Sukses

Sesaat setelah Bom Meledak di Bangkok...Semua Hening

Liputan6.com, Bangkok - Persimpangan Ratchaprasong, Bangkok, seperti malam-malam biasanya. Ramai orang, turis lalu lalang. Tak sedikit yang melakukan ibadah di Kuil Erawan. Mereka datang dari berbagai negara berdoa, di depan kuil kebanggaan umat Hindu. Kuil Erawan merupakan rumah bagi Patung Phra Phrom, atau Patung Dewa Brahma untuk Thailand.

Namun, pada 17 Agustus 2015 malam, keceriaan distrik elite itu berubah menjadi teriakan dan tangisan, bercampur bau asap menyengat dan anyir darah. Bom meledak persis depan kuil. 20 orang tewas dan 125 luka-luka. 

"Aku pikir hanya suara halilintar biasa. Tapi ternyata itu lebih buruk. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi," kata Prayoong Supharot, pengojek di kawasan turis seperti dikutip dari Aljazeera.

"Saat ledakan, keheningan sesaat melanda. Orang-orang seperti terperangah. Lalu kami sadar, kami mencari tempat untuk berlindung," ucap dia mengenang ledakan di persimpangan sibuk itu. 

"Tak lama kemudian, aku dan beberapa teman ojek lain mencari tahu apa yang terjadi. Ternyata, banyak jenazah bergelimpangan, dan tubuh-tubuh tak lagi utuh."

"Ini sesuatu yang tak seharusnya terjadi, semua orang merasa takut," ujar Prayoong.

Puing-puing sepeda motor berserakan di jalan usai terkena ledakan bom motor di luar Kuil Erawan di pusat kota Bangkok, Thailand, Senin (17/8/2015). Bom motor tersebut diketahui telah menewaskan sekitar 27 warga. (REUTERS/Athit Perawongmetha)

Hal yang sama dirasakan Jimmy Barnes, vokalis grup musik rock asal Australia, yang berada hanya 100 meter dari lokasi kejadian. Barnes bersama istri, menantu, dan cucunya sedang berlibur di Bangkok. Saat ledakan terjadi, mereka sedang menuju restoran

"Saat itu kami sedang menuju restoran. Tapi kami bingung jalan mana yang harus kami pilih," kata Barnes seperti dilansir dari The Guardian.

"Semula kami mau lewat jalan persis depan kuil,  tapi dengan kereta bayi dan cucuku di dalamnya, tidak mudah melewati jalan yang ramai itu. Akhirnya aku memutuskan memutar. Saat itulah kami mendengar ledakan. Aku tahu itu bom. Kami takut luar biasa," terang Barnes.

"Di keramaian, orang panik. Kaca-kaca pecah. Kami segera menyelamatkan diri menuju hotel terdekat. Saat aku melihat ke belakang, terlihat kepanikan, orang berlarian ke sana-kemari," ujarnya.

"Orang-orang berteriak. Yang kau lihat hanyalah api dan bau gosong," kata Hussain Masri, turis Australia yang saat itu sedang mencari ATM di kawasan pusat perbelanjaan. 

Masri dan beberapa turis asing lain berlari mencoba menyelamatkan orang-orang yang terluka. Namun semua chaos.

Ledakan terjadi sekitar pukul 19.00 waktu Bangkok.  Insiden ini menjadi tamparan bagi pemerintah Junta Militer Thailand. Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha mengatakan pelaku mengincar jantung ibu kota Thailand untuk merusak pariwisata negeri itu. Ledakan yang berbahan TNT itu merupakan insiden terburuk dalam sejarah pergolakan politik Negeri Gajah Putih.

"Ini adalah insiden terburuk bagi Thailand. Sebelumnya, Thailand hanya diserang oleh bom-bom kecil. Kkali ini mereka menyerang orang-orang tak berdosa dan ingin mencoreng ekonomi negeri kami," kata kata PM Prayuth.

