Sukses

Pesawat Pertama Buatan Indonesia Lahir di Sebuah Gudang Kapuk

Liputan6.com, Jakarta Siapa sangka sejarah penerbangan serta produksi pesawat terbang negara ini bermula dari sebuah gudang kapuk, tak lama setelah Republik Indonesia diproklamirkan. Dari gudang itu dunia penerbangan serta produksi pesawat Indonesia kemudian mengalami pasang surut akibat pengaruh politik serta kemerosotan ekonomi.

Cerita dimulai ketika Tentara Republik Indonesia (TRI) Angkatan Udara yang menjadi cikal bakal TNI-AU dibentuk dan mulai berdiri sebagai sebuah kesatuan pada 9 April 1946. Setelah terbentuknya TRI-AU, pada tahun yang sama dibentuk pula Biro Perencanaan dan Konstruksi yang berlokasi di Maospati, sebuah kecamatan di Jawa Timur yang menjadi pertemuan jalur dari 3 kabupaten, yaitu Magetan, Madiun dan Ngawi.

Kegiatan biro ini dimotori oleh sejumlah opsir, terutama Opsir Muda Udara II (setara Letnan II) Nurtanio Pringgoadisurjo, Wiweko Supono dan Sumarsono. Jauh sebelum kemerdekaan, ketiganya merupakan sosok yang mencintai dunia penerbangan. Bahkan, Nurtanio sempat mendirikan klub pecinta pesawat bernama Junior Aero Club (JAC) di masa pendudukan Jepang.

 Laksamana Muda Udara Nurtanio (Wikipedia)

Saat pertama ditempatkan di Maospati, mereka hanya diberi ruangan kerja sebuah gudang kapuk. Oleh ketiganya, tempat itu disulap menjadi sebuah bengkel kerja sederhana yang kemudian berhasil menorehkan prestasi di bidang rekayasa pesawat udara.

Tak perlu menunggu lama. Setahun kemudian bengkel gudang kapuk itu berhasil menciptakan pesawat pertama hasil karya anak negeri. Tahun 1947 usaha mereka menghasilkan pesawat layang Zogling dengan kode NWG-1 (Nurtanio-Wiweko Glider). Nurtanio juga sukses mengujicoba pesawat tersebut.

Sebanyak 6 unit pesawat jenis itu telah dibuat dan digunakan untuk mengembangkan kepentingan penerbangan Indonesia dan pada saat yang sama memperkenalkan dunia penerbangan untuk calon pilot yang dipersiapkan untuk mengikuti pelatihan penerbangan di India.

Setahun berselang mereka menorehkan prestasi lagi saat berhasil membuat mesin pesawat pertama, yang merupakan modifikasi dari mesin Harley Davidson, WEL-X. Mesin ini dirancang oleh Wiweko Supono dan pesawat buatan mereka selanjutnya dikenal dengan nama RI-X.

Terhenti karena Agresi

Sayang, untuk sementara kerja keras mereka harus terhenti karena pada tahun yang sama pecah peristiwa pemberontakan PKI di Madiun serta agresi Belanda. Bengkel pesawat mereka pun terpaksa ditutup.

Pada periode itu kegiatan penerbangan di Indonesia lebih ditekankan sebagai bagian dari revolusi fisik untuk pertahanan negara ketimbang penciptaan. Namun, pada masa ini juga lahir pesawat-pesawat yang dimodifikasi untuk misi tempur.

Agustinus Adisutjipto adalah tokoh yang sangat berperan dalam periode ini. Dia telah merancang dan menguji sendiri pesawat terbang hasil rancangannya pada medan pertempuran udara yang sesungguhnya. Adisutjipto memodifikasi pesawat Cureng ke dalam versi serangan darat.

Sementara itu, usai ditutupnya bengkel di Maospati, sekitar Juli 1948 Nurtanio ditugaskan ke Manila, Filipina untuk melanjutkan studi kedirgantaraan di FEATI (Far Eastern Aero Technical Institute).

Setelah agresi Belanda dan pemberontakan PKI Madiun berakhir, kegiatan produksi pesawat dilanjutkan pada 1950. Namun, lokasinya tak lagi di Maospati, melainkan di Lapangan Udara Andir (cikal bakal Bandar Udara Husein Sastranegara) di Bandung, Jawa Barat.

Pada saat bersamaan, setelah menggondol Bachelor in Aeronotical Science dari FEATI, Nurtanio kembali ke Tanah Air dan pindah tugas ke Djawatan Teknik Udara di Lapangan Udara Andir.

