Sukses

Dirut Mandiri: Rupiah 13.300/US$, Perbankan Masih Aman

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali melemah ke kisaran 13.300 per dolar Amerika Serikat pada akhir pekan ini. Level yang sama seperti dua pekan sebelumnya. Jika dihitung, pelemahan rupiah terhadap dolar AS sejak awal tahun berada di kisaran 6 persen.

Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, naik turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebenarnya bisa dipahami dengan sangat sederhana. Ia mengibaratkan nilai tukar sama dengan barang yang tunduk dengan teori permintaan dan penawaran.

"Dolar itu seperti barang, kalau makin banyak permintaannya, akan semakin tinggi harganya. Kalau semakin sedikit permintaannya juga akan makin murah harganya," ucap Dirut Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, beberapa hari lalu.

"Kenyataan sekarang mengapa kursnya semakin tinggi karena permintaan dolar AS lebih tinggi dibandingkan dengan pasokan yang ada," sambung dia.

Budi melanjutkan, secara teori ada dua hal dasar yang mempengaruhi nilai tukar rupiah ini, yaitu neraca perdagangan atau trade balance dan selisih antara suku bunga dengan inflasi. Namun sebenarnya, di luar itu juga masih ada faktor lain yang mempengaruhi yaitu sisi psikologis.

"Ada dua hal yang menentukan kurs, pertama dari hitung-hitungan formalnya, biasanya dilihat dari trade balance antara AS dan Indonesia, juga selisih interest rate dan inflasi. Tetapi ada hal lain yang juga mempengaruhi kurs, di luar hitung-hitungan formal, yaitu dari sisi psikologi," urai dia.

Dari sisi neraca perdagangan, dolar AS akan terus menguat, ekspor barang dari Amerika ke Indonesia lebih besar jika dibanding dengan ekspor barang Indonesia ke Amerika atau impor Indonesia akan barang Amerika lebih tinggi jika dibanding dengan impor barang Indonesia oleh Amerika.

Dari sisi hitung-hitungan formal, lanjut Budi, level rupiah saat ini dinilai masih cukup wajar. Namun yang harus diwaspadai adalah sisi psikologis agar tidak membuat rupiah semakin terpuruk.

"Saya melihat kalau dari hitung-hitungan formal, angka ini sudah angka yang wajar, kurs sekarang sudah kurs yang wajar. Tetapi yang kita mesti jaga hati-hati, jangan sampai faktor psikologis bisa mempengaruhi kursnya lari ke arah yang lebih tinggi," tukas Budi.

Beda dengan 2008

Budi menuturkan, jika melihat kondisi pelemahan rupiah seperti saat ini, ada dua hal yang perlu harus dijaga. Pertama, yaitu likuiditas valuta asing dan beruntungnya kondisi Indonesia dan dunia saat ini jauh berbeda dengan krisis 2008 di mana likuiditas dolar AS cukup banyak.

"Sejak krisis 2008, The Fed lakukan quantitative easing, itu banyak sekali pasokan dolar AS di dunia, termasuk di Indonesia. Jadi isu yang pertama sudah bisa kita atasi," kata dia.

Sedangkan hal kedua yang harus dijaga, yaitu kualitas kredit dalam mata uang dolar AS. Hal ini penting mengingat kebanyakan perusahaan yang menjadi nasabah di perbankan Indonesia memiliki pendapatan dalam rupiah, bukan dalam dolar AS.

"Kalau nasabahnya penghasilannya rupiah, dia harus bayar lebih tinggi lagi. Nah khusus untuk Bank Mandiri kami merasa beruntung karena sejak krisis 2008 kami belajar kalau memberi kredit dolar AS hanya kepada perusahaan-perusahaan yang memiliki income dolar AS. Sehingga tidak ada masalah mengenai kenaikan atau perubahan kurs," jelas Budi.

Dengan ekonomi saat ini yang jauh lebih baik dibandingkan saat krisis pada 2008 lalu, dia masih tetap optimistis sektor perbankan masih bisa tumbuh lebih baik.

"Karena kondisi sekarang sudah jauh lebih baik dibandingkan 2008. Jadi saya tidak khawatir, rasa optimistis saya masih tinggi bahwa Bank Mandiri dan perbankan nasional masih kuat untuk menghadapi ini," tandas Budi.

Simak selengkapnya wawancara khusus Liputan6.com dengan Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin yang dipandu Farhannisa Nasution, dalam video di bawah ini:

(Dny/Gdn/Ans/Ado)