Sukses

Di Darat Ada Hutan, Di Laut Ada Terumbu Karang

Liputan6.com, Makassar: le="font-style: italic;">Speedboat membelah ombak Selat Makassar, baru-baru ini. Perahu mesin ini membawa seorang pakar kelautan dan perikanan Universitas Hasanuddin, dua peneliti dari Pusat Penelitian Terumbu Karang Unhas dan tim Potret. Rombongan kecil ini bergerak ke arah Pulau Samalona, sekitar satu jam perjalanan air dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Speedboat berhenti di sebuah titik. Tepatnya di salah satu terumbu karang. Para penumpang turun bergantian melihat kondisi terumbu karang di paparan Pulau Samalona dan mengamati hasil rehabilitasi karang model biorock. Kegiatan rehabilitasi ini adalah kerja sama antara Pusat Penelitian Terumbu Karang Unhas serta Departemen Kelautan dan Perikanan sejak enam bulan silam.

Penyelaman ini ibarat membuka jendela dan menatap hamparan terumbu karang. Bila di darat ada hutan, di laut kita akan mendapati terumbu karang. Hutan dan terumbu karang memiliki peran yang sama bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Bahkan, terumbu karang memiliki fungsi spektakuler: menyimpan catatan sejarah kehidupan bumi sejak ratusan silam. Di luar itu, terumbu karang memiliki fungsi ekologis, ekonomis dan juga estetika.

Ironisnya, tingkat kerusakan terumbu karang di Tanah Air yang memiliki luas sekitar 51.000 hektare mencapai 70 persen. Faktor penyebab kerusakan adalah alam, perilaku manusia dan pemanasan global. Entah apa yang bakal terjadi jika tidak ada rehabilitasi. Yang pasti bumi tidak lagi memiliki pencatat sejarah dan pengingat peristiwa alam di masa depan.

Di bawah kedalaman laut yang biru membentang ragam kehidupan yang diperlihatkan melalui tarian tumbuhan dan hewan-hewan. Jutaan polip berseliweran berjuang membangun karang. Setelah menjadi koloni, terbentanglah terumbu laksana hutan di daratan.

Cerita tentang rehabilitasi terumbu karang adalah cerita tentang pakar kelautan dan perikanan serta para peneliti terumbu karang yang menghabiskan banyak hari di tengah laut. Pakar kelautan dan perikanan itu adalah Aidah A.A. Husain. Sedangkan peneliti terumbu karang adalah Halwi Temu dan Amarullah Saleh. Ketiganya menjadi bagian dari Pusat Penelitian Terumbu Karang Unhas. Mereka banyak melakukan penelitian dan rehabilitasi terumbu karang di berbagai tempat.

Di Paparan Pulau Samalona dan Barrang Caddi, tim ini membuat proyek percontohan rehabilitasi terumbu karang. Mereka menerapkan model berbeda untuk rehabilitasi terumbu karang yakni biorock di Samalona dan transplantasi di Barrang Caddi. Namun dengan satu tujuan: yakni memancing polip membangun karang hingga menjadi sebuah koloni.

Aidah menjelaskan, sebenarnya makhluk hidup yang bersemayam di dalam karang adalah sebuah sel hidup bernama polip. Untuk bisa hidup polip bergantung pada hewan laut lain bernama zooxanthella yang seakan berfungsi sebagai gudang beras. Hubungan polip dan zooxanthella atau autotropik menghasilkan proses fotosintesa dan respirasi. Sedangkan untuk pasokan protein dan sumber energi lain didapat dari proses heterotropik melalui plankton atau sumber nutrin lain.

Dengan dukungan zooxanthella dan pasokan nutrin itu polip pun memiliki kekuatan untuk membangun rumah yang disebut karang. Pada akhirnya karang-karang itu menjadi bagian dari sebuah ekosistem perairan pantai yang dinamis namun rentan terhadap perubahan lingkungan bernama terumbu karang.