Dua hari setelah ledakan di depan Kuil Erawan, Bangkok kembali diserang. Kali ini, rekaman kamera pengintai atau CCTV menunjukkan detik-detik ketika bom meledak di Dermaga Sathorn. Sebuah dermaga kapal feri yang ramai dikunjungi wisatawan di Sungai Chao Praya.

Bom berkekuatan kecil itu diduga dilempar ke arah trotoar dermaga dari Jembatan Thaksin di atasnya. Namun meleset hingga masuk ke sungai dan meledak. Meski sempat menimbulkan kepanikan, ledakan tidak sampai menimbulkan korban jiwa atau luka.

Polisi juga mendapatkan laporan penemuan bom lagi pada Senin (24/8/2015) di lokasi apartemen yang sedang dibangun. Tim penjinak bom menemukan dan menjinakkan bom tersebut. 

Penyelidikan hingga kini masih berlanjut. Demikian pula tak ada seorang atau kelompok satu pun bertanggung jawab atas insiden ini. Kepolisian Kerajaan Bangkok kini khawatir, pengebom kini berhasil kabur keluar negeri. 

1 dari 4 halaman

"Kami Kehilangan Segalanya..."

Bagi Neoh Hock Kwan, ini adalah liburan yang ia tunggu-tunggu. Liburan keluarga yang ia idam-idamkan. Namun semua berubah menjadi tragedi.

Dari Malaysia, ia berlibur ke Bangkok bersama 6 anggota keluarganya. Namun ledakan Senin 17 Agustus 2015 lalu, merenggut 5 nyawa orang-orang yang ia cintai, termasuk istri, menantu pria, dan cucu perempuan yang baru berusia 4 tahun.

Keluarga Neoh dari Penang, Malaysia (CNN)

Neoh Hock Kwan (tiga dari kanan) dan keluarganya. Foto diambil di Bangkok pada Minggu 16 Agustus 2015.

Jenazah mereka sudah dikirimkan ke Penang pada Rabu 19 Agustus sore. Disambut keluarga besar dan teman-temannya yang menunggu di kargo airport.

Neoh bersama anak perempuannya, Neoh Ee Ling yang sedang hamil 4 bulan, hanya bisa menangis. Ia terus menangisi tragedi kehilangan suami dan anak keduanya. Ee Ling selamat karena memilih untuk jauh dari kuil, tak tahan mencium bau asap di kuil dan keramaian.

Ayah dan anak perempuannya itu menangis menyaksikan peti mati anggota keluarga mereka diturunkan dari kargo pesawat. "Aku kehilangan segalanya," ujar Neoh Hock Kwan tersekat kepada CNN di Kuala Lumpur.

"Saat ledakan, kami sedang berdoa di kuil. Hanya Ee Ling yang tidak. Ia merasa mual dengan bau asap hio di kuil. Karena itu, ia memilih jalan duluan menyusuri trotoar," kata Hock Kwan mengenang kejadian saat ledakan.

"Aku merasakan dorongan yang sangat keras. Dengan kepala pusing, aku bangkit mencari keluargaku, tapi mereka hilang. Aku tak percaya semua berakhir seperti ini," tambah Hock Kwan.

"Ee Ling tak bisa menerima kenyataan," kata salah kerabat keluarga Neoh kepada Today Online. "Ia menangis tak henti-hentinya, kenapa Tuhan begitu kejam untuk keluarga kami."

Sementara itu, anak pertama Ee Ling berusia 6 tahun yang tak ikut berwisata bersama ayah dan ibunya, gelisah dengan foto-foto ayah dan adiknya terpampang di koran dan televisi di Malaysia.  Sang Kakek, Lee Ting Hiang, mengatakan cucunya itu berubah menjadi pemurung setelah insiden itu. Apalagi ia belum bertemu ayahnya, sementara sang ibu masih shock.

"Ia terus-menerus  menanyakan kenapa foto anakku--ayahnya-- ada di koran. Bagaimanapun, kami harus menceritakan kepadanya. Hanya, aku tak tahu bagaimana caranya, " kata Ting Hiang.

