Sukses

Tungku Batu Bara, Sebuah Kompor Alternatif

Liputan6.com, Jakarta: Berawal dari ketertarikan terhadap energi batu bara, Ladjiman Damanik memulai usaha briket batu bara sejak 10 tahun silam. Kala itu, bisnisnya tak terlalu menggiurkan. Memasak dengan briket batu bara kalah bersaing dengan minyak tanah yang harganya masih murah.

Namun kini, situasi berubah. Seiring melonjaknya harga minyak tanah yang mencapai Rp 3.000 per liter di tingkat konsumen, usaha Damanik kembali bergeliat. Apalagi pemerintah berencana menggalakkan penggunaan energi alternatif termasuk kampanye penggunaan tungku batu bara [baca: Sejuta Kompor Batu Bara Dipasarkan Tahun Depan].

Menurut Damanik, memasak dengan tungku batu bara tak jauh berbeda dibandingkan memasak dengan kompor biasa. Pengguna bisa langsung memasukkan briket batu bara kering ke dalam tungku. Bisa ditambahkan pula beberapa keping lain yang telah direndam dalam minyak tanah guna memudahkan pembakaran. Setelah menyala, acara memasak pun bisa dimulai.

Setiap satu kilogram briket batu bara yang dijual seharga Rp 1.200 dapat digunakan untuk memasak selama tiga jam. Sedang tungku yang digunakan dibanderol Rp 35 ribu untuk yang terbuat dari tanah liat. Sementara kompor berbahan seng bisa dibeli seharga Rp 50 ribu.

Tungku batu bara, jelas Damanik, sangat cocok digunakan untuk industri kecil dan besar karena bisa dipakai untuk jangka waktu lama. Kompor ini kurang cocok untuk memasak makanan-makanan kecil. Pasalnya, jika sudah dimatikan butuh waktu lama untuk menyalakannya kembali.(TOZ/Winny Arnold dan Daeng Tanto)

    Artikel Selanjutnya
    Pada Hari Lebaran, Dua Kecelakaan Terjadi di Tol Cipali
    Artikel Selanjutnya
    Cerita Buwas soal Anak Buahnya Tak Libur di Idul Fitri