Terumbu karang di Indonesia dalam kondisi cukup memprihatinkan. Menurut Aida, dari sekitar 50 ribu meter persegi terumbu karang yang tersebar di berbagai perairan di Tanah Air, Coremap dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mencatat 70 persen di antaranya rusak berat.

Tidak semua terumbu karang rusak dapat direhabilitasi. Khusus untuk kerusakan terumbu karang yang terjadi di paparan Pulau Samalona, Pusat Penelitian Terumbu Karang Unhas dan Departemen Kelautan setempat membenamkan sebuah kerangka besi bernama biorock sejak enam bulan silam.

Proses rehabilitasi model biorock merupakan pengembangan dari penelitian Thomas J. Goreau dan Wolf H. Hilbertz lima tahun lampau. Caranya dengan membuat terumbu buatan dari besi yang dibentuk seperti iglo atau kerucut. Kerangka besi berfungsi sebagai katoda dalam proses elektrolisasi air laut. Sedangkan kawat-kawat berbentuk jala menjadi anoda.

Untuk mendukung efek elektrolisasi, katoda dan anoda ini mendapat pasokan listrik sebesar 12 volt dari kabel yang dihubungkan ke solar sel di Pulau Samalona. Efek elektrolisasi itu diharapkan membuat kalsium karbonat lebih cepat mengapur. Enam bulan sebelumnya, Halwi Temu dan peneliti lain memasang sebuah koralit karang yang dipotong dari sebuah koloni karang dan diikat pada besi bermuatan katoda listrik ini.

Ternyata upaya para peneliti menunjukkan hasil yang lumayan menggembirakan. Enam bulan setelah masa pembenaman biorock iglo dan penempelan karang, Aida mencatat terjadi peningkatan panjang karang rata-rata 1 sentimeter. Menurut dia, peningkatan kecepatan tumbuh ini terbilang lima kali lebih cepat dari biasanya. Ini membuktikan efek elektrolisasi benar-benar bisa mempercepat proses pengapuran.

Proses rehabilitasi dengan model biorock berbentuk kerucut juga menunjukkan hasil positif. Ikan-ikan laut, meski yang terbilang kecil, mulai riang bermain di dalamnya. Hal ini membawa harapan bagi para nelayan. Aida menambahkan, manfaat besar karang akan benar-benar terasa setelah karang-karang scleractina ini menjadi sebuah terumbu yang juga memberikan nilai ekologis dan estetika serta fungsi perlindungan terhadap pulau di dekatnya.

Di Pulau Barrang Caddi, para peneliti melakukan model transplantasi. Kegiatan model transplantasi ini dikembangkan pakar kelautan dan perikanan Unhas bernama Syafyudin Yusuf dan Konsorsium Mitra Bahari.

Pulau Barrang Caddi bersama Pulau Barrang Lompo merupakan Kepulauan Spermonde yang dikenal sebagai kawasan terumbu karang dengan keanegaragaman karang yang cukup tinggi. Tercatat ada 78 genera dan subgenera dengan total spesies 262 jenis scleractini di sini.

Aktivitas penduduk di tempat ini terbilang tinggi sehingga ancaman kerusakan terumbu karang pun tinggi. Beruntung ada sebuah perusahaan budi daya karang yang menjadikan kawasan ini sebagai daerah perlindungan laut. Ini membuat ekosistem terumbu karang di kawasan ini lebih terlindung. Bahkan penduduk di Pulau Barrang Caddi pun dipicu ikut menjaga, mengembangkan serta meraih nilai ekonomis dari sebuah karang.

Antropogenic atau prilaku manusia yang dengan sengaja melakukan pemboman atau pembiusan dengan sianida atau menambang langsung karang yang sudah jadi menjadi ancaman kerusakan terumbu karang di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, ancaman penyakit dan predator di dalam laut ternyata ikut memberikan andil pada kerusakan terumbu karang. Ikan kepe-kepe, ikan burung kakatua, bintang laut hingga bulu babi adalah contoh para predator.