Pada 1953 kegiatan di Djawatan Teknik Udara tersebut dilembagakan menjadi Seksi Percobaan yang memiliki 15 orang anggota. Seksi Percobaan berada di bawah pengawasan Komando Depot Perawatan Teknik Udara yang dipimpin Nurtanio dengan pangkat baru sebagai Mayor Udara.

Selanjutnya: Lahirnya Si Kumbang...

1 dari 5 halaman

Lahirnya Si Kumbang

Lahirnya Si Kumbang

Berdasarkan desain Nurtanio, pada 1 Agustus 1954 seksi ini berhasil menerbangan prototipe pesawat dalam negeri pertama dengan nama Si Kumbang-01. Sebuah pesawat terbang yang keseluruhan konstruksinya sudah dibuat dari bahan logam dengan kapasitas 1 orang. Pesawat single seater ini dilengkapi dengan senjata otomatis untuk menembak dari udara ke darat.

"Yang sangat membanggakan, walaupun masih dalam bentuknya yang sangat sederhana, Si Kumbang-01 ini sudah dapat digolongkan sebagai prototipe dari pesawat terbang jenis counter insurgency seperti apa yang tertera dalam buku Jane’s of all the Worlds Aircraft," ujar mantan Kepala Staf TNI AU Chappy Hakim dalam laman pribadinya, chappyhakim.com.    

Saking fenomenalnya penciptaan ini, selain tercantum dalam buku Jane’s of all the Worlds Aircraft, pesawat Si Kumbang-01 juga tertera dalam majalah Aviation di Amerika Serikat (AS), majalah Flight terbitan Inggris, serta majalah penerbangan di Jepang dan Filipina.

Pesawat Sikumbang (Wikipedia)

Pada 24 April 1957, berdasarkan keputusan Panglima Angkatan Udara Nomor 68, Seksi Percobaan ditambahkan ke dalam sebuah organisasi yang lebih besar yang disebut Sub Depot Penyelidikan, Percobaan dan Pembuatan.

Setahun kemudian, Nurtanio menciptakan pesawat latih Belalang pada 1958 untuk pendidikan penerbangan. Dia menguji terbang pada 26 April 1958 dan memperbaiki kekurangan-kekurangannya sehingga kecepatannya mencapai 144 kilometer per jam. 

Belalang adalah pesawat produksi LIPNUR (Wikipedia)

Pesawat latih ini digunakan untuk mendidik para calon penerbang Angkatan Udara dan Pusat Penerbangan Angkatan Darat. Setelah itu, 3 Belalang diproduksi dan dikirim ke sekolah penerbangan AU di Yogyakarta dan Curug, Tangerang, dan sekolah penerbangan AD di Semarang.

Pada tahun yang sama, Nurtanio dan para asistennya berhasil membuat pesawat olahraga Kunang 25. Pesawat berbadan kayu ini menggunakan mesin Volkswagen 25HP berkapasitas 1190cc. Ia juga merintis membuat prototipe helikopter Kepik dan Manyang serta girokopter Kolentang.

Karya Terakhir Nurtanio

Sejalan dengan prestasi yang telah diperoleh dan dalam rangka pengembangan, berdasarkan Surat Keputusan Panglima Angkatan Udara Indonesia No 488, didirikan Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP). Lembaga ini diresmikan pada 16 Desember 1961 dan bertugas untuk mempersiapkan pendirian industri penerbangan dengan kemampuan untuk mendukung kegiatan penerbangan nasional.

Pada 1961 LAPIP menandatangani perjanjian kerja sama dengan CEKOP, industri pesawat terbang Polandia, untuk membangun industri pesawat terbang di Indonesia. Kontrak ini meliputi pembangunan fasilitas manufaktur pesawat terbang dan pelatihan SDM.

Selanjutnya LAPIP berhasil memproduksi pesawat di bawah lisensi yang bernama PZL-104 Wilga yang kemudian diberi nama oleh Presiden Sukarno sebagai Gelatik. Pesawat Gelatik yang diproduksi hingga 44 unit ini digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian, transportasi ringan dan aero-club.

Melalui Keputusan Presiden, Komando Pelaksana Industri Pesawat Terbang (Kopelapip) atau Eksekutif Komando Persiapan Industri Penerbangan dan PN Industri Pesawat Terbang Berdikari didirikan pada 1965.