"Ini adalah tugas yang tersulit selama hidup saya: menceritakan kematian anakku sendiri kepada cucuku, anak dari anak laki-lakiku yang tewas," ujar. 

Keluarga saat mendengar kerabat yang dicintainya tewas atau terluka di Rumah Sakit Lumpini (The Nation Bangkok)

Kesedihan juga dialami Pichitra Bamrungsuk. Adik ipar Suwan Sathman, salah satu korban dari Thailand, tak kuasa membendung tangis. Air mata membasahi pipinya. Ia bersama ratusan anggota keluarga lain yang mencari tahu kabar kerabat tercintanya.

"Kami sekeluarga sedang makan malam di rumah, saat mendengar bom meledak," kata Pichitra terisak.

"Awalnya, kami mendengar kakak iparku terluka dan dibawa ke rumah sakit polisi. Kami sempat lega saat mendengar ia mendapat perawatan dari para dokter. Namun, saat kami tiba di rumah sakit, ia sudah meninggal," katanya. Tangisnya pun meledak saat ia menceritakan kematian Suwan Sathman.

Padahal kakak iparnya ini berniat menikahi tunangannya sebentar lagi.

Ledakan ini merenggut 20 orang tewas sia-sia. 6 orang tewas berasal dari Thailand, 5 dari Malaysia, 4 dari China dan 2 dari Hong Kong, dimana salah satu korbannya merupakan warga Inggris yang bertinggal di Hong Kong. Indonesia dan Singapura masing-masing 1 orang tewas.

Tak lama setelah ledakan, beberapa negara keluarkan travel advisories pada hari Rabu 19 Agustus.

12 negara mengeluarkan peringatan 'Level 2' dalam Travel Advisory yaitu mendesak warga agar ekstra hati-hati selama perjalanan. Kedua belas di antaranya Austria, Belgia, Denmark, Prancis, Jepang, Malaysia, Singapura, Korea Selata, Swedia, Swiss, Taiwan, dan Amerika Serikat," kata Kementerian Luar Negeri Thailand seperti dikutip dari Bangkok Post, Rabu (19/8/2015). Perdana Menteri Malaysia mengecam ledakan di kawasan pariwisata Bangkok itu.

"Ini adalah serangan yang dilakukan oleh pengecut merenggut nyawa manusia yang tak bersalah termasuk warganegara Malaysia," kata Najib dalam twitternya, seperti dikutip dari The Star. kecaman juga datang dari berbagai belahan dunia, termasuk dari Kamboja, Inggris, Filipina, Amerika Serikat dan negara-negara di Uni Eropa.

Pada Selasa 18 Agustus 2015 atau sehari setelah kejadian, Kementerian Luar Negeri mengeluarkan travel advisory (imbauan perjalanan). Pemerintah memberikan peringatan agar warga negara Indonesia berhati-hati saat ke Thailand.

"Kita sudah keluarkan travel advice, itu imbauan (bagi WNI yang bepergian ke Thailand) untuk berhati-hati," kata Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi seperti yang Liputan6.com kutip dalam laman Setkab.go.id.

Sementara 9 lainnya merekomendasikan tingkat yang lebih tinggi dari "hati-hati" atau peringatan "Level 3". Peraturan itu diterapkan oleh negara Australia, Kanada, China, Jerman, Italia, Irlandia, Selandia Baru, Rusia, dan Inggris.

Hanya Hong Kong yang menyarankan orang untuk hanya menghindari perjalanan tidak penting ke Thailand, dengan peringatan "Level 4".

Belanda adalah satu-satunya negara yang menginstruksikan warganya untuk "waspada". Mereka menerapkan peringatan "Level 1", yang berarti warga hanya harus menyadari situasi di sekitar mereka. Sejauh ini tidak ada negara yang melarang untuk mengunjungi Thailand.

