Jenazah Guntur Ditemukan

on Feb 27, 2007 at 18:32 WIB

Liputan6.com, Bekasi: Mochammad Guntur Syaifullah, Juru Kamera SCTV yang tenggelam di perairan Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (27/2) petang, ditemukan seorang nelayan yang menyisir perairan bersama wartawan Global TV, sekitar dua kilometer dari Dermaga Muara tersebut.

Reporter SCTV Bimo Cahyo melaporkan, korban yang diduga Guntur mengenakan kemeja lengan panjang dan celana biru. Hal yang menguatkan, ditemukan surat izin mengemudi (SIM) C atas nama Mochammad Guntur pada kantung celana jenazah.

Jenazah saat ini tengah dibawa ke Dermaga Muara. Sementara belum ada pihak keluarga Guntur yang menuju ke Ditpol Airud. Sebab jenazah yang ditemukan rencananya akan dibawa ke terminal penumpang Tanjungpriok, Jakarta Utara, tempat keluarga menunggu.

Guntur tenggelam ketika meliput bangkai Kapal Levina I di perairan Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat. Korban diduga tenggelam karena tak bisa berenang. Saat itu, Guntur juga berusaha menyelamatkan kamera sewaktu berusaha menggapai tali yang dilempar kapal penyelamat [baca: Guntur Berusaha Menyelamatkan Kamera].

Pencarian terhadap jenazah Guntur sudah dihentikan sejak pukul 16.00 WIB karena cuaca tak mendukung dan angin yang kencang. Selain itu, kondisi di dasar laut menurut seorang penyelam dari Global Rescue, membahayakan regu penolong karena bahan bakar Kapal Levina I sudah bocor.

Di kediaman Keluarga Guntur di kawasan Klender, Jaktim, keluarga dan kerabat menggelar doa bersama. Sementara kerabat Guntur yang berada di Pelabuhan Tanjungpriok menyempatkan diri melaksanakan salat sunah dan doa.

Guntur yang lahir di Metro, Lampung Tengah, 11 Maret 1961, meninggalkan seorang istri, Siti Maimunah, 39 tahun, dan tiga orang anak, Deviana Pratami Putri, 17 tahun, Ivan Fausta Ramadhan, 13 tahun, serta Tristania Putri Salsabila, 7 tahun. Kamerawan senior ini bergabung dengan SCTV sejak 12 Februari 1996.

Pemimpin Redaksi Liputan 6 SCTV, Rosianna Silalahi, menyatakan duka yang mendalam atas kepergian Mochammad Guntur. "Kami bukan hanya kehilangan rekan kerja yang berdedikasi loyal, melainkan juga seorang saudara," ujar Rosi. Saat ini, kata Rosi, pihaknya terus memberikan dukungan sebesar mungkin bagi keluarga almarhum.

Kepergian Guntur saat bertugas menambah duka keluarga besar Stasiun Televisi Satu untuk Semua. Sepuluh tahun silam, dua jurnalis televisi ini, Ferdinandusius dan Yance Iskandar, meninggal dalam kecelakaan jatuhnya pesawat Garuda di Desa Buah Nabar, Sibolangit, Sumatra Utara. Keduanya gugur saat hendak meliput bencana asap.(BOG/Tim Liputan 6 SCTV).
Suka artikel ini?

0 Comments