Sayang, Nurtanio sebagai salah satu pionir dunia penerbangan Indonesia tak bisa melanjutkan karyanya. Pada 21 Maret 1966, dia dan kopilot Soepadio tewas dalam penerbangan berkeliling Kota Bandung. Baru 3 menit di udara, satu mesin tiba-tiba mati sehingga pesawat kehilangan tenaga. Pesawat menghantam bangunan toko dan pecah berkeping-keping di Lapangan Tegalega, Bandung.

Untuk menghargai kontribusi Nurtanio terhadap pengembangan penerbangan di Tanah Air, Kopelapip dan PN Industri Pesawat Terbang Berdikari pada tahun itu juga digabungkan menjadi Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (Lipnur).

Dalam pengembangan selanjutnya Lipnur menghasilkan pesawat latih dasar yang disebut LT-200. Dan lembaga ini difungsikan untuk purna jual-jasa, pemeliharaan, serta perbaikan dan overhaul pesawat terbang.

Kendati penemuan terbaru agak meredup dengan meninggalnya Nurtanio, dunia penerbangan Indonesia kembali bersinar ketika Lipnur berganti nama menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN). Perusahaan baru ini diresmikan Presiden Soeharto pada 26 April 1976 dengan memunculkan nama baru di dunia penerbangan nasional, BJ Habibie, yang didapuk sebagai Direktur Utama IPTN.

Selanjutnya: Penerus Nurtanio dari Aachen...

2 dari 5 halaman

Penerus Nurtanio dari Aachen

Penerus Nurtanio dari Aachen

Lahirnya PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) serta munculnya sosok BJ Habibie tidak terjadi dengan tiba-tiba. Jauh sebelumnya Presiden Soeharto sudah mengenal sosok Habibie dan punya mimpi untuk membangun industri pesawat terbang yang bisa membanggakan negara yang baru saja bangkit ini.

Dipilihnya Habibie untuk mengelola proyek besar ini juga sangat tepat. Hanya 6 bulan ia kuliah di Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) dilanjutkan ke Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule, Jerman pada 1955. Dengan dibiayai ibunya yang asal Jawa, R.A. Tuti Marini Puspowardoyo, Habibie muda menghabiskan 10 tahun untuk menyelesaikan studi S-1 hingga S-3 di Aachen, Jerman.

Setelah lulus, pria kelahiran Pare-pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 itu bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) Hamburg (1965-1969) sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktur Pesawat Terbang. Habibie kemudian menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB (1969-1973).

Atas kinerja yang sangat bagus, 4 tahun kemudian ia dipercaya sebagai Wakil Presiden sekaligus Direktur Teknologi di MBB (1973-1978) serta menjadi Penasihat Senior bidang teknologi untuk Dewan Direktur MBB. Dia menjadi satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki jabatan nomor 2 di perusahaan pesawat terbang Jerman ini.

Sebelum memasuki usia 40 tahun, karier Habibie sudah sangat cemerlang, terutama dalam desain dan konstruksi pesawat terbang. Habibie menjadi 'permata' di negeri Jerman dan ia mendapat kedudukan terhormat, baik secara materi maupun intelektualitas oleh orang Jerman.

Selama bekerja di MBB Jerman, Habibie menyumbang berbagai hasil penelitian dan sejumlah teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang thermodinamika, konstruksi dan aerodinamika. Beberapa rumusan teorinya dikenal dalam dunia pesawat terbang seperti Habibie Factor, Habibie Theorem dan Habibie Method.

Merintis Pesawat Nasional di IPTN

Kendati demikian, Habibie tidak pernah melupakan Indonesia. Pada 1968, dia telah mengundang sejumlah insinyur asal Indonesia untuk bekerja di industri pesawat terbang Jerman. Sekitar 40 insinyur Indonesia akhirnya dapat bekerja di MBB atas rekomendasi Habibie. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan skill dan pengalaman insinyur Indonesia sebelum kembali ke Indonesia.

Pada awal Desember 1973, salah satu orang kepercayaan Soeharto, Ibnu Sutowo bertemu dengan Habibie di Dusseldorf, Jerman. Dia memberikan penjelasan kepada Habibie tentang rencana Soeharto mendirikan industri pesawat terbang di Indonesia. Saat itu juga Habibie menyatakan kesediaannya atas tawaran tersebut.

Pada 26 Januari 1974, Habibie dipanggil Soeharto ke Jakarta. Dari apa yang disampaikan oleh mantan Panglima Kostrad ketika itu, terlihat bahwa dia tidak main-main dengan rencana untuk membuat pabrik pesawat terbang.