Besarnya ledakan ini membuat pemerintah Thailand merasa bertanggung jawab. Pemerintah Negeri Gajah Putih ini memberikan kompensasi baik korban luka maupun yang tewas, termasuk pengangkutan jenazah ke negara masing-masing.

Disalurkan lewat Kementerian Perlindungan Hak dan Kebebasan, besaran kompensasi sekitar 20 ribu hingga 300 ribu Baht atau sekitar Rp 7,8 juta hingga Rp 118 juta.

Untuk korban luka  dan dirawat di rumah sakit, mereka mendapatkan kompensasi 20 ribu Baht untuk pengobatan medis. 

Kementerian ini juga memberikan kompensasi sebesar 50 ribu Baht bagi keluarga yang kehilangan orang tersayangnya. Ongkos pemakaman dan pengangkutan jenazah juga ditanggung pihak pemerintah. 

Kementerian Pariwisata dan Olahraga juga memberikan bantuan tambahan sebesar 300 ribu Baht unuk kematian, kerusakan organ atau cacat; dan 100 ribu Bath untuk biaya pengobatan. 

2 dari 4 halaman

Siapa Pria Berbaju Kuning Itu?

Pada  Rabu, 19 Agustus 2015, Polisi berhasil melihat sosok mencurigakan dari CCTV seputar kuil dan kawasannya.

"Ia adalah si pengebom!" kata Perdana Menteri Thailand Prayutj Chan-o-cha. Kemarahannya terlihat memuncak saat pertama kali junta memberi keterangan pers kepada wartawan. "Cepat! Temukan dia!"

Pria berbaju kuning dan berparas orang asing dicurigai sebagai bomber. Gerak-geriknya mencurigakan. Dalam CCTV itu, ia turun dari tuk-tuk atau kendaraan roda tiga Thailand menuju Kuil Erawan dengan membawa ransel hitam di punggung. Tak lama, ia meletakkan tas tersebut dan berjalan menjauhinya. Dalam rekaman video keamanan, ia tampak membuka telepon genggam dan berjalan ke arah berlawanan.

Polisi segera menyebar sketsanya dan berjanji mengganjar hadiah Rp 389 juta bagi siapapun yang menemukan pria ini. 

 

Kepolisian Thailand merilis sketsa wajah terduga pelaku peledakan bom di dekat Kuil Erawan, Bangkok, Rabu (19/8/2015). Sedikitnya 20 orang tewas, termasuk satu warga Indonesia dalam ledakan tersebut. (REUTERS/Royal Thai Police)

 

Dari lokasi tak jauh dari persimpangan tempat bom diledakkan, pria berbaju kuning ini naik ojek  dan meminta untuk diantarkan ke Lumpini Park. "Aku tak melihat orang lain saat ia turun," kata Kaseem pengemudi ojek yang mengantarkan pria berbaju kuning itu.

"Saat itu gelap dan banyak pohon, susah aku melihatnya, tapi samar-samar aku bisa mengingatnya, ia mempunyai dagu panjang dan kulit pucat," ingat Kaseem.

"Tak lama ia naik motorku, ia bercakap-cakap di telepon genggamnya. Aku tak mengenali bahasa apa yang ia gunakan," tambahnya lagi.

CCTV lain menemukan gambar dia menghentikan kendaraan tradisional Tuk-tuk di depan Stasiun Kertea Hua Lamphong. Polisi segera membuat sayembara agar pengemudi melaporkan diri sehubungan penumpang ini.  

Pada Kamis 20 Agustus 2015 , pengemudi itu diketahui bernama Suchart Panngram. Ia segera melapor kepada polisi begitu pihak keamanan mengumumkan keberadaannya. 

Kepada polisi mengatakan  ia dihentikan oleh bomber Bangkok di depan Stasiun Kereta Hua Lamphong.

Menurut kesaksiannya, pria asing itu memberikan sebuah peta dan menunjukkan Hotel Grand Hyatt Erawan yang tak jauh dari Kuil Erawan. Suchart lalu mengambil ongkos yang diberikan pria berbaju kuning itu, dan berangkat menuju lokasi yang ditunjuk.

