Kisah Pengibar Bendera 17 Agustus 1945

on Aug 17, 2008 at 06:48 WIB

Liputan6.com, Jakarta: Kemerdekaan yang diraih Indonesia 63 tahun silam tentu tidak terlepas dari jasa para pejuang. Bukan hanya bertempur di medan perang, melainkan juga berperan dalam pengibaran Bendera Merah Putih pada 17 Agustus 1945. Dia adalah Ilyas Karim.

Pada reporter SCTV Mochammad Achir dalam Liputan 6 Pagi, Ahad (17/8), Ilyas Karim menjelaskan posisinya saat pengibaran bendera. "Sebagai pelepas bendera tepat di sebelah Fatmawati," kata Ilyas. Sementara sang pengerek bendera adalah Sudanco Singgih dan Latief Hadiningrat sebagai pemegang Bendera Pusaka.

Dikatakan Ilyas, situasi saat pengibaran bendera amat tenang. Orang-orang bertepuk tangan dan meneriakkan kata merdeka usai penaikkan bendera. Kemudian momen yang ditunggu tiba, pembacaan naskah Proklamasi oleh Soekarno. "Saat itu Jepang sudah mondar-mandir di Lapangan Banteng. Tapi dikawal tentara PETA tidak boleh masuk," ucap Ilyas menggambarkan keadaan.

Ilyas menyatakan kebanggaannya didaulat sebagai tim pengibar Sang Saka Merah Putih. Apalagi saat itu usianya masih 17 tahun. Sebenarnya tugas serupa setiap tahunnya dia lakukan ketika bersekolah di Tarbiyah, Banten. Namun alih-alih bendera RI, dia justru mengibarkan bendera Belanda untuk memperingati ulang tahun Ratu Yuliana.

Terlepas dari perannya di hari bersejarah itu, Ilyas menyayangkan sikap pemerintah. Hingga saat ini, pemerintah belum pernah memberikan penghargaan terhadap pejuang berusia 81 tahun ini. Namun ia tidak mempermasalahkannya. Ilyas hanya berharap generasi penerus betul-betul meneruskan yang telah dirintis para pejuang. "Laksanakan pemerintahan secara jujur, jangan sampai korupsi," tutur dia.(YNI/Mochammad Achir)

Suka artikel ini?

0 Comments