"Habibie, Anda boleh minta apa pun, asal bukan makar saja," ujar Soeharto ketika itu untuk meyakinkan Habibie akan keseriusannya.

Saat itu juga, di usia 38 tahun, Habibie diangkat sebagai Penasihat Presiden di bidang teknologi. Meskipun demikian, dalam kurun 1974-1978, Habibie masih sering pulang pergi ke Jerman karena masih menjabat sebagai Wakil Presiden dan Direktur Teknologi di MBB.

Setelah melalui serangkaian persiapan, pada 26 April 1976, PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) secara resmi didirikan menggantikan Lipnur dengan BJ Habibie sebagai Direktur Utama. Ketika sarana fisik industri ini selesai, pada 23 Agustus 1976 Soeharto meresmikan industri pesawat terbang tersebut.

Lokasi IPTN tetap dipertahankan di area Lanud Husein Sastranegara, Bandung. Demikian pula dengan nama Marsekal Muda Nurtanio yang tetap dipertahankan.

Saat didirikan, IPTN cuma didukung 5 sarjana teknik, termasuk Habibie. Total karyawannya sekitar 500 orang. Jumlah ini secara bertahap bertambah hingga mencapai angka 16.000 karyawan pada pertengahan dekade 1990-an, termasuk 300-an sarjana teknik.

CN-235 Bernama Tetuko

Sesuai dengan misi awal bahwa Indonesia harus bisa melakukan alih teknologi, Habibie menegaskan IPTN bakal bekerja sama dengan pabrik pesawat terbang ternama di dunia yang sudah memiliki produk pesawat terbang unggulan. IPTN diharapkan bisa memproduksi pesawat terbang produk unggulan tersebut secara lisensi.

Bukan cuma jargon, IPTN pada 1976 memulai program produksi pesawat terbang NC-212 AvioCar dan helikopter NBO-105 secara lisensi. Cara ini juga dilaksanakan melalui suatu tahapan produksi yang dinamakan PMP (Progressive Manufacturing Plan).

Awalnya, 100% komponen pesawat terbang diimpor dari pabrik pembuatnya, yaitu CASA dan MBB. Untuk selanjutnya, dalam dua-tiga tahun berikut, IPTN secara bertahap mulai membuat sendiri komponen airframe (rangka pesawat terbang) sampai mencapai 100%.

Tahun berikutnya, program produksi sistem lisensi ini ditambah dengan model helikopter NSA-330 Puma dan NAS-332 Super Puma dari pabrik Aerospatiale dan NBell-412 dari pabrik Bell Technologies Inc.

Selanjutnya, Habibie mulai membuat rancang bangun dan memproduksi model pesawat terbang baru. Ia memakai sistem teknologi teruji, yaitu bekerja sama dengan pabrik pesawat terbang di dunia yang memiliki pengalaman mendesain dan memproduksi pesawat terbang. Pilihan mitra kerja sama jatuh pada CASA.

Sementara itu, Habibie mulai benar-benar fokus di IPTN setelah ia melepaskan jabatan di perusahaan pesawat Jerman MBB pada 1978. Sejak itu pula, dari 1978 hingga 1997, ia diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus merangkap sebagai Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Pada 1979, IPTN membuat perusahaan patungan bernama Airtech. Usaha ini pada 1983 menghasilkan desain pesawat CN-235, bermesin 2 turboprop CT-7 yang mampu membawa 35 penumpang.

CN 235 (Wikipedia)

Perubahan terjadi pada 1983, ketika PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio berganti nama menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Dengan pergantian ini pula, nama Nurtanio sebagai salah satu pionir penerbangan nasional mulai terlupakan.

Selanjutnya, CASA dan IPTN memproduksi CN-235 di pabrik masing-masing. Dua tahun kemudian, kerja sama ini membuahkan hasil dengan menerbangkan prototipe: P-1 Infanta Elena di CASA, dan P-2 Tetuko di IPTN.  

CN-235 kemudian memasuki era operasi komersial pada 1987 dengan dibentuknya PT Merpati Nusantara Airlines yang mengoperasikan pesawat CN-235-10 sebanyak 15 unit.

Selanjutnya: Syarat dari IMF...

