Sukses

Amien Rais: Ibarat Matahari, Saya Sudah Sunset

Liputan6.com, Yogyakarta - Nama Partai Amanat Nasional memang tak dapat dilepaskan dari sosok Amien Rais. Sosok yang dijuluki lokomotif reformasi ini bersama puluhan tokoh mendeklarasikan partai berlambang matahari tersebut pada 23 Agustus 1998. Sejak itu Amien memimpin PAN hingga 2005. Mantan Ketua Umum Muhammadiyah itu kemudian didapuk sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Partai PAN hingga kini.

Kepiawaian politisi kelahiran Solo, 26 April 1944 itu di pentas politik nasional pun tak diragukan lagi. Mulai dari memimpin Muhammadiyah dalam rentang tahun 1995-2000 hingga menjadi Ketua MPR periode 1999-2004. Kini, politisi yang pernah dijuluki sebagai 'King Maker' oleh sebuah majalah itu kembali diuji dalam Kongres IV PAN pada 28 Februari hingga 2 Maret 2015 di Bali. Kongres untuk mencari Ketua Umum PAN yang baru.

Dua kandidat digadang-gadang untuk bertarung, yakni calon incumbent Hatta Rajasa dan Zulkifli Hasan. Kongres tersebut bahkan dinilai akan menjadi 'perang antarbesan'. Kandidat petahana Hatta Rajasa merupakan besan dari mantan Presiden ke-6 RI sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Sementara, kandidat Zulkifli Hasan merupakan besan dari Ketua MPP PAN Amien Rais. Benarkah demikian?

"Saya dikritik oleh beberapa kader PAN. 'Pak Amien kan Ketua MPP, masa wasit masuk ke dalam ring?' (Nah), Mana ada wasit yang nggak masuk ke dalam ring, toh...Justru wasit harus masuk ring," ujar Amien Rais dalam perbincangan khusus dengan Liputan6.com di kediamannya, kawasan Condong Catur, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Rabu 25 Februari 2015.

Sebagai wasit, Amien menjelaskan, wajar dirinya masuk untuk melihat pertarungan tersebut, terutama siapa yang akan mencapai ketua umum. "Saya tidak unggulkan incumbent (Hatta Rajasa). Saya hanya meletakkan dasar tradisi bahwa sebaiknya ketua umum cukup 5 tahun, satu periode."

Selanjutnya: Serahkan Jabatan...

1 dari 3 halaman

Serahkan Jabatan

Serahkan Jabatan

Amien Rais pun akan menyerahkan jabatannya saat ini, yakni Ketua Majelis Pertimbangan Partai kepada kader lain. Selanjutnya ia akan menjadi pembina partai saja. "Saya (sudah) 71 tahun. Kalau (ibarat) matahari, saya sudah lewat asar, sudah sunset. Sangat wajar dan masuk akal saya berikan Ketua MPP PAN, bukan saya lagi. Jadi berikan ke orang baru. Sesimpel itulah."

Terlepas dari siapa yang menang atau terpilih sebagai ketua umum dan ketua MPP yang baru, Amien Rais menilai ada 3 hal yang harus dilakukan PAN agar bisa meningkatkan kualitasnya. Yakni, reunifikasi, revitalisasi, dan regenerasi.

Jadi beberapa agenda 15 tahun lalu mungkin sebagian sudah usang direkonstruksi lagi. Kita lebih ke bawah lagi, (harus) jadi partai yang majemuk, tapi juga merakyat. Karena kita dikatakan partai menengah atau partai terpelajar. Jadi lebih ke bawah," urai Amien.

Ia pun menekankan PAN adalah milik para kader. "Saya bukan owner (pemilik PAN), (tapi) saya adalah founder (pendiri)," tukas Amien Rais.

Menurut Amien yang pernah maju sebagai calon presiden dalam Pilpres 2004, ia sempat berdialog dengan banyak kader PAN dari ujung barat hingga timur Indonesia, menanyakan keinginan mereka. Para kader ternyata ingin PAN lebih baik lagi. Apalagi selama 4 kali penyelenggaraan pemilu legislatif sejak 1999, PAN hanya bercokol di urutan ke-5 terus.

"Kita ingin PAN lepaskan diri dari rangking 5 itu supaya lebih besar lagi, katakanlah rangking ke-4, syukur-syukur rangking ke-3 (3 Besar Pemilu Legislatif). Supaya cita-cita reformasi yang masih banyak terkendala itu masih ikut ditangani, di-manage oleh PAN," papar sang lokomotif reformasi tersebut.

Selanjutnya: Persoalan Bangsa...

2 dari 3 halaman

Persoalan Bangsa

Persoalan Bangsa

Tak hanya soal partai, Amien Rais juga mengungkap soal hubungan dengan Soetrisno Bachir dan Prabowo Subianto. Termasuk kontroversi seputar dirinya saat Pilpres 2014 dan Koalisi Merah Putih.

Amien pun melontarkan kritik sekaligus memberikan masukan bagi pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. "Kalau saya boleh kasih masukan kepada Pak Jokowi dan Pak JK, makin lama makin baguslah, jangan makin lama makin kurang bagus."

Soal narkoba dan eksekusi terpidana mati, Amien memberikan apresiasi positif bagi pemerintahan Jokowi-JK. Langkah pemerintah dinilai sudah tepat.

"Saya tidak cocok dengan Pak Jokowi dalam beberapa hal, tapi kalau untuk hukuman mati ini saya kasih nilai 8, tegas. Karena narkoba itu membunuh generasi. Kemarin saya lihat anak saya Hanafi (Ahmad Hanafi Rais) di televisi. Ia mengatakan bahwa narkoba adalah the ultimate crime against humanity, jadi kejahatan puncak pada kemanusiaan adalah narkoba," jelas Amien.

Sebab, ada puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu anak menjadi 'mayat berjalan'. Amien menyitir ucapan Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Henry Yosodiningrat bahwa ada puluhan triliun rupiah uang yang berputar dalam dunia narkoba.

"Kalau Australia dan Brasil mau macam-macam, biar sajalah...Kita punya kedaulatan dan tunjukkan kita mandiri. Kalau tidak kita (Indonesia) dijadikan pasar narkoba," tegas Amien.

Mengakhiri perbincangan, mantan Ketua MPR ini menitip pesan kepada seluruh rakyat Indonesia agar bisa mandiri dan berdaulat dalam berbagai sektor kehidupan, terutama dalam bidang ekonomi.

Selengkapnya simak wawancara khusus dengan Amien Rais dalam video yang terbagi dalam 4 bagian di bawah ini:

(Ans)