Sukses

Sigi Investigasi: Waspada Sindikat Calo Tiket

Liputan6.com, Jakarta - Tak lama lagi Lebaran akan tiba dan tradisi mudik atau pulang kampung pun dimulai. Angkutan umum baik darat, laut, maupun udara bersiap-siap menyambut serbuan penumpang.

Beragam cara dilakukan pemudik agar bisa sampai kampung halaman dengan selamat.  Ada yang menggunakan kendaraan pribadi dan tak sedikit pula yang menggunakan alat transportasi massal.

Konsep pembelian tiket online juga diigunakan dalam rangka efisiensi dan juga kemudahan layanan. Namun ternyata, calo tiket masih saja bergentayangan. Akibatnya, harga-harga tiket pun melompat. Calo tiket masih saja bisa beroperasi saat pembelian online sudah diaktifkan.

Saat musim mudik, terminal bus dan stasiun kereta api akan terlihat lebih sibuk dari biasanya dan penuh sesak calon penumpang. Bahkan tak jarang para pemudik ini menginap di stasiun dan terminal.

Model transportasi yang banyak diminati pada musim mudik salah satunya adalah kereta api. Selain tepat waktu, harga tiket yang lumayan murah menjadi daya tariknya.

Sistem pelayanan kereta api terus diperbaiki untuk mempermudah pemudik mengakses kendaraan umum massal ini. Namun tetap saja keluhan pemudik bermunculan, terutama saat pesan tiket mudik via online. Beragam masalah pun menghadang.

Keluhan-keluhan warga ini menjadi dasar Tim Sigi Investigasi SCTV untuk menyelidiki sejauh mana masalah ini mengganggu pemudik. Malam hari menjadi saat yang tepat untuk kami menemui salah seorang petugas tiket kereta api. Niatnya adalah mencari cerita-cerita miring yang jadi pangkal persoalan.

Rupanya ada yang belum berubah dari tahun ke tahun. Info orang dalam isyaratkan ada sejumlah orang yang kuasai tiket mudik Lebaran. Tujuannya adalah mencari mangsa pemudik yang kehabisan tiket untuk ditawari tiket dengan harga yang selangit. Kami pun bergerak mengendus dan menelusuri siapa saja yang bermain. Langkah awal, kami sambangi Stasiun Gambir.

Setelah itu, kami pindah ke daerah target lainnya yaitu Stasiun Senen. Sejumlah orang yang diduga kuat sebagai calo kami rekam aksinya dengan kamera tersembunyi.

Teriakan beberapa orang di sini menawarkan tiket mudik cuek dan secara terang-terangan. Lucunya, petugas keamanan tampak tak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Masih di lokasi yang sama, ternyata cukup banyak warga yang mencari tiket untuk mudik. Jelas, situasi ini memberi celah peluang kepada para calo untuk melancarkan aksinya.

Guna mendulang informasi, kami pun berpura-pura pesan tiket dengan tujuan ke Jawa Tengah. Kami menemukan seorang calo tiket. Masih belum puas dengan keterangan calo tadi, kami lompat ke calo lainnya. Beberapa syarat diungkapkan. Pencarian ini untuk memastikan ada tidaknya tiket mudik.

Dan tiba-tiba datang seseorang menawarkan pengadaan tiket yang sesuai dengan tujuan dan tanggal yang kami cari. Kebetulan sekali rupanya Ia masih rekan calo yang sebelumnya kami datangi.

Setelah nego selesai, calo pun meminta kontak kami lalu bergegas pergi. Sambil menunggu tiket jadi, kami melintas dekat areal parkir. Ada rasa curiga menghampiri  karena kami melihat seseorang dengan laptop, mesin print, dan scan. Di sini dugaannya adalah alat untuk pembuatan tiket.

Tak lama, sang calo menghubungi kami. Calo datang dengan tiket di tangan. Tak hanya tiket, kartu identitas palsu juga ia erah terimakan. Kami pun mencoba identifikasi kartu identitas yang ia berikan.

Transaksi jual beli tiket pada calo di sekitar Stasiun Senen ternyata ada urusan yang menyerempet hukum. Menjual tiket kereta yang dilampirkan identitas palsu dari tiket yang kami dapat, tertera nama dan nomor identitas orang lain, namun fotonya menggunakan foto kami yang discan lalu dibuatkan kartu identitas palsu.

Beredarnya tiket yang dilampiri dengan kartu identitas palsu mengusik kami untuk mengetahui siapa bos-bos para calo ini. Dari info beberapa calo, kami ditunjukkan tempat kumpul orang yang mengendalikan para calo. Nampak beberapa orang dengan laptopnya mengecek jadwal perjalanan sambil menunggu anak buah datang membawa calon pembeli. Di sini, harga tiket miring 30% dari yang dijual para calo.

Sistem E-Ticketing yang bermasalah dan percaloan di stasiun ditanggapi serius oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan juga PT KAI.

Aksi para calo tiket yang menyerempet hukum membuat beberapa implikasi di kemudian hari yang bisa sangat merugikan pembeli tiket dan sanksi hukum juga menanti para calo.

Persoalan sindikat calo tiket adalah permasalahan yang selalu berulang tiap tahunnya dan yang mengherankan masalah ini tak kunjung usai. Diperlukan tekad kuat dari instansi yang terkait untuk menuntaskan masalah ini sehingga penumpang tak lagi dirugikan dan siapapun yang terlibat harus ditindak tegas agar ada efek jera dalam kasus percaloan ini.

Anda penasaran bagaimana sepak terjang calo saat menjual tiket kereta api jelang mudik Lebaran ini? Saksikan selengkapnya dalam video tayangan Sigi Investigasi SCTV, Minggu (5/7/2015), di bawah ini. (Vra/Ali)

Artikel Selanjutnya
Polisi Bekuk 4 Sindikat Pemalsu STNK Beromzet Ratusan Juta
Artikel Selanjutnya
Penjual Sepeda Motor Bodong Makin Berani di Medsos