Di luar itu ada juga organisme pengebor yang ikut andil mengurangi koloni terumbu karang. Ancaman terberat adalah pemanasan global yang ditimbulkan rumah kaca yang membuat suhu laut meningkat tajam di luar batas aman suhu untuk terumbu karang antara 18 hingga 28 derajat Celsius. Hasil akhir dari pengerusakan itu adalah hilang atau keluarnya zooxanthella yang sebenarnya merupakan gudang beras bagi polip sehingga polip kelaparan, memucat lalu memutih atau bleaching kemudian mati.

Di Pulau Barrang Caddi, para peneliti melakukan rehabilitasi model transplantasi atau pencangkokan karang dengan mengikatkan di sebuah rak di dasar laut. Tujuannya untuk memulihkan atau membentuk terumbu karang alami.

Proses rehabilitasi model transplantasi ini diawali dengan memotong sebuah koralit karang. Setelah karang ditempelkan di atas sebuah subtrat yang merupakan campuran semen dan batu apung. Bagian tengah substrat dilubangi untuk meletakkan pragmen karang. Setelah itu para pembudi daya karang mengikatkan karang di atas sebuah rak besi.

Menurut aktivis Coremap, yang mendampingi Aidah, pertumbuhan karang cangkokan cukup terlihat. Paling tidak lebih cepat dibandingkan karang yang dibiarkan hidup secara alami. Di laut sedalam sekitar lima meter, Aidah dan Ulla menyaksikan sejumlah rak besi dengan substrat berisi karang yang mulai memanjang. Lima bulan ke depan, karang-karang ini dipasarkan untuk kebutuhan hiasan akuarium.

Aida, Ulla, dan Halwi kemudian bergerak ke tubir paparan Pulau Barrang Caddi. Di tempat ini mereka melakukan pengukuran atau transek line untuk melihat populasi karang pada jarak tertentu.

Catatan menarik tentang terumbu karang di tempat ini adalah masih banyak terumbu karang dengan keanekaragaman spesies yang benar-benar memanjakan mata. Sejauh mata memandang hanya terlihat warna-warni alga yang melapisi setiap karang. Bahkan ikan-ikan hias berkeliaran bebas seakan ikut menikmati keindahan kawasan pemukiman polip ini.

Buah dari pertumbuhan karang adalah terumbu karang yang bukan lagi menjadi surga bagi biota laut dan menghadirkan keindahan laut yang sebenarnya. Namun, terumbu karang yang kian kokoh akan memperluas zonasinya sehingga ia pun menjadi pelindung pulau yang ada di belakangnya.

Seperti hutan yang menjadi pemasok oksigen terbesar dan paru-paru kehidupan di atas bumi demikian juga dengan terumbu karang bagi kehidupan di laut. Makin memutih terumbu karang akibat tangan-tangan manusia, predator atau pemanasan global tentu saja membawa kerugian yang teramat sangat. Sebab dampak akhirnya juga akan terasa pada manusia yang bukan hanya kehilangan sumber ekologi, ekonomi dan estetika, tapi sang pelindung kehidupan di daratan ikut lenyap.

Lebih dari itu, manusia akan kehilangan kekayaan nan tak ternilai. Yakni pencatat sejarah perjalanan bumi. Karena ternyata bila sebongkah terumbu karang dibelah maka akan mengungkap usia daratan di dekatnya sekaligus catatan peristiwa alam yang pernah terjadi. Maka sangat merugi bila sang pelindung dan pencatat sejarah kehidupan bumi ini hancur.(TNA/Tim Potret)
    Artikel Selanjutnya
    Cerita Buwas soal Anak Buahnya Tak Libur di Idul Fitri
    Artikel Selanjutnya
    Ekor Kemacetan di Tol Jakarta-Cikampek Sampai Cawang