Suchart mengaku kepada polisi bahwa ia mengantarkan penumpang tanpa banyak cakap. Seperti biasa dilakukannya setiap hari. "Suchart bersikukuh bahwa ia tidak ada hubungannya dengan plot pengemboman," kata polisi.

Polisi kini terus memburu pria berbaju kuning ini. Berbagai spekulasi muncul siapa dia, siapa dalangnya.

Sebuah teori dari junta militer mengatakan ledakan dibuat atas balas dendam kelompok etnis Uighur. Sementara, yang lain memprediksi kelompok anti-pemerintah 'Kaos Merah' berada di balik semua ini.

Relawan yang bergerak cepat

Sesaat setelah ledakan, tanpa diberi aba-aba, semua orang turun tangan membantu sebisa mungkin. Tak terkecuali seorang wartawan BBC, James Sales, yang langsung berangkat ke lokasi sesaat setelah mendengar ledakan itu. James membawa peralatan pertolongan pertama yang selalu tersedia di kantornya.

"Pengalaman mengajariku, begitu mencium bau asap seperti bubuk mesiu, Anda tahu bom telah berakhir," kata James seperti dikutip dari The Guardian. Ia pun menolong para korban yang terluka diantaranya memberi pertolongan CPR. "Aku mencoba memberikan sesorang pria dengan CPR, sayang ia tidak berhasil," kenangnya.

"Suasana benar-benar mencekam. Para korban mengalami luka cukup parah," ujar Sales.

Di rumah sakit milik polisi pun tak kalah ramainya. Selain mengumumkan kekurangan kantong darah, mereka juga membutuhkan penerjemah bahasa China.

"Keluarga dari turis asing khawatir dengan kerabat mereka yang terkena ledakan. Mereka butuh tempat bertanya. Kami hadir untuk menerjemahkan kondisi mereka," kata Sunantha Deepoh yang bersama temannya menjadi relawan penerjemah bahasa China kepada Bangkok Post, Rabu 19 Agustus 2015.

Penduduk sekitar pun tak kalah gesit menawarkan bantuan, termasuk kepada salah seorang awak media. Ia ditawari naik mobil oleh seorang pria begitu mengetahui ia adalah wartawan dan akan meliput ledakan yang telah merenggut 20 nyawa dan melukai 125 orang tersebut.

"Anda harus melaporkan kejadian ini, ayo ke rumah sakit," cerita seorang wartawan perempuan kepada Bangkok Post.

3 dari 4 halaman

Dampak Bom terhadap Pariwisata

Pada Selasa, kurang dari 24 jam setelah  ledakan, beberapa operator tur melaporkan pembatalan perjalanan dari para pelanggan mereka. 

"Ini akan berdampak pada pariwisata," kata Menteri Keuangan Sommai Phasee seperti dikutip dari Reuters. "Tapi sulit untuk memperkirakan dampak pada PDB karena sekarang adalah off season. Kami harus menunggu sampai Oktober untuk dampak yang lebih jelas. Kami berdoa bahwa wisatawan akan melupakan kejadian ini di beberapa bulan ke depan."

"Pelanggan Jepang kami semua telah mengkontak kami  dan pemesanan juga telah dibatalkan," kata Euamthip Panjai, manajer umum dari sebuah biro perjalanan di Bangkok. "Mereka mungkin tidak segera kembali."

Hotelier Thai Erawan Group, yang mengoperasikan Grand Hyatt Erawan Hotel terletak di sebelah kuil, mengatakan perusahaan itu menilai dampak negatif dari ledakan itu.

Setelah Thailand berhasil melewati kekacauan politik yang mengarah ke kudeta pada Mei tahun lalu, wisatawan telah kembali ke negara yang terkenal dengan pantai dan kehidupan malam, dengan kenaikan kedatangan turis asing hingga 29,5 persen menjadi 14,9 juta pada semester pertama 2015.

