Sukses

'Tersangka' MERS: Unta Muda Berpunuk Satu

Liputan6.com, Jakarta - Pada November 2013, seorang pria Arab Saudi berusia 44 tahun dilarikan ke rumah sakit akibat sesak nafas parah. Tak beberapa lama kemudian ia meninggal dunia. Pasien dinyatakan positif menderita Middle East Respiratory Syndrome (MERS).

Kemudian terkuak, ia tertular virus tersebut lewat unta peliharaannya. Petunjuk soal itu muncul. Seminggu sebelum sakit, ia merawat salah satu hewan peliharaannya yang sakit hidung.

Para peneliti mengumpulkan sample dari rongga hidung dan darah pasien, juga dari 9 unta peliharaanya, serta memindai sampel virus penyebab MERS yakini MERS-Coronavirus atau MERS-CoV.

Virus MERS (MERS-CoV) (Credit: CDC/ Cynthia Goldsmith, Azaibi Tamin)

Seperti dikutip dari situs sains LiveScience, virus yang terdeteksi pada pasien dan salah satu untanya, yang ternyata adalah hewan yang sakit hidung -- sebut saja Camel B -- identik secara genetika. 

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa unta adalah pembawa (carrier) MERS-CoV. Namun, baru kali itu terungkap apakah unta bisa menginfeksi orang secara langsung, atau apakah manusia mendapatkannya dari sumber lain. Kasus pertama MERS muncul pada September 2012 di Arab Saudi.

Temuan menunjukkan bahwa, "unta dromedaris (satu punuk) adalah sumber dari Mers-CoV yang menginfeksi pasien yang melakukan kontak dengan lendir dari rongga hidung," demikian ujar para peneliti dari King Abdulaziz University di Jeddah dalam publikasi di New England Journal of Medicine edisi 4 Juni 2014.

"Ada banyak bukti lain yang mengarahkan, bahwa unta bisa menularkan MERS ke manusia," kata Dr. William Schaffner, dosen di Vanderbilt University Medical Center, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, yang tak terlibat dalam studi.

1 dari 4 halaman

Unta Muda Berpunuk Satu

Unta Muda Berpunuk Satu

Sementara, seperti dimuat BBC, penelitian terbaru menunjukkan, unta berpunuk satu yang berusia kurang dari 4 tahun amat mungkin menjadi sumber penyakit MERS.

Temuan itu dihasilkan para peneliti dari Universitas Bonn, Jerman, dan Universitas Erasmus, Belanda -- setelah meneliti ratusan hewan di Timur Tengah, termasuk sapi, kuda, kambing, domba, dan unta.

Dari penelitian yang dipaparkan dalam jurnal ilmiah Emerging Infectious Diseases, terungkap bahwa 90% unta terinfeksi pada usia dua tahun dan penularan virus MERS lebih sering ditemukan pada anak unta dibandingkan unta dewasa.

Dasar dari kesimpulan virus MERS datang dari unta berpunuk satu atau disebut unta dromedari terjadi ketika para peneliti  memusatkan perhatian pada hewan-hewan yang berkontak langsung dengan manusia di Timur Tengah.

Meski dugaan virus korona berasal dari unta masih jadi tanda tanya. Kementerian Kesehatan RI mengakui bahwa unta dapat menyebarkan virus

Di antara semua hewan, unta dromedari memiliki antibodi yang mengenali protein virus MERS. Hal ini menunjukkan hewan tersebut pernah terinfeksi virus MERS pada suatu masa.

Namun, adanya antibodi yang reaktif terhadap MERS belum cukup. Sebab, beberapa antibodi terkadang bisa mengenali sejumlah virus yang berasal dari famili yang sama.

Meski demikian, para peneliti menduga virus MERS menjangkiti manusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh unta-unta yang terinfeksi. Unta-unta muda biasanya takut dengan manusia dan menghindari kontak fisik. Namun ketika dipisahkan dari induknya -- biasanya pada atau sebelum dua tahun -- mereka dipertemukan dengan manusia dan ini membuka kesempatan menyebarnya virus.

Selain itu, infeksi juga mungkin tersebar dengan meminum susu unta yang tidak dipasteurisasi. Susu unta amat mungkin mengandung virus MERS karena virus itu menempel pada puting induk unta ketika anak unta yang terinfeksi menyusu dari ibunya.

