Sukses

Kemenag Kembangkan Empat Tipe Madrasah Demi Tingkatkan Kualitas

Liputan6.com, Jakarta Untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas madrasah sehingga mampu menarik minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sana, Kemenag mengembangkan empat tipe madrasah.

Demikian disampaikan oleh Direktur Pendidikan Madrasah, Nur Kholis Setiawan kepada wartawan. Menurutnya, tipe pertama adalah Madrasah akademik yang aktifitasnya betul-betul penguatan akademik dan sains. Para siswanya diarahkan untuk mengikuti berbagai olimpiade sains sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan akademiknya.

Prototipe yang sudah dikembangkan adalah Madrasah Aliyah Insan Cendikia. Saat ini sudah ada tiga, yaitu di Serpong Tangerang, Gorontalo dan Jambi. Tipe madrasah unggulan ini akan dikembangkan ke 20 propinsi di seluruh Indonesia dengan target 2016, semuanya sudah menerima siswa baru.

Tipe kedua adalah madrasah vokasi. Nur Kholis menegaskan, madrasah vokasi memiliki kelebihan karena mampu menggabungkan antara pendidikan ketrampilan dan pendidikan karakter. Menurut penelitian The Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) yang menjadi mitra Dikbud dan Kemenag, kebutuhan tenaga kerja saat ini bukan hanya mengacu pada prestasi akademik, tetapi kejujuran, integritas.

“Kalau sudah bicara ini, madrasah yang bisa diunggulkan, sehingga kita punya selling point," kata Nur Kholis kepada wartawan di Jakarta, Selasa (2/12/2014)

Ia menjelaskan, konsep madrasah vokasi dibuat secara bottom up, mendekatkan diri dengan sentra-sentra usaha masyarakat, apalagi sebagian besar madrasah juga dikelola oleh masyarakat.

"Misalnya madrasah di Brebes, di situ ada petani bawang merah atau ada telor asin, kita dorong ke sana. Di Kudus, ada industri konveksi, kita melatih tata boga, tata busana, fashion. Di pesisir Jepara ada industri perikanan, kita dorong ke sana," ujarnya.

Saat ini sudah ada sejumlah titik lokasi madrasah yang akan dikembangkan dengan skema program untuk negeri atau bantuan untuk swasta.

"Kalau kita fasilitasi, bisa berhasil karena penyakit kita selama ini kan top down, borosin uang negara, tapi manfaatnya ngak jelas," imbuhnya.

Tipe ketiga adalah madrasah reguler. Ini merupakan pola in between. "Kalau ingin berkembang ke akademik, silahkan, nanti kekurangannya apa, prosesnya bagaimana, kita dukung, kita fasilitasi dengan bantuan-bantuan. Sebaliknya kalau dia ingin ke vokasi, kita dorong juga."

Tipe keempat adalah madrasah keagamaan. “Kiai-kiai kan sudah mbengok (berteriak) bahwa kita kekurangan kader ulama. Ngak mungkin 100 persen dihadirkan melalui kader pesantren.”

Menurutnya, kader ulama ini bisa diwujudkan oleh pesantren yang punya madrasah atau madrasah yang fokus pada kajian keagamaan yang mendalam.

“Orang tua punya pilihan. Kalau mau tafakkuh fiddien, ya yang tipe keempat. Mau yang saintis ya tipe yang pertama. Kalau mau siap dengan dunia kerja, ya tipe yang kedua,” jelasnya.

Mengenai kurikulumnya, semuanya sama. Perbedaannya adalah pada penguatan atau peminatannya. "Pengembangannya melalui kegiatan ekstrakurikuler atau dana pendampingan. Modelnya bisa pemagangan atau kemitraan,” jelasnya.

Salah satu langkah yang sedang dimatangkan adalah pemagangan dengan melibatkan berbagai perusahaan. "Misalnya dengan bank BRI, kami bisa buka pemagang dengan siswa madrasah pada bulan apa pada sekian hari sehingga mereka tahu operasional madrasah," katanya.

Sebenarnya pola yang sama sudah pernah dilakukan tetapi tidak efektif karena top down. Uang digelontorkan begitu saja, mereka terima uang tetapi manfaatnya kurang.

“Cara saya sekarang adalah mengkompetisikan, silahkan madrasah-madrasah yang sudah punya ikatan atau komunikasi dengan perusahaan pemagang, kita data lalu kita berikan insentif-insentifnya. Cara seperti itu saya kira akan lebih efektif,” tandasnya.

Video Populer

Foto Populer