Sukses

Kisah Serda Amir dan Jatuhnya Pesawat Hercules Paling Populer

Liputan6.com, Jakarta - Serda Amir Asmono Abdulah (37) mendatangi lokasi jatuhnya pesawat Hercules C-130 di Jalan Jamin Ginting, Padang Bulan, Medan, Sumatera Utara untuk mencari jenazah istrinya Yunita (34) dan anak bungsunya Ahmad Wildan Abdullah (3). Kisah pencarian Serda Amir menjadi berita yang paling banyak dibaca sepanjang Kamis kemarin.

Disusul oleh berita tentang Elesta Apriliana Wulansari, pilot wanita dari maskapai Trigana Air. Demikian pula dengan berita kelompok pemberontak Islamis garis keras di Suriah yang mengeluarkan video yang memperlihatkan pejuangnya menembak mati milisi dari ISIS.

Top 5 News Selengkapnya:

1. Kisah Serda Amir Lolos dari Maut, Tapi Anak Istri Jadi Korban

Serda Amir Asmono Abdulah (37) mendatangi lokasi jatuhnya pesawat Hercules C-130 di Jalan Jamin Ginting, Padang Bulan, Medan, Sumatera Utara. Ia datang untuk mencari jenazah istrinya, Yunita (34), dan anak bungsunya, Ahmad Wildan Abdullah (3). Keduanya dipastikan menjadi korban tewas setelah Serda Amir mendapat telepon dari TNI Angkatan Udara RI.

Pencarian warga Kompleks TNI AL Dewa Kembar, Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara, itu pun membuahkan hasil. Dia menemukan jenazah sang anak, Wildan. Amir menuturkan, jenazah anaknya mudah dikenali karena masih utuh.

"Kami mendapat kabar dari Pak Amir kalau anaknya Wildan ditemukan sudah tak bernyawa, tapi utuh. Badannya enggak terbakar," ungkap tetangga rumah yang menghubungi Amir, Jim Cawali di rumah korban, Jakarta Utara, Rabu 1 Juli 2015 malam.

Selengkapnya...

2. Elesta, Pilot Cantik 'Penakluk Langit' Indonesia Timur

Namanya Elesta Apriliana Wulansari. Gadis cantik berusia 22 tahun itu kerap memajang foto-fotonya di pesawat, memandang langit dari balik jendela atau duduk di kokpit memegang kemudi.

Elesta memang bekerja di dalam pesawat. Bukan sebagai pramugari, melainkan pilot. Semuda itu, ia telah mengantungi 2.500 jam terbang menggunakan ATR 42 dan ATR 72, mayoritas dicatatnya di langit Indonesia Timur, Kalimantan hingga Papua.

Siang itu, Tim Liputan6.com menemui pilot maskapai Trigana Air itu di Bandara Halim Perdanakusuma. Perempuan kelahiran Brebes itu tak memakai seragam penerbang, tak sedang bertugas. Wajahnya hanya disapu riasan tipis.

Elesta menceritakan pengalaman pertamanya berada di balik kemudi pesawat. Hari itu, 17 Agustus 2010 pukul 11.00 WIB, saat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang di penjuru Nusantara.

Selengkapnya...

3. Pemberontak Suriah Rekam Penembakan Belasan Tentara ISIS

Kelompok pemberontak Islamis garis keras di Suriah mengeluarkan video yang memperlihatkan pejuangnya menembak mati milisi dari kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

Seperti dilansir BBC, Kamis (2/7/2015), anggota Jaysh al-Islam atau Angkatan Bersenjata Islam yang mengenakan seragam oranye terlihat membunuh 18 pria berpakaian hitam yang disebut sebagai tentara ISIS.

Lewat video tersebut mereka mengatakan penembakan dilakukan sebagai balas dendam atas pemenggalan yang baru-baru ini dilakukan ISIS terhadap 3 pejuang Jaysh al-Islam. Kelompok yang didukung Arab Saudi ini juga menuduh ISIS menjadi sekutu pemerintah Suriah.

Video sepanjang 20 menit yang diunggah pada situs internet Jaysh al-Islam itu menirukan rekaman ISIS saat mengumumkan pembunuhan tentara pemerintah dan sandera Barat.

Selengkapnya...

4. Kata Kapolri Soal Anggotanya Gabung ISIS di Suriah

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menyatakan Brigadir Syahputra atau yang dikenal nama Abu Azzayn Al Indunisiy sudah tidak lagi terikat dengan Korps Bhayangkara. Dia dikabarkan terbang ke Suriah untuk bergabung kelompok militan ISIS.

"Yang bersangkutan meninggalkan tempat tugas itu sudah Februari yang lalu," ujar Badrodin di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Rabu (1/7/2015).

Badrodin melanjutkan, usai menyatakan keluar dari Polri, Brigadir Syahputra berpamitan kepada istrinya di Medan dan orang tuanya di Binjai dengan alasan hendak pergi ke Malaysia.

Brigadir Syahputra pun menceraikan istrinya dan menulis surat wasiat yang berisi pesan agar hartanya diberikan kepada sang anak.

Selengkapnya...

5. 3 Fakta Menarik Pilot Hercules C-130 Kapten Sandy Permana

Pesawat Hercules C-130 yang dipiloti Kapten Penerbang Sandy Permana jatuh dan terbakar di Medan, Sumatera Utara pada Selasa 30 Juni 2015. Burung besi buatan 1960-an itu terbang hendak mengantarkan logistik ke sejumlah Lanud di Kepulauan Natuna, Riau.

Sebanyak 122 orang tewas. Mereka terdiri 110 penumpang sipil dan 12 orang dari kru pesawat. Di antara kru yang tewas itu adalah Kapten Penerbang Sandy Permana.

Kepergian Sandy menyisakan kesedihan di hati rekannya. Hal ini lantaran Sandy dikenal sebagai sosok yang santun. Prestasi yang ditorehnya dalam pendidikan taruna nusantara membuat rekannya angkat topi.

Tak hanya itu, pria kelahiran 27 Desember 1984 lalu itu juga dikenal sebagai pria yang menghormati keluarganya. Bahkan julukan pria saleh pun disematkan kepada sang penerbang dari Skuadron Udara 32 Lanud Abdul Saleh.

Selengkapnya...

(Ado/Mar)

Artikel Selanjutnya
VIDEO: KNKT Selidiki Senggolan Lion Air dan Wing Air di Kualanamu
Artikel Selanjutnya
Mengenang Kehebatan Pesawat Cureng Pengebom Tangsi Belanda