by

Pasuruan Berdarah

  • Program Khusus
  • 0
  • 02 Jun 2007 00:26
Liputan6.com, Pasuruan: Panik, cemas, marah, serta bingung bercampur dalam jiwa warga Desa Alas Telogo, Kecamatan Lekok, Pasuruan, Jawa Timur pada Rabu (30/5) pukul 10.00 WIB. Suara desing peluru terdengar berbaur dengan hiruk pikuk kepanikan warga. Pada saat bersamaan, beberapa tubuh ambruk bersimbah darah. Situasi makin tak terkendali.

Beberapa warga mencoba menyelamatkan saudara, sahabat, dan tetangga yang roboh terkena peluru anggota TNI Angkatan Laut. Peluru tajam personel TNI AL telah mencabut nyawa Mistin, Rohman, Sutam, serta Dewi Khotijah. Tidak hanya orang dewasa yang terkena peluru, bayi berusia di bawah lima tahun juga jadi korban kearoganan personel Marinir.

Suasana tegang dipenuhi jerit tangis terjadi sesaat setelah pecah bentrokan antara warga dan tentara. Warga Alas Telogo yang panik berubah emosi. Nyali mereka tak lagi ciut. Bahkan, makian dan teriakan warga terus bergemuruh. Tujuan mereka satu: menuntut pertanggungjawaban atas insiden berdarah itu. Siang yang panas pun makin menyengat.

Warga yang sudah diliputi emosi kemudian bergerak ke jalan. Mereka memblokade jalan penghubung antara Pasuruan dan Banyuwangi. Warga menutup jalan dengan bebatuan dan batang-batang pohon yang lumayan besar. Jalan biasanya ramai lalu-lalang kendaraan pun mendadak sepi. Situasi di Desa Alas Telogo yang selalu tenang pun mendadak menjadi mencekam.

Polisi langsung terjun ke lokasi kejadian. Petugas berusaha menenangkan emosi warga yang sudah sampai ubun-ubun. Bahkan Bupati Pasuruan Jusbakir Aljufri pun harus turun tangan. Warga akhirnya mau membuka blokade. Namun sejumlah polisi terus berjaga-jaga. Polisi juga mengalihkan ke jalur alternatif seperti simpang Semambung, Kecamatan Grati.

Bentrokan berdarah antara warga dan TNI AL yang berujung hilangnya nyawa empat warga adalah bagian dari rentetan kisah pajang sengketa tanah di Kecamatan Grati dan Lekok. Pada tahun 1960, TNI AL membeli tanah di kawasan ini seluas 3.500 hektare keperluan pusat pendidikan. Namun kala itu warga tak segera pindah dari lokasi yang telah dibeli.

Bahkan secara turun temurun warga malah menggarap sebagai lahan pertanian. Pada tahun 1984, lahan tersebut oleh TNI AL disewakan kepada PT Grati Agung untuk perkebunan tebu. Selanjutnya pada 1993, Badan Pertanahan Nasional menerbitkan sertifikat terhadap 14 bidang pada lahan itu. Namun warga Alas Telogo tetap saja tidak mau untuk pindah.

Pada November 1999, warga berupaya mendapatkan kembali tanah yang dibeli Marinir ke Pengadilan Negeri Pasuruan. Namun upaya sia-sia. Warga kalah. Awal Februari 2007, warga protes meminta musyawarah pimpinan daerah (muspida) persoalan yang melibatkan warga dengan Marinir. Dan, tiga bulan kemudian tragedi berdarah di Alas Terlogo meletus.

Sehari setelah bentrokan, suasana Desa Desa Alas Telogo tampak lengang. Tak banyak aktivitas yang dilakukan warga. Mereka masih larut dalam duka. Sepanjang jalan desa banyak dijumpai kibaran bendera Merah Putih setengah tiang tanda berduka. Insiden ini juga menyisakan kepedihan. Bahkan, sejumlah warga mengalami trauma mendalam hingga stres.

Sejumlah warga sibuk menyiapkan prosesi pemakaman empat korban tewas. Ratusan warga mengikuti prosesi pemakaman para korban. Dengan khidmat, warga melepas Mistin, Rohman, Sutam, serta Dewi Khotijah ke liang lahat. Sebuah harapan dan doa dipanjatkan kepada Tuhan. Isak tangis dan derai air mata keluar dari keluarga dan kerabat yang ditinggal.

Usai pemakaman, warga kembali marah. Kali ini sasaran meraka adalah Bupati Jusbakir Aljufri. Pasalnya orang nomor satu di Kabupaten Pasuruan ini tak hadir dalam acara pemakaman korban. Bentuk kekecewaan warga dilampiaskan dengan kembali memblokir jalan utama Pasuruan dan Banyuwangi dengan cara menaruh pohon dan batu. Jalan kembali macet.

Bukan hanya warga, sejumlah kalangan mengutuk insiden ini. Kalangan DPR menilai, peluru tajam yang digunakan tentara memang tak dapat dihindari karena mereka memang dilatih untuk berperang. Namun demikian Joko tetap mengusulkan hukuman yang tegas terhadap TNI AL. Bahkan dia meminta agar Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto juga dicopot.

Kecaman juga datang dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang menyebutkan adanya indikasi pelanggaran HAM dalam peristiwa ini. Sementara, Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Usman Hamid menyatakan, Presiden harus turun tangan untuk menyelesaikan kasus yang menewaskan empat warga Pasuruan ini.

Sementara itu Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama K.H. Hasyim Muzadi yang menengok kondisi para korban di Rumah Sakit dokter Sudarsono Purut menilai aksi yang dilakukan anggota Marinir sebagai tindakan yang dholim. Menurut dia, PB NU akan membentuk tim advokasi hukum untuk memberi bantuan kepada para korban baik tewas maupun luka-luka.

Buntut dari insiden ini, Komandan Korp Marinir Mayor Jendral Safzen Noerdin mencopot Wakil Komandan Pusat Latihan Tempur Marinir Mayor Husni Sukarwo. Sementara 13 Marinir yang terlibat penembakan warga Alas Telogo ditetapkan sebagai tersangka. Mereka ditahan di Markas Polisi Militer AL Surabaya [baca: Tiga Belas Marinir Ditetapkan Sebagai Tersangka].

Penyelidikan tragedi Pasuruan terus dilakukan. Rumah Kothijah dinyatakan sebagai salah satu tempat kejadian perkara. Beberapa bekas tembakan terlihat di tembok rumah salah seorang korban tewas ini. Bukti ini mementahkan alasan kalau Marinir tidak menembak langsung ke arah kerumuan warga [baca: Panglima TNI: Peluru yang Ditembakkan Memantul].

Beberapa korban luka dalam kejadian ini dirawat intensif Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang. Salah satunya, Choirul Anwar. Balita berusia tiga tahun ini terluka tembak di dada. Sebuah harapan dan doa dipanjatkan kepada Tuhan agar proyektil peluru yang bersarang di dada Choirul dapat dikeluarkan di meja operasi.(JUM/Tim Derap Hukum)

Comments
Sign in to post a comment