Puncak Lawang nan Rancak

  • Sosial & Budaya
  • 0
  • 01 Okt 2005 09:20

011005ajalan.jpg
Liputan6.com, Bukittinggi: Pengunjung Puncak Lawang, Bukittinggi, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, akan disergap dingin saat pertama kali menjejakkan kaki. Daerah berbukitan yang hijau lagi rimbun ini memang terletak sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Sejauh mata memandang, bertebaran pepohonan liar dan tetumbuhan tebu yang dikelola penduduk.

Dari atas Puncak Lawang, terbentang Danau Maninjau yang menganga lebar di bawahnya. Air danau yang kebiru-biruan menghadirkan keelokan yang menakjubkan. Di sekeliling danau, berderet Bukit Barisan yang membuat Danau Maninjau makin rancak. Namun pemandangan yang elok ini akan sirna bila turun hujan di Puncak Lawang. Soalnya kabut tebal akan menghalangi pandangan.

Hanya sedikit yang tahu, Puncak Lawang merupakan salah satu daerah terbaik di Asia untuk olahraga paralayang. Pasalnya, tempat ini memiliki tekanan udara, ketinggian dan topografi yang mendukung kegiatan paralayang. Pecinta paralayang bahkan dapat terbang terus-menerus selama empat jam sambil menikmati indahnya Danau Maninjau yang terletak sekitar 38 kilometer dari Bukittinggi.

Wisatawan yang berminat berparalayang dapat menjajal olahraga menantang ini. Di tempat ini tersedia parasut yang disewakan klub paralayang setempat. Pemula akan mendapat bimbingan dari instruktur yang berpengalaman. Sebelum terbang, ada beberapa persiapan yang harus dilakukan. Misalnya memeriksa parasut yang akan digunakan agar dapat mengembang sempurna. Selain itu, penikmat juga harus memperhitungkan kecepatan, arah angin dan tekanan udara. Selain itu, ada briefing singkat persiapan mendarat nanti.

Untuk mengendalikan arah parasut ke kiri maupun ke kanan, pengguna cukup menarik tali kemudi sesuai arah yang diinginkan. Di samping itu, untuk memudahkan pengguna, parasut dilengkapi tempat duduk yang berguna buat membantu bila pendaratan tak mulus. Barangkali yang paling mendebarkan adalah sewaktu mendarat. Wisatawan mungkin saja salah mendarat dan tercebur ke Danau Maninjau.

Jika nyali tak cukup tebal untuk mengangkasa, ada baiknya mencoba gula merah khas Puncak Lawang. Di Nagari Lawang ini sebagian besar penduduk mengandalkan hidupnya dari industri gula merah. Warga setempat masih menggunakan cara tradisional dalam membuat gula merah dari pohon tebu yang banyak tumbuh di daerah ini.

Mulanya tebu yang tua dan matang diperas airnya di mesin kilangan. Mesin kilangan ini digerakkan seekor kerbau berkacamata dari tempurung. Mata kerbau ditutup agar hewan ini tak pusing karena harus berjalan berkeliling. Air tebu lalu dimasak dengan kuali besar dalam tempo empat jam. Untuk menghidupkan api, selain menggunakan kayu, digunakan juga sisa ampas tebu.

Setelah air tebu mendidih--ditandai dengan warna kecoklat-coklatan--sebuah cetakan dari kayu telah disiapkan. Hanya dibutuhkan waktu lima menit untuk membuat gula merah siap dikomsumsi atau dijual. Jika tak mau membuat sendiri gula merah khas Lawang, tinggal merogoh uang Rp 3.000 pengunjung bisa membawa pulang sekilo gula merah. Sekedar catatan, satu kuali besar mampu menghasilkan 15 kilogram gula merah.

Bosan di Nagari Lawang, coba turun ke Danau Maninjau. Salah satu jalan buat mencapai danau ini adalah jalan Kelok Ampek-ampek atau Kelok 44. Jalan raya yang dibangun pemerintah kolonial Belanda itu berkelok-kelok dan curam. Turis harus berhati-hati menelusuri jalan ini karena mobil dapat terperosok bila ceroboh mengemudi.

Danau Maninjau tak cukup dinikmati sehari saja sebab banyak obyek atau kegiatan yang harus dinikmati. Wisatawan dapat berenang, memancing dan menyaksikan nelayan setempat yang masih menggunakan peralatan sederhana saat menangkap ikan di tengah danau. Pengunjung juga bisa mengelilingi danau dengan sepeda yang disewakan Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per jam. Untuk itu, pengunjung dapat bermalam di hotel atau penginapan yang letaknya persis di tepi danau. Tarifnya, sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 125 ribu per malam.

Para turis juga dapat singgah ke rumah Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka di Tanah Sirah, Sungai Batang, Maninjau. Di rumah yang kini dijadikan museum , terdapat berbagai barang peninggalan ulama kelahiran 16 Februari 1908. Antara lain foto, toga, kursi, tempat tidur dan ratusan buku karya Buya Hamka. Pengunjung dapat menikmati karya besar Hamka yakni buku Tafsir Al Azhar. Ulama sekaligus sastrawan ini menghasilkan karyanya itu kala dipenjara rezim Soeharto. Sayangnya koleksi di museum ini perlu ditambah karena tak menggambarkan perjuangan Hamka secara keseluruhan.

Sekitar 15 kilometer dari Danau Maninjau, terdapat sarasah atau air terjun tujuh tingkat. Untuk berkunjung ke sarasah, wisatawan harus berjalan kaki menembus hutan. Hati-hati terhadap daun jelatang! Tumbuhan ini bila tersentuh akan membuat kulit tubuh gatal-gatal. Ada baiknya pengunjung menyiapkan sepatu khusus tracking mengingat medan yang harus ditempuh cukup sulit.

Awalnya medan yang ditelusuri tak terlampau berat. Tapi makin jauh ke tengah hutan, jalan yang ditempuh makin licin dan lembab. Soalnya, cahaya matahari susah menembus areal ini. Pengunjung juga harus melewati air sungai yang jernih airnya. Inilah salah satu medan yang menyenangkan. Setelah menempuh sekian lama, wisatawan dapat menikmati sarasah yang masih alami. Airnya jernih dan segar. Sepanjang tahun, air yang bermuara ke Danau Maninjau ini tak pernah kering. Warga memanfaatkan air buat mengairi persawahan mereka. Pecinta tracking sejati sepertinya harus mencoba sarasah yang tergolong perawan ini.(MAK/Grace Natalie)
Terpopuler