Sukses

Sigi Investigasi: Buah Beracun Menyisip di Pasaran

Liputan6.com, Jakarta - Kebutuhan akan buah segar sebagai makanan sehat sangat vital. Jika kita tengok di pasar tradisional maupun pasar modern, banyak pula orang membeli buah untuk asupan kesehatan. Tetapi kadang tak sadar buah yang kita konsumsi tak layak untuk dimakan.

Metode-metode pematangan buah yang tak semestinya dilakukan pedagang demi mengejar untung, padahal risiko ancaman kesehatan menjadi taruhannya. Musim panas telah tiba, dampaknya mulai terasa.

Debit air tanah berkurang hingga kekeringan melanda sejumlah daerah. Korbannya adalah para petani. Menurunnya serapan air tanah berimbas pada gagal panen dan hasil tanaman pun jadi rusak.

Jelas sekali, gagal panen ini mempengaruhi harga hasil bumi. Salah satunya adalah pedagang buah. Berkurangnya pasokan buah-buahan berimbas pada mahalnya harga buah itu sendiri. Hal ini dikeluhkan oleh para pedagang buah.

Ada salah satu tempat dimana di tempat ini salah seorang pedagang buah sempat menuturkan adanya trik yang dilakukan para petani untuk mempercepat dan membaguskan hasil panen, terlebih saat musim kemarau.

"Kebanyakan ada diberi obat, disemprot di sananya. Kalau yang jadi, bagus warnanya kuning. Kalau yang tidak jadi, semprotnya terlalu dekat, bisa-bisa hangus terbakar," ungkap salah satu pedagang.

Trik mempercepat masa panen yang diungkap pedagang tadi terdengar tidak lazimĀ  ini mengusik keingintahuan Tim Sigi Investigasi STCV untuk mengulik informasi soal panen super cepat itu.

Salah satu kota di pinggiran Jawa Barat, daerah yang terkenal dengan penghasil buah-buahan dan sayur-mayur kami sambangi. Di lokasi yang cukup terpencil, perkebunan dengan luas kurang lebih 4.000 hektar dipenuhi tanaman berbagai macam buah.

Pemilik perkebunan kami datangi. Dengan kamera tersembunyi yang telah dipersiapkan, tanpa disadari trik mempercepat buah agar matang dibeberkannya. "Ini mentah, disemprot pakai cairan, besok juga mateng. Bukan karbit, seperti bahan oba, cairan. Rasanya (buah) sama, tidak ada perbedaan apa-apa. Dalam (buahnya) juga lembek, bagus. Harga obatnya 1 botol kecil Rp 25.000. Pas beli bilang saja buat semprot buah," beber si pemilik perkebunan.

Karena didorong rasa penasaran, kami pun ingin membeli ramuan ajaib itu. Ternyata, sebuah toko yang menjual berbagai macam kebutuhan pertanian yang menjual ramuan ajaib itu. Ramuan ajaib sudah di tangan.

Dengan diantar seorang informan, kami menuju ladang tempat si petani bercocok tanam. Kami mulai berkeliling melihat berbagai tanaman. Si petani memperlihatkan sebagian hasil ladangnya.

Di situlah kami mencari beberapa buah-buahan yang masih muda untuk ditunjukkan cara kerja obat ajaib ini. Rasa penasaran menggumpal, ingin tahu apa yang terjadi pada buah yang dikondisikan dengan ramuan itu.

Buah pepaya muda yang diuji coba kali ini. Buah jambu muda pun tak ketinggalan jadi kelinci percobaan. Kami pun kembali ke tengah ladang, kali ini si petani mengarah ke pohon pisang yang masih terlihat sangat sangat muda.

Beberapa macam buah telah terkumpul. Botol yang berisi ramuan ajaib mulai dituangkan ke dalam ember dan dicampurkan dengan beberapa liter air. Satu persatu buah yang masih muda dicelupkan ke dalam cairan ajaib ini.