3 dari 5 halaman

Syarat dari IMF

Meredup karena Badai Krisis

Pada tahapan selanjutnya, IPTN mulai membuat rancang bangun dan memproduksi sendiri model pesawat terbang baru dengan teknologi mutakhir. Untuk mencapai tahapan ini, Habibie pada 1989 mempersiapkan program N-230, yang akhirnya disempurnakan menjadi program N-250 pada tahun 1992.

Inilah program yang menghasilkan pesawat terbang model N-250 bermesin 2 turboprop GMA-2500 yang mampu mengangkut 50 penumpang. Prototipe PA-1 Gatotkaca diluncurkan keluar hangar pada 10 November 1994, persis di Hari Pahlawan.

Selanjutnya, pada 10 Agustus 1995 atau jelang HUT ke-50 RI, IPTN mempersembahkan penerbangan perdana (first flight) N-250 dengan pilot Capt. Erwin Danuwinata. Desainnya berubah menjadi lebih cantik dan sempurna, seperti N-250-100 yang mampu mengangkut 64-68 penumpang.

Istimewanya, pada penerbangan perdana N-250, Soeharto juga meresmikan program N-2130, yang akan menghasilkan desain pesawat jet bermesin ganda yang mampu mengangkut sampai 130 penumpang. Pesawat ini diharapkan akan membawa Indonesia sampai tahap kematangan teknologi dirgantara pada era milenium ketiga.

Sayang, program ini tak bisa dilaksanakan karena krisis ekonomi menghantam pada 1997. Bahkan, pengembangan N-250 juga kandas. Tetapi, paling tidak desain N-2130 dapat diselesaikan sampai pada tahap preliminary design.

Tak lama kemudian Habibie meninggalkan IPTN karena harus menjabat sebagai Wakil Presiden RI dan Presiden RI untuk periode yang singkat. IPTN makin tak terurus dan dilanda kemelut lantaran banyak faktor. Namun, produksi pesawat terbang nasional sejatinya tak pernah mati. Bahkan, Habibie kembali muncul setelah hampir 20 tahun seolah hilang dari dunia penerbangan Tanah Air.

Syarat dari IMF

Krisis ekonomi yang menghantam Indonesia pada 1997 telah membuat banyak sektor kelimpungan. Termasuk sektor industri pesawat dan pengembangan teknologi kedirgantaraan. Bahkan, PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) harus menyerah pada takdir bahwa era mereka memang sudah berakhir.

Berawal ketika pemerintah meminta bantuan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mengatasi krisis. Namun, pihak IMF memberi syarat bahwa IPTN harus ditutup atau menghentikan produksi. Kala itu IPTN sedang menggarap pesawat N-2130 yang terpaksa dihentikan karena krisis finansial. Selain itu, produksi pesawat andalan N-250 di tahun 1998 juga terpaksa tidak dilanjutkan.

Akibatnya banyak PHK terjadi di tubuh IPTN. Dari 16.000 karyawan dipangkas hingga hanya tinggal 4.000 karyawan saja. Produktivitas IPTN pun turun drastis. Utang yang terus menggurita hingga Rp 1,7 triliun serta perilaku korup membuat IPTN makin tenggelam.

Perusahaan hanya memproduksi rata-rata 12 pesawat per tahun sampai akhirnya mengalami kesulitan keuangan yang kronis. Bahkan, perusahaan sempat tak mampu membayar gaji dan pesangon karyawan yang kena PHK. Habibie yang sudah keluar dari IPTN tak punya energi lagi untuk membantu karena disibukkan oleh tugas barunya sebagai Presiden RI.

Setelah direstrukturisasi, IPTN kemudian berubah nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan diresmikan Presiden Abdurrahman Wahid yang menggantikan Habibie, pada 24 Agustus 2000 di Bandung, Jawa Barat.

Bisnis utama PT DI adalah memproduksi pesawat terbang dan helikopter yang dihasilkan oleh Direktorat Aircraft Integration yang didukung oleh 3 direktorat usaha lainnya.

Direktorat Teknologi dan Pengembangan bertanggung jawab dalam mengembangkan produk perusahaan, Direktorat Aerostructure membuat komponen produk PT DI maupun komponen pesanan dan Direktorat Aircraft Services melakukan perawatan purna jual terhadap pesawat produksi PT DI maupun pesawat lainnya.

Perusahaan pelat merah itu juga menjadi sub-kontraktor untuk industri-industri pesawat terbang besar di dunia seperti Boeing, Airbus, General Dynamic, Fokker dan lain sebagainya.

