level terendah dalam tujuh tahun terakhir.

Membaiknya data pengangguran tersebut membuat estimasi akan kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Sentral AS kembali menguat dan mendorong nilai tukar dolar AS kembali perkasa sehingga mendorong pelemahan nilai tukar lainnya termasuk ringgit.

Menguatnya estimasi kenaikan suku bunga The Fed tersebut juga membuat dana-dana asing di bursa Malaysia keluar yang menyebabkan indeks tenggelam.

“Selain itu, penurunan harga minyak juga membuat perekonomian Malaysia yang merupakan pengekspor komoditas ikut melemah,” jelas Analis Australia & New Zealand Banking Group Ltd, Khoon Goh, seperti ditulis Bloomberg, Senin (7/9/2015).

Ia menerangkan, Malaysia merupakan negara pengekspor komoditas terutama kepala sawit atau crude palm oil (CPO). Selama ini, naik atau turunnya harga komoditas sangat tergantung dengan harga minyak dunia. Jika harga minyak dunia, harga komoditas lain pun juga turun begitu pula sebaliknya, jika harga minyak dunia naik maka komoditas lain akan ikut terdongkrak.

Sejak akhir tahun lalu, harga minyak dunia terus turun. Pada Juni 2014 lalu, Minyak dunia sempat berada di level US$ 110 per barel. Namun secara perlahan harga minyak dunia tertekan ke level US$ 40 per barel di awal tahun ini. Pada Maret 2015, harga minyak dunia sempat menguat lagi ke level US$ 60 per barel namun kemudian turun kembali ke US$ 40 per barel.

Tentu saja, penurunan harga komoditas tersebut membuat pelaku pasar memandang bahwa perekonomian Malaysia bakal melemah. Pandangan tersebut membuat dana-dana asing semakin lari dari Malaysia sehingga semakin menekan ringgit dan bursa Malaysia.

Pemerintah Malaysia pun mencoba mati-matian untuk untuk menahan kejatuhan ringgit. “Namun sebesar apapun pemerintah melakukan intervensi hanya akan membuat cadangan devisa mereka semakin tergerus,” jelas Analis Valuta Asing Bank of Singapore Ltd, Sim Moh Siong.

2 dari 3 halaman

Berpengaruhkan ke Indonesia?

Berpengaruhkan ke Indonesia?

Jika dilihat dari sisi financial channel, kondisi gejolak politik dan ekonomi terjadi di Malaysia dapat memberikan sentimen negatif ke Indonesia. Pasalnya, pelaku pasar asing biasanya melihat secara regional. Jika salah satu negara sedang mengalami krisis, maka negara-negara di sekitarnya akan ikut terimbas.

"Jadi Indonesia dan Malaysia berada dalam satu kawasan Asia Tenggara, ketika fund manager asing menganggap ASEAN kurang baik maka mereka dapat mengurangi bobot investasi di kawasan ASEAN terutama di saham dan obligasi," jelas Ekonom PT Bank Sentral Asia Tbk (BCA), David Sumual.

Oleh sebab itu, David mengharapkan pemerintah dapat menjaga sentimen positif di Indonesia, dan menjaga keyakinan kepada investor kalau Indonesia tetap melanjutkan pembangunan infrastrukturnya.

Indonesia juga diharapkan tidak tertular dengan kondisi Malaysia, tetapi berupaya konsolidasi untuk menjaga kondisi ekonomi dan politiknya.

"Pemerintah harus segera cepat menyiapkan langkah-langkah dan menciptakan kepercayaan. Sejumlah peresmian pembangunan proyek infrastruktur seperti PLTU Batang dan nanti ada Sarula itu dapat membangkitkan optimisme ke depan," kata David.

Hal senada dikatakan Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada. Ia menuturkan ekonomi Malaysia bergejolak akan berpengaruh terhadap perusahaan-perusahaan yang sudah investasi di Indonesia. Selain itu, ekonomi Malaysia melemah juga menimbulkan persepsi negatif sehingga dapat berpengaruh ke Indonesia.

"Walaupun ekonomi kita bisa dianggap lebih baik tetapi secara persepsi akan kena juga. Pelemahan Ringgit juga dapat memicu nilai tukar rupiah melemah karena secara sentimen dan persepsi berada dalam satu kawasan," kata Reza.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Indonesia, Anton Gunawan menambahkan, gejolak di Malaysia akan sangat berdampak ke Indonesia karena banyak investor dari Malaysia yang memegang surat utang Indonesia.

"Ada kekhawatiran kalau Malaysia ada apa-apa, walau pun belum sampai sekarang, mereka punya surat utang di Indonesia besar. Kalau itu keluar‎ maka perlu diwaspadai," katanya.

Anton menambahkan‎, kepemilikan Surat Utang Negara (SUN) Indonesia yang banyak dimiliki oleh Malaysia tersebut menjadikan pemerintah harus mulai menyiapkan strategi demi mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi akibat kondisi di Malaysia.

Jika Malaysia terus memburuk, Anton mengkhawatirkan, Negeri Jiran tersebut akan menarik dana-dananya dari kepemilikan surat utang atau obligasi di Indonesia untuk membiayai berbagai hal di negaranya.

"Kalau mereka ada masalah, bisa saja keluar mereka, sebelum itu keluar, kita mesti pendekatan dulu, jelaskan situasinya, kalau mereka bener-bener butuh, di swapkan atau diapakan, supaya tidak begitu kencang kena ke Indonesianya," ujar pria yang juga menjabat sebagai Komisaris Independen PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tersebut.  (Dny/Fik/Yas/Ahm/Gdn)