2 dari 4 halaman

Jemaah Haji dan Umrah Diminta Waspada

Jemaah Haji dan Umrah Diminta Waspada

Middle East Respiratory System Corona Virus (MERS-CoV) menjadi salah satu yang diwaspadai dalam penyelenggaraan ibadah haji 2015. Seperti dikutip dari Arab News, penyakit lain adalah ebola, demam kuning, influenza dan polio.

Indonesia juga waspada. Tak dapat dipungkiri, salah satu faktor yang menyebabkan negara kita rentan terjangkit virus MERS adalah jemaah umrah dan haji paling banyak berasal dari Tanah Air.

Jadi, meskipun MERS di Korea Selatan sedang menjadi sorotan, kita harus ingat bahwa penyakit ini masih aktif di Arab Saudi.

Data statistik kedatangan kepulangan jemaah umrah, Kementerian Agama mencatat, jumlah jemaah umrah dari 1 Januari sampai 7 Mei 2015 mencapai 24.869 orang. Jumlah jemaah umrah setiap hari rata-rata 200 orang atau lebih kurang 6.000 jemaah per bulan. Jumlah ini biasanya meningkat drastis pada bulan puasa, awal Idulfitri, pada hari hari besar keagamaan Islam dan juga pada saat libur anak sekolah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak calon jemaah haji untuk meningkatkan kewaspadaan MERS

 Begitu pula dengan jemaah haji yang jumlahnya tak kurang dari dari 168.000 orang juga ikut mempertinggi risiko. Member WHO Emergency Committee on MERS-CoV sekaligus Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, ada beberapa hal terkait MERS yang perlu dicermati jemaah umrah atau haji yang akan berangkat atau baru tiba di Arab Saudi: angka kematian meningkat dan usia korban terinfeksi semakin muda.

"Para jemaah umrah Ramadan (dan jemaah Haji nanti) perlu waspada. Bila sekarang masih di Tanah Air, periksakan diri ke dokter untuk menangani penyakit kronik yang ada, karena penyakit kronik paru, jantung, ginjal, DM dan lainnya merupakan faktor risiko utama terjadinya MERS," kata Tjandra melalui pesan singkatnya pada Juni lalu.

Tjandra pun menyarankan beberapa hal berikut yang bisa mencegah tertularnya MERS, yaitu sering cuci tangan dengan sabun dengan air mengalir, selama setidaknya 20 detik dam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. “Jangan kontak dengan unta, tidak perlu foto naik atau berada di depan atau dekat unta. Jangan minum susu unta mentah dan tidak perlu jalan-jalan ke peternakan unta,” kata dia.

Terkait dengan maraknya MERS di luar negara-negara Timur Tengah, jemaah haji tahun ini dibekali informasi tentang cara pencegahan MERS-CoV, diberi masker, dan cairan antiseptik atau desinfektan.  

Begitu pula dengan Tenaga Kesehatan Haji Indonesia. Mereka diberikan materi dan pelatihan penanggulangan MERS CoV sehingga bisa membantu jemaah haji untuk melakukan antisipasi dan pencegahan.

3 dari 4 halaman

Belum Ada Obat untuk Atasi MERS

Belum Ada Obat untuk Atasi MERS

Meski belum ada obat untuk mengatasi virus MERS, Prof dr Tjandra Yoga Aditama menyebutkan lima obat yang kini coba digunakan pada pasien MERS di beberapa negara.

"Saat ini belum ada pengobatan yang dapat mematikan virus korona penyebab MERS. Namun, selain terapi suportif sesuai parahnya penyakit, ada lima obat yang kini coba digunakan di beberapa negara," katanya, seperti dimuat dalam keterangan pers, akhir Juni lalu.

Obat-obat ini belum benar-benar teruji secara ilmiah, tapi sudah mulai digunakan:

1. Plasma konvalesens, yaitu darah dari pasien yang yang sembuh dari MERS dianggap punya zat anti

2. Ribavirin, suatu jenis antivirus

3. Protease inhibitor dengan nama Kaletra, yang biasa dipakai mengobati HIV AIDS

4. Beta interferon, yang pernah dipakai mengobati SARS

5. Interferon alfa 2 A

Selain itu, kata dia, jenis obat lain yang kadang-kadang digunakan meliputi Nitazoxanide, Cyclosporin A, Immunoglobulin Intravena dan Dipeptidyl Peptidase 4 (DPP4, atau dikenal dengan CD 26). (Abd/Ein)