Selanjutnya: Habibie Tak Pernah Lelah

4 dari 5 halaman

Habibie Tak Pernah Lelah

Momentum Kebangkitan PT DI

Namun, karena dinilai tidak mampu membayar utang berupa kompensasi dan manfaat pensiun dan jaminan hari tua kepada mantan karyawannya, PT DI dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 4 September 2007.

Total aset perusahaan tahun 2006-2010 terus mengalami penurunan dan ekuitas negatif. Hal ini disebabkan oleh kondisi bisnis yang belum membaik dan akumulasi kerugian perusahaan yang besar.

Dengan kinerja bisnis dan keuangan yang tidak bagus, tingkat kesehatan perusahaan pada periode tersebut masih berkisar antara tidak sehat dan kurang sehat. Namun, jumlah karyawan tetap dan kontrak mengalami sedikit peningkatan dari 3.869 orang pada 2006 menjadi 4.174 pada 2011.

Tahun 2012 bisa dikatakan sebagai momen kebangkitan PT DI yang ditandai dengan mengirim 4 pesawat CN-235 pesanan Korea Selatan. Selain itu PT DI juga sudah menyelesaikan 3 pesawat CN-235 pesanan TNI AL dan 24 heli Super Puma dari Eurocopter.

Selain beberapa pesawat tersebut, PT DI juga sedang menjajaki untuk membangun pesawat C-295 (CN-235 versi jumbo) dan N-219, serta kerja sama dengan Korea Selatan dalam membangun pesawat tempur siluman KFX.

Pesawat N-219 sebagai salah satu produk kebanggaan PT DI adalah pesawat multi fungsi bermesin 2 yang dirancang dengan tujuan untuk dioperasikan di daerah-daerah terpencil. Hingga kini N-219 sudah dipesan sebanyak 100 unit untuk digunakan di dalam negeri.

Pembuatan pesawat berbadan kecil dan dapat mengudara dalam jarak pendek memang merupakan target PT DI. Hal ini difokuskan karena di Indonesia ada 715 bandara dan lapangan terbang perintis, namun 72% landasan pacunya hanya memiliki panjang di bawah 800 meter.

Pesawat yang dibuat dengan memenuhi persyaratan FAR 23 ini dirancang memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dan juga pintu fleksibel. Selain itu, pesawat ini terbuat dari logam dan dirancang untuk mengangkut penumpang maupun kargo.

Program pembuatan purwarupa sendiri memakan waktu selama 2 tahun dengan pengalokasian dana yang dibutuhkan sebesar Rp 300 miliar. N-219 melakukan uji terbang di laboratorium uji terowongan angin pada 2010 dan baru bisa diserahkan kepada pemesan pertamanya untuk diterbangkan sekitar 2014-2015.

Habibie Tak Pernah Lelah

Di tengah kebangkitan PT DI, pesaing kuat juga muncul yaitu PT Regio Aviasi Industri, produsen pesawat yang didirikan oleh BJ Habibie. Saat menghadiri National Innovation Forum (NIF) 2015 di Graha Widya Bakti Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten pekan lalu, Habibie sempat mempresentasikan salah satu produk pesawatnya yang diberi label R80.

BJ Habibie (Liputan6.com/Panji Diksana)

Pesawat tersebut merupakan pesawat penumpang berukuran sedang dengan kapasitas 80 hingga 90 penumpang. Keunggulan pesawat ini adalah waktu berputar yang singkat dan perawatannya yang terbilang lebih mudah dibanding pesawat-pesawat produksi pabrikan Amerika Serikat maupun Eropa.

Kehadiran R80 ternyata banyak menarik minat, termasuk dari Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang mengaku siap membantu dan mendukung produksi pesawat itu. "Ini seharusnya mendapat perhatian dan menjadi proyek nasional," ucap Jokowi.

Ini jelas kabar baik bagi industri penerbangan Tanah Air. Setelah dilanda badai, akhirnya industri masa depan ini kembali berkibar. Apalagi dengan kehadiran PT Regio Aviasi Industri yang bisa menjadi kompetitor bagi PT DI, harusnya bisa memacu keduanya untuk membawa Indonesia menuju teknologi masa depan di bidang penerbangan seperti yang dicita-citakan Nurtanio 75 tahun silam. (Dari berbagai sumber/Ein)



Artikel Selanjutnya
Pesawat N219 Buatan Anak Bangsa Sebagai Roda Penggerak Ekonomi
Artikel Selanjutnya
Pesawat N219, Kado Spesial Jelang HUT RI dari PT DI