Dengan polos, si petani memberi tahu bagaimana caranya mengolah buah-buahan muda ini. Rekan si petani pun ikut membantu kegiatan mengoplos buah ini. Konyolnya, teman si petani ini menyarankan agar kita tidak makan buah celupan.

Rupanya, aksi celup mencelup ini adalah bagian mematangkan buah. Dan dari praktek ini, kami tahu cara membedakan buah yang matang dicelup dan matang di pohon. Buah-buahan yang telah dicelup dengan ramuan dikeringkan. Kini tinggal menunggu hasil. Air bekas celupan buah berubah menjadi agak kental dan mengeluarkan warna seperti pelangi.

Sore harinya kami kembali lagi untuk melihat si petani sedang memanen sebagian pohon jambunya dan sudah barang tentu cerita celup-mencelup kembali terulang.

1 hari berlalu. Buah yang telah dioplos ramuan ajaib kemarin masih sangat hijau dan jauh dari matang, kini sudah terlihat matang dan siap dilempar ke pasar. Masalahnya, penggunaan ramuan ajaib berisi zat kimia ini yang jadi pertanyaan, seberapa besar kadar bahayanya.Hasil dari uji laboratorium atas buah yang dioplos bahwa cairan yang terkandung di ramuan ajaib ini tingkat bahayanya cukup tinggi.

Hal itu dikarenakan bila cairan terkena kulit dan mata akan terjadi iritasi. Bisa dibayangkan apa jadinya bila cairan kimia ini masuk ke dalam tubuh kita. Apalagi cairan ini juga mengandung pestisida dan cara pemakaian ramuan yang benar hanya digunakan beberapa tetes saja serta harus disemprotkan ke pohon, bukan dicelupkan. Sejumlah risiko besar menanti apabila cairan kimia yang digunakan terserap dalam tubuh kita.

"Ketika kontak dengan kulit yang paling bisa dirasakan mungkin beberapa orang akan merasakan iritasi. Atau juga jika terciprat ke mata bisa menyebabkan radang di mata," ucap Dokter Dedi Sudrajat.

Jika buah-buahan yang diberi ramuan ajaib tersebut kita konsumsi terus-menerus juga akan memberikan dampak yang negatif bagi kesehatan. Tak hanya penyakit yang timbul, buah-buahan berzat kimia itu juga sangat tidak baik untuk wanita hamil.

"Pada konsumsi yang terus-menerus hingga terjadi akumulasi kandungan pestisida atau zat kimia tersebut yang melewati ambang keamanan, pada beberapa kasus akan memicu risiko terjadinya kanker misalnya atau diabetes militus. Pada ibu-ibu hamil bisa menimbulkan keguguran juga. Lalu pada janinya bisa menimbulkan kelainan-kelainan pada bayi," lanjut Dokter Dedi.

Tak hanya memberikan efek jangka panjang, mengonsumsi buah-buahan yang mengandung zat kimia juga memiliki banyak efek jangka pendek yang bisa langsung dirasakan tubuh.

"Pada efek jangka pendek jika kandungan yang dimakan terlalu banyak pestisida atau bahan kimia tertentu, biasanya akan timbul mual, pusing kepala, muntah-muntah, diare, yang kaitannya dengan gangguan pencernaan," tandas Dokter Dedi.

Ingin sehat malah terperangkap risiko yang membahayakan kesehatan. Pahami dan kenali buah segar yang alami untuk kita konsumsi jika tak ingin bermasalah di kemudian hari.

Ingin tahu bagaimana lihainya para petani dan pedagang mengoplos buah-buahan yang mereka jual dengan menggunakan ramuan ajaib? Saksikan selengkapnya dalam video tayangan Sigi Investigasi SCTV, Minggu (16/8/2015), di bawah ini. (Vra/Ali)

Artikel Selanjutnya
Tanggapan BPOM Soal Bihun yang Terbakar Menyala
Artikel Selanjutnya
Ada Pecahan Kaca dalam Garam Dapur? BPOM: Itu Tidak Benar