Sukses

Ketika Bumi dalam Hitungan Mundur


Liputan6.com, Jakarta:
Anda pasti sudah sering mendengar istilah pemanasan global, yang disebut-sebut sebagai ancaman terbesar terhadap manusia saat ini. Selain berdampak langsung terhadap kesehatan manusia, pemanasan global juga berpengaruh terhadap kondisi lingkungan dan masa depan bumi. Tidak heran Perserikatan Bangsa-Bangsa merasa perlu membahas masalah ini setiap tahunnya, seperti yang berlangsung di Bali sejak 3 Desember lalu [baca: KTT Perubahan Iklim Dibuka].

Pemanasan global tak lain "lampu merah" bagi kondisi bumi saat ini. Pertandanya tak sedikit. Mulai dari bongkahan es abadi di Kutub Utara maupun Kutub Selatan yang terus mencair dan menaikkan ketinggian permukaan laut, hingga seringnya terjadi badai dahsyat belakangan ini. Anehnya pula, wilayah lain malah dilanda kekeringan.

Fenomena alam memang makin tak dapat diprediksi dan belum ada penjelasan yang memuaskan untuk itu. Dari hasil penelitian para ilmuwan, perubahan iklim saat ini tak lain akibat pemanasan global, yang didefinisikan sebagai meningkatnya temperatur bumi, baik di atmosfer, laut, maupun daratan. Penyebabnya adalah apa yang disebut efek rumah kaca.

Efek rumah kaca adalah sebuah istilah lain. Untuk memahaminya, bayangkan sebuah rumah kaca bagi areal pertanian. Di sini sinar matahari masuk menembus kaca. Lalu kaca di ruangan menyerap dan menahan sinar. Hasilnya, suhu di dalam ruangan meningkat dan baik bagi tanaman yang ada di dalamnya.

Sama halnya dengan rumah kaca bumi, agar planet ini tetap hangat, terdapat lapisan di atas bumi berupa sekumpulan gas yang berfungsi menyaring dan memantulkan kembali sebagian sinar matahari ke atmosfer. Sifatnya transparan mirip kaca. Karena itu disebut rumah kaca. Tanpa gas ini suhu bumi diperkirakan berkurang sebanyak 33 derajat Celcius. Itu berarti rata-rata suhu bumi yang saat ini sekitar 16 derajat Celcius akan menjadi minus 17 derajat Celcius.

Masalahnya sekarang, jumlah gas yang membentuk rumah kaca di atas bumi makin memunculkan bahaya, terutama jumlah karbondioksida yang mencakup 80 persen dari total gas rumah kaca. Sehingga sinar matahari yang normalnya dipantulkan kembali dari bumi melewati lapisan itu tertahan dan kembali ke bumi [baca: Pemanasan Global Ancaman Bagi Dunia].

Penyumbang terbesar karbondioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, penggunaan kendaraan bermotor, dan dari kebiasaan kita sehari-hari menggunakan tenaga listrik. Emisi karbondioksida seharusnya dapat diserap oleh pepohonan. Namun, luas hutan juga semakin berkurang akibat penggundulan dan pembakaran.

Hari demi hari proses tersebut terus berlangsung. Sebagai akibatnya, bukan hanya udara yang semakin membuat gerah, namun juga ditandai oleh fenomena alam yang ekstrim. Perubahan iklim yang sedang berlangsung sekarang bisa jadi hanya sebuah awal dari bencana yang lebih dahsyat. Lantas, jika tak segera diantisipasi, apa jadinya bumi kita nanti?(ADO/Sondang Sirait)
    Artikel Selanjutnya
    Ketua MPR Kutuk Keras Aksi Teror di Mapolda Sumut
    Artikel Selanjutnya
    Menko Luhut: Idul Fitri Jadi Momentum Merajut Persatuan