Sukses

Siapa Menyadarkan Siapa?

Andai Karl Marx masih hidup, agaknya ia harus memperbaiki tesisnya. Negara ternyata tidak semata alat kaum borjuasi untuk mempertahankan dominasinya. Negara juga bisa jadi alat kaum fundamentalis. Ini sudah terjadi ketika perang atas terorisme dilancarkan pemerintahan George W. Bush. Pemerintahan Bush dikelilingi orang-orang fundamentalis Kristen yang mengusung politik neokonservatif.

Karena itu,  Tariq Ali, intelektual asal Pakistan yang kini mukim di Inggris, mengatakan yang sedang terjadi adalah benturan antarfundamentalisme – bukan antarperadaban sebagaimana dibayangkan Samuel P . Huntington. Kaum fundamentalis Kristen di sekitar Bush berperang dengan kaum fundamentalis Islam yang didefinisikan sebagai teroris.

Bush sudah pasti menolak klaim Ali. Dalam pidato resminya Bush selalu mengatakan dia tidak sedang memerangi Islam. Yang dia perangi adalah kaum teroris. Kebetulan saja agama yang dianut para teroris itu Islam. Tapi bantahan ini menjadi menggelikan ketika dia membabi buta menyerang negara-negara Islam seperti Afghanistan dan Irak dan melancarkan tuduhan poros setan pada dua negara Islam lainnya yakni Iran dan Suriah.

Agama di tangan kaum fundamentalis  berubah menjadi ideologi. Karena ideologi, agama tidak hanya digunakan sebagai sumber dan inspirasi nilai-nilai kebajikan, tapi juga menjadi dasar  pembenar untuk melakukan perubahan sosial – bila perlu dengan jalan kekerasan. Persis pada titik inilah agama sering menjadi bencana biang terorisme seperti dicatat oleh Charles Kimball dan Mark Jurgensmeyer.

Bush membayangkan kelak ada masyarakat dunia yang bebas dari orang-orang seperti Osama Bin Laden. Bin Laden yang menganut fundamentalisme Islam dan oleh Bush dituduh teroris juga punya bayangan tersendiri tentang masyarakat kelak. Yaitu, masyarakat dunia yang tanpa manusia seperti Bush.

Sampai kini benturan antarfundamentalisme ini belum juga berakhir. Tapi dunia sudah  dibuatnya porak-poranda. Kepercayaan dan keinginan bekerjasama di antara negara dan masyarakat dunia kini sulit didapatkan. Gonjang-ganjing dalam sistem finansial global dan ancaman atas pemanasan global begitu sulit mendapatkan konsensus bersama untuk dipecahkan.

Kalau Bush dan Bin Laden sedang ada di jalan sesat, siapa atau golongan manakah yang punya otoritas moral dan intelektual serta kelembagaan untuk menyadarkan mereka? Untuk Bush, karena ia memperalat negara AS, maka otoritas itu ada pada PBB. Untuk Bin Laden? Karena ia tidak bawa-bawa negara mana pun, maka itu adalah ulama.

Pengikut ajaran Ahmadiyah di Indonesia hari-hari belakangan ini sedang mengalami tuduhan sesat oleh sekelompok orang yang menggunakan lembaga MUI dan Bakor Pakem. Kalau mereka hendak disadarkan, maka kirimlah ulama, bukan politisi, apalagi milisi. Dan, negara tidak perlu ikut-ikutan supaya Marx tidak perlu memperbaiki tesisnya. Negara cukup menjalankan amanat konstitusi dan -- seperti Max Weber bilang -- menggunakan monopolinya atas penggunaan kekuasaan memaksa untuk menegakkan keamanan, ketertiban, dan keadilan.


Iskandar Siahaan
Kepala Litbang Liputan 6
    Artikel Selanjutnya
    Ketua MPR Kutuk Keras Aksi Teror di Mapolda Sumut
    Artikel Selanjutnya
    Menko Luhut: Idul Fitri Jadi Momentum Merajut Persatuan