Sehari setelah ledakan, Thailand melaporkan pertumbuhan lamban ekonomi mereka, yaitu 2,8 persen pada April-Juni dengan pariwisata sebagai pendorong utama. Sektor pariwisata menyumbang sekitar 9 persen, menurut ekonom di ANZ.

Kuil Erawan yang merupakan sasaran bom terletak di Ratchaprasong, distrik mewah Bangkok, berdampingan dengan butik kelas atas, restoran dan kantor. Kuil ini dibuka kembali untuk publik dua hari setelah ledakan.

Presiden Dewan Pariwisata Thailand, Ittirit Kinglek, mengatakan, kepada Reuters, ada beberapa pembatalan wisatawan sejauh ini, tapi tidak sejumlah besar.

Biksu Budha memimpin upacara di lokasi ledakan di Kuil Erawan, Bangkok, Thailand, Rabu (19/8/2015). Bom meledak di depan kuil Erawan, pada Senin (17/8) malam, menewaskan 20 orang termasuk satu WNI. (REUTERS / Athit Perawongmetha)

"Kami pikir jika tidak ada insiden lebih lanjut, dampak negatif pada pariwisata tidak akan terlalu lama," katanya. "Thailand masih akan menjadi tujuan para wisatawan."

Pemerintah Hong Kong adalah salah satu yang pertama untuk memperingatkan warga untuk menghindari daerah itu dan mengeluarkan peringatan merah untuk Bangkok, travel advisory kedua tertinggi pada skala tiga poin.

Reaksi langsung terbesar tampaknya dari pelancong bisnis.

Direktur pemasaran dan komunikasi biro perjalanan Dynasty di Singapura, Alicia Seah, mengatakan ada 150 wisatawan yang telah memesan perjalanan ke Bangkok pada September 2015melalui kantornya. Namun sekitar 60 persen dari jumlah itu membatalkan rencana.

"Biasanya kalau terjadi sesuatu di tujuan tur, saya pikir dampak langsungnya adalah psikologis. Dan saya pikir dampak jangka pendek adalah bahwa mereka dapat menghindari mengunjungi tujuan untuk jangka waktu yang singkat," kata Seah.

Resepsionis di hotel bintang lima di dekat lokasi ledakan, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan bahwa tamu panik setelah serangan itu tetapi sebagian besar telah memutuskan untuk tinggal.

"Kita semua berharap ledakan tidak terulang lagi," katanya. "Mereka telah memutuskan untuk tinggal tapi, jelas, mereka gugup."

David Yeo, 60, dari Singapura, yang tinggal bersama istrinya di Grand Diamond Plaza Hotel, sekitar 1 km dari lokasi ledakan, mengatakan akan tetap tinggal. "Saya tidak membuat perubahan pada rencana perjalanan saya," ujar David.

Haydn Long, juru bicara Pusat Penerbangan di Australia, mengatakan tidak ada pembatalan luar biasa dari agen perjalanan. Wisatawan Australia tetap mengunjungi Thailand, namun mereka akan lebih memilih pantai dibanding ke tengah kota.

"Pengalaman beberapa tahun lalu, ketika ada kerusuhan sipil, masih ada turis masih melakukan perjalanan. Kebanyakan mereka tinggal di Bangkok selama satu malam, atau tinggal jauh dari daerah-daerah yang paling terkena dampak," kata Haydn.

Ekonom Credit Suisse di Singapura, Santitarn Sathirathai, mengatakan pemerintah perlu menunjukkan kendali keamanan telah kembali ke tangani. "Pemulihan pertumbuhan ekonomi Thailand sangat rapuh dan sangat bergantung pada pariwisata," katanya.

Tak ketinggalan dengan nilai mata uang Baht yang memang telah terpuruk semenjak beberapa tahun terakhir, ditambah dengan insiden ini, langsung meluncur tajam menuju 0,5 persen, atau 35,55 Baht per dolarnya. Ini adalah angka terendah semenjak April 2009, seperti dilaporkan Reuters. Thailand mesti bekerja keras. (Rie/Yus)